FPI

ilustrasi

Oleh : Rumail Abbas

Mas Jimly Asshiddiqy (cucu Sayidina Abu Bakr Al-Shiddiq, sama seperti Hasbi Asshiddiqy yang faqih dalam fikih Indonesiawi?) yang sekaligus tokoh besar Indonesia tadi pagi ngetweet bagaimana HRS berceramah yang menantang dan arogan.

Dalam hati saya bergumam:

"Orang ini ke mana saja? Kok, baru nongol?"

Setahu saya, FPI melakukan fear mongering (sebaran ketakutan yang insinuatif) tidak hanya sekali ini. Bahkan cukup sering (dan kalau ada bantahan, biasanya disertai prestasi FPI mengangkat jenazah korban Tsunami Aceh & Poso, seolah-olah mereka peran utama evakuasi).

Tentu publik Indonesia akrab dengan kalimat FPI seperti ini:

"Kita-kita, sih, gak marah. Tapi kami khawatir umat Islam mengamuk dan melakukan ini-itu (dari ancaman persekusi hingga pemenggalan kepala)."

Atau...

"Kalau aparat gak tegas, jangan salahkan kami kalau umat melakukan pergerakan. Anda mau peristiwa kelam 98 silam terulang?"

Atau...

"Kalau gak ada permintaan maaf, kita gak bisa menjamin kemarahan umat, lho."

Itu jelas-jelas fear mongering. Gak ada celah selain dimaknai seperti itu. Dan FPI kerap melakukannya.

Sejak dulu!

Jika muncul keberatan dari ceramah FPI semacam tadi, dan baru diungkapkan sekarang (seperti tweet Mas Jimly tadi pagi), makanya saya terheran-heran:

"Kenapa baru sekarang???!"

Kebanyakan teman-teman santri di circle saya sangat canggung mengomentari kenakalan FPI karena diisi habaib dan didukung masyayikh dan gawagis.

Dididik di pesantren untuk menghormati ahlul bait & ahlul ilmi, tentu kendala terbesar yang kami miliki adalah kekhawatiran lancang pada darah suci Baginda Nabi dan kualat berselisih dengan kiai.

Benar bahwa mereka itu luas ilmunya (فقيه) dan nyamudro (تبحّر) dalam ilmu agama. Tidak ada perlu untuk meragukan penguasaan kitab kuning mereka (متفقّه).

Tapi bagi saya sendiri (dan Anda boleh tidak setuju), ketika mereka mengeluarkan pernyataan yang pseudosains atau tidak memiliki dasar saintifik yang mendalam, maka pernyataan tersebut tidak bisa dijadikan rujukan (غير معتبر) dan posisi mereka sebagai figur yang layak dijadikan pegangan seketika batal (غير معتمد).

Tanpa mengurangi rasa hormat, menurut saya: beliau semua adalah orang alim (متفقه) yang menguasai banyak cabang ilmu agama (متفنّن), namun bukan elaborator (متصوّر) yang sahih.

Olah tashawwur (تصوّر) sangat penting untuk kasus seperti ini. Tanpa itu, mulailah untuk ragu-ragu:

"Layak saya ikuti atau tidak?"

Contoh sederhana: kalau sampai memberi Anda saran untuk membeli bawah putih karena itulah obat Korona, maka ciumlah tangannya sebagai takzim, namun jangan ikuti sarannya.

Saya sendiri masih memakai Fiqh Al-Zakat yang ditulis Syaikh Yusuf Al-Qardlawy. Sampai sekarang. Tapi untuk fatwa politik, tidak sekalipun saya melihatnya sebagai hal yang patut dipercaya.

Syaikh Yusuf itu nyamudro ilmunya (متبحّر), tapi ijtihad politisnya tidak layak untuk disahihkan sama sekali (غير الاصح).

Sugeng siang~

Sumber : Status Facebook Rumail Abbas

Friday, November 20, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: