FPI, Ganjilnya Sebuah Nama

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Front Pembela Islam. Terdengar gagah. Berani. Dan heroik. Begitulah kalau kata-kata diracik. Namun dari sisi kesejatian makna, di dalamnya terdapat penipuan yang nyata. Pertama kata 'front', itu kan bagian terdepan. Perlu ada bagian belakang yang menjadi pusatnya. Tak mungkin 'front" tanpa pusat.

Yang kedua kata 'pembela', yang namanya pembela harus ada yang dibela dan harus penegak keadilan. Bukan malah buat keonaran.

Yang ketiga kata 'Islam'. Ini menunjukan ketidak tahuan tentang Islam, atau sengaja untuk membodoh-bodohi orang saja. Islam itu manifesto Ilahi, rule from God. Syariat puncak sejak nabi Adam sebagai penutup kesempurnaan aturan langit. Ia bukan manusia. Kalau manusianya namanya muslim. Nah yang ini masih sebagai umat yang belum satu, masih terpecah karena ego rasa diri paling benar masing-masing. Yang perlu dibela itu muslim yang terzalimi. Bahkan dalam ajaran Islam itu sendiri mazlum (yang terzalimi) tanpa memandang suku dan agamanya harus dibela. Jadi kata pembela muslim pun tak layak, tak seusai dengan ajaran Islam.

Jadi dari ketiga penggunaan kata Front Pembela Islam, dari makna verbalnya saja sudah ngaco. Menandakan asal-asalan dan tidak bisa membedakan Islam dan muslim.

Dari asbabun nujulnya, kumpulan preman berkesing agama ini digunakan sebagai alat proxy negara. Untuk tak kalah dengan preman negara harus membiayai preman untuk mengendalikan keadaan. Ini tergolong siasat negara. Hanya Dilan dan orang-orang tertentu bisa memahami pola ini. Bagi Cebong dan Kampret akan berat melihat Jokowi dan Prabowo makan bersama.

Dalam perjalanannya FPI lebih banyak menampilkan kebrutalan dengan tampilan penegak syariat Islam. Sesekali ikut hadir pada bencana alam dengan seragam putih nya yang mencolok. Kemudian fotonya disebar sendiri di Medsos. Bagi Dilan dan orang-orang tertentu meyakini FPI di biayai pihak tertentu. Kadang dipakai untuk jasa Pilkada, khususnya di DKI.

Modus Amerika membesarkan Taliban, Al Qaedah, ISIS dan milisi lainnya, bukan tidak mungkin dibuat oleh Indonesia. Untuk kepentingan Indonesia, menurut mereka. Namun ini sangat kontra dengan Pancasila yang mengayomi semua agama. Walhasil perlu dicarikan cara lain yang tak mengganggu narasi Pancasila. Apalagi nama baik Islam dipertaruhkan, karena dirusak kebrutalan laskar putih bertato. Atau ini hanya sekedar dagelan untuk supaya kita jangan terlalu serius dengan isme-isme. Merasa diri benar sendiri lalu menyombongkan diri.

Santri Kalong : Justru yang perlu dibubarkan Jokowi adalah PKS. Dulu Soekarno bubarkan Masyumi, Murba dll. Soeharto bubarkan PKI. Gus Dur bubarkan Golkar, walau gak mempan. Dibalik Ihwanul Muslimin dan HTI ada biaya negara yang dipakai lewat PKS. Bisa dibilang negara ikut membiayai HTI yang telah dilarangnya. Wacana bubarkan PKS lebih baik daripada bubarkan FPI. Cukup gak dikasih dana FPI bubar sendiri. Bagaimana menurutmu Dul ?

Dul Kampret :
Kalau PKS dibubarkan kami sudah siapkan Gelora, yang akan lebih menggelora. Dan sebaiknya Presiden kalau sudah percaya Menhan Prabowo dan Menag Fahrur Raji, biarkan mereka bekerja. Pasti itu yang terbaik.
Membubarkan FPI itu langkah bodoh, kayak tak ada kerjaan lain saja. Kalau mau berantas radikalisme, biayai pemahaman dan penyadaran falsafah Pancasila. Kalau tanaman subur rumput akan susah tumbuh. Kalau Pancasilanya kering kerontang, rumput liar mudah tumbuh. Bagaimaan menurutmu Bong ?

Bung Cebong :
Hari-hari belakangan saya sering terserang nyesek. Pemberantasan radikalisme hanya di dataran wacana dan wacana saja. Pemerintah bekerja di dalam rumahnya dulu. 80 persen masjid BUMN terpapar rabies radikalisme. Beri surat teguran dan janji setia, kepada PNS dan TNI/Polri, pegawai BUMN yang telah terpapar radikalisme. FPI itu kan di luar rumah. Bikin pembersihan di dalam rumah dulu. Pak Tito, Pak Cahyo menteri aparatur, Pak Eric Tohir ayo gerak. Mosok di rumah sendiri yang anda adalah pemimpinnya kok takut. Setelah dalam rumah baru yang di luar rumah. Begitu kan Pace ?

Pace Yaklep :
Saya kurang tahu soal itu. Yang saya dengar waktu sekolah SD kita Bhineka tunggal ika, tapi praktek masih susah. Kalau gubernur orang Sorong nanti kepala dinas Sorong banyak. Jakarta juga sama, macam masing-masing punya kapling dan sesama bis kota tidak boleh saling mendahului. Preman harus mampu dan mau menghargai sesama preman begitu. Kalau kita mau bicara bangsa dan negara, ukurannya harus Pancasila . Nilai yang sudah kita sepakati bersama dalam bernegara. Kalau soal bubar membubar dari dulu juga tak merubah keadaan. PKI dibunuh banyak, toh kita belum maju seperti Eropa juga. Begitu toh Wan Bodrex.

Wan Bodrex :
Hati-hati di jalan. Kalau mau tidur masuk ke dalam, di luar banyak angin. Satu musuh terlalu banyak, seribu teman masih kurang. Tapi tak makrifat musuh itu bingung. Siapa yang harus dipukul mundur. Bisa-bisa malah memukul rakyat sendiri. Hidup lah sesuai hukum yang berlaku. Jangan tanya hukum yang tidak berlaku saya tidak tahu. Sedangkan yang berlaku saja hanya sedikit yang saya tahu.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Sunday, December 1, 2019 - 19:00
Kategori Rubrik: