Fundamentalisme

ilustrasi

Oleh : Sahat Siiagian

Mudah-mudahan saya keliru. Saya membaca teriakan tolol, corat-coret bego, khutbah murahan dan pandir, adalah ribuan letupan dari gerakan TSM, yang dikendalikan kekuatan tertentu untuk menghancurkan Islam.

Gerakan itu mewabah oleh Arab Spring. Beberapa pemerintahan Islam terguling, berganti dengan naiknya kaum moderat.

Saudia Arabia jiper. Mereka langsung balik badan dengan "meliberalisasikan" negerinya. Diskotik mulai muncul di Jeddah. Beberapa pantai negeri itu sudah menerima bikini. Terbatas, memang, karena, menurut peraturan, keleluasaan itu hanya untuk tamu, untuk non-penduduk. Tapi tak ada pemeriksaan di sana. Perempuan Arab dengan mudah mengaku diri sebagai perempuan Dubai dan lalu petentengan mengenakan 2 piece di pantai.

Suriah melawannya dengan perang. Akibat yang lahir memilukan. Negeri itu hancur berantakan. Pemulihannya bakal makan waktu belasan tahun. Itu kemunduran satu generasi.

Perubahan sedang melanda Turkey. Di negeri itu harga-harga berjatuhan. Kalau Anda banyak uang, datanglah ke sana. Beli semua yang ada. Kurs Lira jatuh 50 cent dalam 3 hari: dari 5.2 Lira per 1$ jadi 5.75.

Ada sebuah kekuatan besar, dugaan saya, yang hendak membasmi fundamentalisme. Jokowi dan NU bergerak cepat dengan mengusung Islam Nusantara. Tugas mereka selama 5 tahun ke depan adalah menghidupkan konsep tersebut untuk dihirup mayoritas muslim negeri ini. Masalahnya, itu cuma NU. Bagaimana dengan Muhammadiyah dan berbagai sekte lain?

Kita dan Jokowi harus bergerak serentak dan masif untuk menyingkirkan orang-orang pandir itu dari panggung peradaban. Kristen juga perlu membarui dirinya agar tidak terjerembab ke fundamentalisme serupa tapi beda warna.

Fundamentalisme adalah musuh kehidupan. By nature, tidak ada satu yang tidak berubah di jagad raya. Berupaya menentang naturalisme tersebut sama saja dengan membunuh kemanusiaan. Mereka harus dikesampingkan sebelum planet bumi hancur oleh peperangan besar dan berkepanjangan karena agama.

Kalau kita tak sesegera mungkin membekap mulut kaum fundamentalis, kekuatan besar, yang entah apa itu, akan memaksakannya untuk kita.

Saya tidak rela membangun negeri ini kembali dari puing-puing.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, July 9, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: