Gabrukin Telkomsel

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Tidak ada yang lebih menjijikkan daripada membiarkan kelakuan perusahaan publik menghina publik. Apa yang menimpa Denny Siregar bisa menimpa siapa saja. Ini bukan soal kadrun dan dorun.

Jika kali ini kadrun “membunuh” keluarga Denny Siregar, bulan depan dorun bisa “membunuh” keluarga Novel Bakmumin. Itu kebiadaban, entah siapa melakukannya kepada siapa. Karena itu ini harus dihentikan sebelum meluas sehingga publik tak lagi berdaya untuk memiliki rasa aman.

Kita harus menghentikan perusahaan besar mengira karena kebesarannya maka ia bebas berbuat apa saja. Hari ini anak-anak Denny Siregar dirisak teman sekolahnya. Besok anak saya dan anak-anak Anda. Kalau kita membiarkan ini berkelanjutan, Indonesia porak poranda.

Sebagai orang IT saya tahu persis bahwa kebocoran data pribadi Denny Siregar dilakukan orang dalam Telkomsel. Saya pun tahu bahwa itu kerjaan lebih dari satu orang. Maksudnya, yang melakukan mungkin satu orang, tapi yang tahu dan membiarkannya lebih dari satu orang.

Karena itu, kita tuntut Telkomsel melakukan penyelidikan besar-besaran. Setelah menemukan para pelaku, Telkomsel berkewajibabn mengumumkan hasilnya kepada publik serta membuktikan bahwa mereka telah dipecat. Selanjutnya, kepolisian dan kejaksaan menyeret para pelaku ke meja pemeriksaan dan menghadapkan mereka ke meja hijau.

Permintaan ini tak bisa ditawar, tidak oleh uang sekian trilyun pun. Ini demi masa depan Indonesia yang beradab. Ini demi keselamatan seluruh anak bangsa. Dan untuk memberi daya tekan kepada tuntutan ini, maka kita perlu memberi sinyal jelas berikut ini kepada Telkomsel:

1. Mulai hari ini kita hentikan pemakaian paket data Telkomsel. Kebanyakan dari kita memiliki ponsel dengan 2 simcard. Jika salah satu darinya adalah milik Telkomsel mari kita pastikan bahwa nomor tersebut bukan penggerak data bagi selpon Anda. Alihkan penggunaan data ke nomor lain di selpon Anda. Lima juta saja bergabung dalam gerakan ini maka itu berarti, setidaknya, penggembosan Rp.125,000,000,000.00 dari pendapatan bulanan Telkomsel.

2. Penghentian pemakaian data Telkomsel berlangsung hingga Telkomsel memenuhi tuntutan di atas: menemukan para pelaku pembocoran data Denny Siregar, memecat mereka, serta menyerahkannya ke kepolisian.

3. Tidak ada kompromi. Tidak ada negosiasi. Tidak ada gantirugi material yang bisa membatalkan tuntutan pada butir 2 (dua) tulisan ini.

Sekali lagi, ini bukan soal kadrun dan dorun. Karena itu saya mengajak siapa pun terlibat, termasuk kepada Anda yang selama ini hingga sekarang (dan hingga lima tahun lagi, mungkin) menjadi lawan Jokowi.

Tidak ada kotak, tidak ada haluan, bisa memisahkan kita dalam memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan kehidupdamaian Indonesia. Negeri ini tak boleh rusak hanya karena beberapa orang mengira telah bersikap sebagai pejuang Allah.

Tak ada pejuang Allah yang membunuh kemanusiaan. Karena itu, pembocor data Denny Siregar, entah siapa pun mereka, harus diseret ke meja hukum. Anda dan saya harus memastikan bahwa, ketika kita bangun tidur saban pagi, Indonesia tetap berdiri. Itu harga mati bagi anak dan cucu kita.

Perbedaan di antara kita boleh terus ada. Tak ada satu ketentuan hukum—baik agama mau pun negara—yang berkuasa mencegahnya. Tapi cara kita dalam mengekspresikan perbedaan tersebut ditata oleh seperangkat aturan hukum. Jika salah satu melanggar, kita harus bersepakat untuk mengajukan pelakunya—sekali lagi, entah dari kubu mana pun itu—diganjar hukuman.

Ini bukan soal balas dendam. Ini adalah soal tentang bagaimana kita memelihara perbedaan tersebut terus berlangsung di arena kemerdekaan dan keadilan. Kalau kita biarkan para pelaku lolos, kita sebetulnya telah menanggalkan kebebasan kita.

Acungkan tanganmu berseturut ajakan ini. Gemakan isinya ke seluruh pelosok Indonesia. Alihkan akses datamu dari Telkomsel ke provider lain. Kabarkan bersama bahwa kita membenci kemunafikan serta kesemena-menaan.

Saya memulainya dari diri saya sendiri. Detik ini juga saya hentikan akses data dari nomor Halo di selpon saya. Kita harus berdiri tegak untuk berkata: kitalah pemilik Telkomsel, bukan sebaliknya, bukan para pengkhianat kemerdekaan berpendapat.

Indonesia, kami memujamu.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Saturday, July 11, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: