Framing Media

Oleh: Saefudin Achmad

 

Mengapa hoax dan provokasi begitu mudah tersebar? Mengapa banyak masyarakat yang mudah terpapar hoax dan provokasi?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seringkali muncul di benak. Fakta bahwa banyak masyarakat yang terpapar hoax dan provokasi sejak era media sosial memang sangat memprihatinkan. Tidak orang awam, tidak orang berpendidikan tinggi. Tidak kaya, tidak miskin. Tidak ulama, tidak preman. Mereka sama-sama mudah terpapar hoax. Saya beberapa kali merasa prihatin ketika ada seorang profesor dan kyai yang menyebar berita hoax maupun provokasi di WA grup atau dinding fb.

 

Kenapa mereka mudah teepapar hoax dan provokasi adalah karena tidak memiliki kecakapan khusus untuk menilai berita di media. Mereka tidak paham soal media sehingga apa yang muncul dari media ditelan mentah-mentah dan dianggap sebagai suatu kebenaran. Saya berharap masyarakat banyak yang belajar soal media agar tidak menjadi korban provokasi media.

Salah satu yang perlu dipahami oleh masyarakat dalam menyikapi sebuah berita yang dikeluarkan oleh media adalah tentang 'framing '. Banyak yang tidak mengerti bahwa setiap berita yang dikeluarkan oleh media mengandung framing. Setiap framing mengandung tujuan-tujuan tertentu dari pembuat berita atau pemilik media. Zaman sekarang bisa dikatakan sulit sekali menemukan media yang benar-benar netral, objektif, dan tidak mengandung framing serta benar-benar murni ingin mengabarkan suatu peristiwa.

Framing adalah membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita.

Framing merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu. Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis.Hal ini sangat berkaitan dengan pamakaian diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.

Sederhananya, apa yang dikabarkan oleh media mungkin sesuatu yang benar, namun dalam pemberitaannya dikasih bumbu lewat kalimat isi berita atau judul, yang punya tujuan-tujuan tertentu. Pembaca tidak akan merasakan framing yang dibuat karena sangat halus. Intinya tahu-tahu emosi pembaca teraduk-aduk setelah membaca berita tersebut.

Saya tidak akan menyebut framing-framing seperti apa yang dibuat oleh media-media di Indonesia karena bisa kena pasal pemcemaran nama baik. Tapi bagi orang yang rajin membaca berita, saya yakin lama-lama akan paham framing-framing seperti apa yang dibuat oleh pemilik media dari berita-berita yang dibuat.

Saya beranggapan zaman sekarang sulit sekali menemukan wartawan yang idealis. Mereka memilih membuat berita berserta framingnya sesuai dengan keinginan pemilik media. Jika mereka berani membuat berita yang tidak dikehendaki oleh pemilik media, siap-siap ditendang. Jadi berita beserta framing yang beredar di Indonesia harus sesuai dengan keinginan dan kepentingan pemilik media.

Ada pemilik media yang mendukung dan berafiliasi dengan parpol, tokoh, lembaga, ormas tertentu, bahkan pemilik partai. Biasanya berita-berita yang ditampilkan, adalah berita-berita positif tentang parpol, tokoh, lembaga, atau ormas yang didukung. Berita-berita negatif tidak akan ditampilkan.

Ada juga pemilik media yang orientasinya adalah uang. Media ini tidak mendukung siapa-siapa. Media ini hanya mencari pembaca sebanyak-banyaknya agar uang yang masuk makin berlimpah. Jika musim pemilu, media ini akan membuat berita yang framingnya membenturkan dua kubu yang sedang bertarung di pemilu. Media ini paham, berita-berita yang framingnya membenturka dua kubu sangat disukai dan diburu masyarakat, terutama pendukung fanatik kedua kubu. Jika kubu A mengeluarkan pernyataan yang menyerang kubu B, mereka akan langsung mendatangi kubu B, untuk meminta tanggapan dari pernyataan kubu A.

Ada juga media yang memilih judul yang bombastis, padahal tidak mewakili keseluruhan isi berita. Judul yang bombastis ini biasanya akan ditelan mentah-mentah bahkan tanpa merasa perlu membaca beritanya. Orang-orang yang literasinya rendah biasanya langsung menyebar berita tersebut tanpa perlh membaca. Ada juga yang hanya men-screnshot judul berita lalu disebarkan dan diberi caption-caption yang provokatif.

Saya berharap siapapun tidak malu untuk mempelajari media. Jadilah pembaca berita yang baik sehingga tidak sampai menjadi korban framing dan provokasi media.

 

(Sumber: facebook Saefudin Achmad)

Saturday, January 18, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: