Gaj Ahmada dan Kematian Ilmu Pengetahuan

Oleh: Wahyudi Akmaliah

 

Akhir-akhir ini saya merasa beruntung pernah kuliah di IAIN (UIN) Sunan Kalijaga. Ini karena, tidak adanya upaya pengkoreksian sejarah yang menjadi viral di media sosial sebagai upaya untuk mengislamkan kampus UIN. Karena memang sudah kampus Islam. Tapi, kalau diejek sih sudah sering, mulai dari pembalikan nama dari Sunan Kalijaga menjadi Jaga Kali, hingga pertanyaan "sebelah mananya Perempatan KFC". Bahkan, orang kampus tersebut sering menyebut kampusnya sebagai UIN SUKIJO, yang sering diplesetkan dengan Burjo.

Nah, sekarang kalau orang bertanya di mana kampus Gaj Ahmada dan merasa tersesat, tunjukkan saja arah kampus UIN Sunan Kalijaga. Ini karena, ada banyak orang yang memiliki nama depan "Ahmad", meski tidak banyak yang bernama "Ahmada" di sana, apalagi dengan nama depan Gaj. Temuan terbaru yang merupakan hasil dari riset Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah itu menjadi bukti baru yang tidak terbantahkan. Saya sebut tidak terbantahkan karena menjadi viral yang dibagikan oleh banyak orang.

 

Di sini, saya mulai mengerti bahwa di era media sosial ini ternyata banyak temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Yang lebih menarik, temuan itu dilakukan tidak melalui verifikasi dan pembuktian melalui perdebatan di forum akademik ataupun jurnal-jurnal ilmiah internasional, yang sebelumnya didapatkan melalui proses riset yang panjang. Pengetahuan ilmiah itu dapatkan dan dibuktikan dengan perasaan dan bukti keberagamaan yang kuat bahwa ada yang salah dengan bukti sejarah dan ilmiah saat ini.

Tidak heran, saya akhirnya mengetahui bahwa Borobudur itu temuan dari Nabi Sulaeman. Bumi itu datar. Vaksin itu konspirasi Yahudi, yang mengandung elemen babi. Di sisi lain, vaksin tidak ada era Nabi Muhammad. Lebih keren lagi adanya temuan mesin tes DNA yang dapat membuktikan untuk mengetahui apakah orang itu berideologi Komunis atau bukan. Temuan-temuan tersebut merupakan pembuktian terbaik di abad ini karena telah mematahkan argumen dunia internasional. Jika saja, temuan-temuan itu dituliskan ke dalam bahasa Inggris dan kemudian dijadikan viral oleh celebritis media sosial, saya dengan sangat yakin (haqqul yakin), putera-puteri terbaik Indonesia akan mendapatkan hadiah Nobel.

Ya, inilah era kematian pakar. Semua orang bisa disebut peneliti dan ahli di bidang tertentu hanya dengan menggenggam telepon genggam pintar dengan menggunakan teori gotak-gatuk dengan memegang konspirasi sebagai alat satu-satunya metodologi. Tidak penting berapa banyak buku yang dibaca dan sejauhmana ketelatenan itu bisa dibuktikan dengan temuan-temuan empirik dengan melakukan perbandingan dengan studi-studi terdahulu. Yang terpenting dari itu semua adalah menggunakan perasaan dan keyakinan keagamaan yang kuat sebagai fondasi utama. Bukti, dalil, dan riset itu bisa diajukan belakangan.

 

(Sumber: Facebook Wahyudi Akmaliah)

Monday, June 19, 2017 - 06:30
Kategori Rubrik: