Gagal Pikir Pimpinan Kompasiana dan Jonru Soal Plagiarisme Afi

Ilustrasi

Oleh Fajar Arifin Ahmad

Sebenarnya sudah banyak yang menulis tentang Afi terutama soal jiplakan status Afi yang menulis panjang tentang Agama Kasih. Banyak orang berusaha membongkar bahwa status itu mencopy paste tulisan Mita Handayani, pengguna facebook juga. Selain tulisan itu, saya tidak menemukan tulisan jiplakan lain yang dilakukan Afi. Namun hal itu membuat pimpinan Kompasiana.com sebuah jurnalisme warga yang pada tahun 2010 hingga 2014 cukup dikenal membuat tulisan nyinyir. Pun demikian dengan Jonru, mati-matian “membenamkan” Afi Nihaya Faradisa.
Tulisan terakhir yang muncul dan sempat saya baca hari ini adalah milik Imam B Prasojo. Dia mengkhawatirkan kondisi psikologis Afi. Yah, Imam tahu bahwa Afi menanggung beban terlalu berat dan meminta agar biarkan Afi kembali ke orang tuanya serta berkembang secara alamiah. Saya sendiri melihat anak ini punya potensi besar atas pemikiran-pemikirannya. Bahwa dia melakukan kesalahan ya diakui tapi bahwa itu kesalahan fatal jelas tidak.

Status FB yang bersangkutan dan membicarakan Afi sendiri meski tidak langsung ada 5. Baik yang terkait siaran di Kompas TV, status sok bijak jaga anak-anak tidak pernah mengklaim karya orang lain/pencuri hingga share tulisannya sendiri.

Tuduhan keji dilakukan Iskandar Zulkarnain dalam tulisan yang diunggah oleh Kompasiana pada 5 Juni 2017. Seakan-akan kesalahan Afi ini berimbas ke berbagai sendi kehidupan social, ekonomi, budaya, politik, agama, suku, ras, dan sebagainya. Banyak pernyataan-pernyataan yang tidak layak diungkap sebagai pimpinan citizen journalism. Isjet (nama tenarnya) menyebut awal pengungkapan itu dari tulisan Pirngadi yang membuka edisi copas Afi. Berikut beberapa diantaranya :

“Tapi pengakuan Afi justru membuat saya merasa wajib mengingatkan kembali generasi muda bahwa plagiarisme adalah perbuatan buruk yang tidak boleh dilakukan oleh siapapun dengan alasan apapun”
 Jonru, wawat, Nanik yang tulisannya hoax ga pernah elu tulis

“Saya membaca pengakuan Afi bukan sebagai pernyataan penyesalan, tapi sebagai bentuk pembenaran. Dia pun menganggap semua orang pernah melakukan plagiarisme, sehingga apa yang dia lakukan tidak layak mendapat penghakiman apalagi hukuman sosial dari banyak orang.”
 Isjet, kenapa soal Afi ini nulis status berkali-kali? Bagaimana dengan bobolnya Koruptor kakap Gayus Tambunan bisa rutin nulis dan Admin tidak tahu? Kalian tidak menjelaskan soal apapun mengenai hal itu. Pembenaran bukan?

Apa yang dilakukan oleh Afi adalah pencurian konten. Dia mengambil karya orang lain lalu menyantumkan namanya sebagai penulis di bagian atas tulisan tersebut.
 Okey, jika iitu pencurian konten dan perlu anda bahas. Ada berapa orang yang melakukannya? Kenapa yang lain didiamkan dan ga elu angkat dalam tulisan? Sejarah Kompasiana juga tidak bersih dari copas juga koq. Tapi apa pernah anda menulis kasus-kasus di Kompasiana? Sejak kapan anda sok peduli dengan penjiplakan?

“Tidak ada agama mana pun yang membolehkan aksi pencurian. Kalau korbannya ikhlas, pelakunya bisa dimaafkan dan terbebas hukuman. Tapi kalau korbannya tidak memaafkan, maka sebuah hukuman akan dijalani oleh pencuri/plagiator”
 Bagaimana dengan copas yg dilakukan oleh penulis kompasiana? Sanksi apa yang diterapkan? Berani ga kasih sanksi akun dibekukan? Ga kan?

Sementara Jonru menulis tentang penjiplakan yang diulang-ulang hingga 3 kali dan menuduhnya sebagai plagiator serta membandingkan antara Afi dengan penemu listrik dari pohon kedondong. Kesemuanya sama, nyinyir, tidak punya solusi konkrit, menyudutkan serta tidak mencoba menyelami. Padahal keduanya sama-sama anak perempuan.
Dalam benak saya,

Keduanya membayangkan mensejajarkan Afi sebagai tokoh hebat, sudah banyak panutan, teladan, berpengaruh dan lain sebagainya. Faktanya Afi bukan siapa-siapa, dia hanya anak perempuan dari Banyuwangi yang baru lulus SMA berusia 18 tahun. Apa yang dikhawatirkan dari Afi?
Keduanya saya duga mengimajinasikan Afi melakukan perbuatan nista, bejat, dosa besar dan lain sebagainya. Baik Isjet maupun Jonru tidak bisa membuktikan berapa kali Afi copas? Selain Agama Kasih, keduanya tidak dapat membuktikan status Afi lainnya. Pada waktu bersamaan, munculnya aliran dana Alkes dari Sutrisno Bachir ke Amien Rais tidak menjadi sorotan di status FB keduanya. Siapa lebih bejat kawan?

Jika Afi melambung, keduanya bisa jadi mengkhawatirkan Afi jadi miliarder baru dengan mobil mewah, jadi bintang iklan dimana-mana, muncul tiap jam di televisi. Hellowww, ada berapa model idol2 di televisi mulai dari menyanyi, memasak, sulap, potong rambut, hijab, stand up dan sebagainya. Coba lihat, berapa orang dari yang juara itu jadi miliarder? Hingga saat ini emang Afi tiba-tiba kaya dengan jiplakannya yang kalian berdua tulis hanya 1 itu?

Pun bila Afi tenar, keduanya was-was berbagai rumah produksi sinetron maupun sineas film meminta Afi jadi pemeran utama. Bahkan takut jika sutradara di Hollywood memboyong Afi ke Amerika. Pun jika benar begitu, apa hak kita?

Sekali lagi dalam benak saya.

Silahkan Isjet dan Jonru datang ke kampus-kampus se Indonesia. Tanya dimanakah letak jasa pembuatan skripsi? Atau jika berkunjung ke sebuah kota yang terdapat perguruan tinggi, beli Koran lokal, adakah iklan jasa pembuat skripsi? Tanyakan ke tetangga yang sudah menyelesaikan sarjana, adakah temannya yang menjiplak skripsi kakak tingkat atau kampus lain?

Tulisan ini bukan untuk membenarkan penjiplakan, sama sekali tidak. Tulisan ini lebih menyoroti kedua orang yang pola pikirnya sempit atas kejadian Afi. Mereka tidak mencoba menyelami, memahami maupun menyadari apa yang terjadi kemudian memaafkan. Apa dosa Afi pada kalian? Apa yang diajarkan Rasulullah pada kalian sehingga malah membenamkan sebuah potensi emas anak muda ke lumpur dalam?

Jangan sok pintar, menggurui atau sok suci soal Afi. 
Sebagai penutup, saya jadi ingat tulisan Khatib Aam PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf. Berikut kutipannya :

MEREKA MEMPESIANG AFI KARENA BENCI PADA ISI PESAN YANG DIPOSTINGNYA!
Mereka benci pada ajakan toleransi. Mereka benci ajakan kebangsaan. Mereka benci ajakan kebersamaan. Mereka benci ajakan membangun harmoni.
Mareka ingin keributan terus memuncak dan masyarakat terus terbelah karena cuma itu cara yang mereka tahu untuk merebut kekuasaan!

Jelas, Isjet dan Jonru 2 anak muda yang punya “tempat” untuk membagi kebenciannya. Isjet mengelola Kompasiana dengan pengikut yang sudah pasti secara factual turun tapi masih cukup banyak, kira-kira ya 200.000 penulis, sementara Jonru sesuai liker FP nya ada 1,4 juta. Jika 1 persen saja rutin membaca status maka ada 14.000 orang pembenci Afi. Itu dari FP Jonru saja, belum yang digalang oleh orang lain.

Sumber : Status Facebook Fajar Arifin Ahmad

Wednesday, June 7, 2017 - 16:00
Kategori Rubrik: