Frekuensi

ilustrasi

Oleh : Dahayu

Aku sudah sarapan gaesss, jadi aku mo bikin status soal frekuensi.

Intinya, Jokowi itu pemimpin yg satu frekuensi dg jaman. Sedang Prabowo belum. Tapi kalo mo ngejar ketuaan.

Kalo sampe yg lambat evolusi begini menang, mit amit, ya sudah... berarti lebih sedikit rakyat Indonesia yg duluan evolusi. Seorang pendukung akan berada dalam frekuensi yg sama dg yg didukung, tho. 

Jika anak2mu pinter, maka persiapkan mentalmu kalo dia frustrasi, karena penemuan2nya tidak dipahami, alih2 difasilitasi oleh penguasa. Mereka hanya akan jadi onggokan sampah genius. Mereka mungkin sudah bisa membuat kecerdasan buatan yg sanggup mengidentifikasi kriminal lebih akurat dari testpack kehamilan dengan biaya seharga testpack, ato membantu dunia kedokteran dengan nembakin ring jantung pake bluetooth, tapi bagaimana semua ini bisa terfasilitasi dg baik jika penguasanya beda frekuensi? Diajak ngobrol aja ga ngerti, dan politisi2 yg disekitarnya mental feodal, terancam bila ada anak bangsa yg pinter. Apa anakmu ga sutris, cobak... takut ga dapat kerjaan karena terlalu pintar dlm negeri, tapi minder sama anak2 diluar negeri yg sudah menemukan energi sepanas matahari, padahal anak2 kita menghadapi pergaulan global.

Ngamungno Habibie muda yg frustrasi karena kegeniusannya terbentur kebusukan politik. Ngamungno bu Susi yg baru bisa mengabdi maksimal di jaman Jokowi. Ntar kalo ilmunya dimanfaatkan negara lain langsung dihujat tidak nasionalis. 

Mungkin banyak disekitar kita orang2 yg kuliah jurusan 'sulit' tapi akhirnya nganggur dan tetap bertahan di Indonesia. Seperti omnya temenku yg kuliah jurusan tata surya tapi setelah lulus bingung mo ngapain, akhirnya kemana2 pake kaos gambar telor ceplok mengukur tinggi monas dan luas danau singkarak. Lontang lantung ga jelas juntrungannya. Ato ahli nuklir pangan yg terakhir kulihat beliau jadi ustadz dan menulis buku yg isinya lebih banyak curhat karena ilmunya tidak dapat digunakan dan tidak ada yg mau diturunin, karena orang2 tua takut anaknya kapiran, tiwas sekolah sulit dan mahal2 tapi bingung mo kerja apa. Jadi kl sekolah yg pasti2 kerja aja. Jadi Guru, tentara, polisi, perawat, ato dokter.

Berbeda jika anakmu kerdus yg sekolahnya nyogok, yg punya android hanya dipake untuk nyebar hoax WAG (sehingga sekelas menkominfo kan berkata, internet cepat untuk apa), mereka hanya perlu kau ajari trik2 kong kalikong untuk bisa menguasai tanah ribuan hektar. Ato menipu rakyat dengan bungkus agama. Maka hidupnya akan sejahtera.

Itulah makanya..
Melihat debat semalam, ketika Jokowi berbicara tentang sumber energi fosil vs terbarukan, kecerdasan buatan, unicorn berikut infrastrukturnya, maka dia berada dalam satu frekuensi dengan jaman. Anak2 pinter memiliki harapan untuk diajak bekerjasama membangun bangsa, sedang yg satunya begitu lambat merespon ... lalu buang badan seolah Jokowi ngomongnya ketinggian karena pada kenyataannya Rakyat masih konvensional berikut segala budayanya. Tapi dia lupa, bahwa Jokowi memberikan sesuatu sesuai kebutuhannya.

Infrastruktur tidak hanya berupa palapa ring bagi generazi milenial dan Z , tapi juga jalan2 kampung, waduk2, dan lahan2 untuk dikonsesi. Sehingga nantinya generasi tua konvensional ini menggarap tanahnya dg riang, hasilnya dipasarkan oleh anak cucunya di lapak2 online mereka. Sebuah jembatan antar generasi yg indah ditengah dunia global yg menantang. Eaaaa...

Jembatan itulah core of the core dari segala infrastruktur yg dibangun Jokowi (kecuali pyramid, itu infrastruktur untuk orang mati agar sampai ke gugus Orion)

Jadi, jaman dan teknologi dimata Jokowi adalah untuk dimengerti dan ditaklukkan, tapi dimata Prabowo menjadi sesuatu yg mengancam dan mencemaskan. Pepatah bijak berkata: sesuatu yg tidak kau ketahui akan menakutkanmu. Dan trnyata benar, Prabowo mmng tak tau. Makanya takut. Persis seperti sponge bob yg menganggap kupu2 wormy sebagai monster. Transformasi dan Metamorfosis dianggap sesuatu yg menakutkan. Padahal transformasi adalah niscaya. Itulah kenapa cebong bermetamorfosa sedang kampret tidak.  itulah bedanya politik optimis dengan politik gendruwo. Itulah bedanya pemikir dan eksekutor dengan sontoloyo. Itulah bedanya pemberani dengan penakut.

4 tahun ini sudah banyak yg dilakukan Jokowi. Memang hasilnya tidak memuaskan bagi golput garis dildo, karena terlalu banyak yg harus dibenahi. Jokowi menemukan negara ini dengan SDM yg KKNnya sudah mendarah daging, Itu masalah terbesarnya. Lalu dengan siapa dia akan bekerja? Mustahil tho sendirian. Belum lagi ancaman keamanan akibat gerakan radikalisme dan terorisme global, dan sak umbruk generasu pekok hasil jualan sales kilapret alay2 yg cangkemnya brisik minta ampun, otaknya ngeyelan dan hatinya sekeras batu. 

Diawal2 pemerintahan Jokowi aku dan temanku sampai sempet stress sendiri membayangkan kudeta yg dibiayai mafia atau semacamnya. Mungkin dia mendoakan Jokowi lebih banyak dari mendoakan orangtuanya sendiri. 
Tapi ternyata Jokowi bisa melaluinya.

Jadi, bagi kaum yg bersyukur, 4 tahun ini Jokowi sudah melakukan banyak hal melampaui pendahulu2nya dan negara dalam kondisi relatif aman.

Yang sudah satu frekuensi begini, ya jangan diganti, apalagi sama yg lebih kemresek.

Monday, February 18, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: