FPI Cari Gara-Gara Mengahokkan Gus Muwafiq, Cari Keributan

ilustrasi

Oleh : Udin

Kasus Ahok akan tetap menjadi pelajaran bagi bangsa yang sangat beragam ini. Satu orang didemo, yang katanya, tujuh juta orang. Sisi baiknya, kita jadi tahu siapa sebenarnya mereka. Tetapi sisi paling ngerinya, mereka jadi besar kepala. Di satu sisi besar kepala karena merasa berhasil membela agama. Di sisi lain besar kepala karena mereka punya kekuatan menekan pemerintah dan berhasil.

Konsekuensinya makin berbahaya ketika pemerintah tidak tegas bersikap. Pemerintah seolah tutup mata atas apa yang sedang terjadi. Pemerintah seolah memberi keleluasaan kepada kaum yang merasa empunya surga itu. Hanya menentukan perpanjangan izin ormas saja pemerintah butuh waktu lama, padahal sebenarnya cukup sebentar saja.

Reuni 212 itu sejatinya bukan dalam rangka mempersatukan umat. Reuni 212 adalah ajang unjuk kekuatan. Seolah mereka mau bilang, ‘Kami punya kekuatan dan pantas diperhitungkan!’ diperhitungkan maksudnya bisa saja dalam gerakan politik atau bisa jadi dalam gerakan agamis. Dan mereka sudah membuktikan itu beberapa kali. Hanya saja kita pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu.

Pilpres adalah ajang di mana mereka kembali menawarkan dukungan kepada Prabowo. Prabowo pun menyambut. Untung saja Prabowo lebih cepat sadar. Meskipun sudah sempat menelan korban jiwa pada demo-demo hasil Pilpres, tetapi sadarnya Prabowo membawa angin segar pada stabilitas politik dalam negeri.

Apakah gerakan 212 akan berhenti? Tidak. Mereka akan tetap begitu dan selalu begitu. Karena hanya dengan merawat gerakan 212, mereka punya eksistensi dan pengaruh di negeri ini. Setidaknya, mereka mampu menciptakan kegaduhan.

Bagaimana mereka akan mempertahankan eksistensi mereka? Mereka akan menciptakan ‘Ahok’ baru, yang siap didemo 7 juta orang dengan tuduhan yang kurang lebih sama saja. Kasusnya akan tetap seputar agama. Maklum, mereka memang hanya mampu memanipulasi agama. Selain agama, dapat dipastikan mereka tidak punya apa-apa.

Polanya pun akan tetap sama. Mereka akan menuduh seseorang melakukan penistaan agama. Orang tersebut pun dipastikan adalah bagian dari musuh bebuyutan atau setidaknya pihak-pihak yang selalu menjadi penghalang mereka merusak ‘image’ Islam Indonesia yang lembut menjadi Islam yang kasar dan mengerikan. Atau katakanlah kelompok agama yang nasionalis. Dan yang pasti, orang tersebut punya nama besar atau pengaruh untuk menciptakan kegaduhan.

Mereka sudah mencoba mengahokkan Sukmawati. Sayangnya nama Sukmawati tidak cukup berpengaruh di negeri ini. Mungkin cukup berpengaruh di kalangan budayawan, tetapi bukan di politik dan agama. Makanya langkah mereka mengahokkan Sukmawati tidak mampu menciptakan kegaduhan sama sekali.

Nah… Akhirnya mereka mendapatkan target yang empuk yang kebetulan ceramahnya bisa dipelintir, yaitu Gus Muwafiq.

Kenapa Gus Muwafiq? Beliau terkenal nasionalis garis keras, maklum kiai NU. Beliau adalah penceramah terkenal dan disenangi banyak kalangan. Beliau juga sudah pernah menyampaikan ceramah di depan Presiden Jokowi. Maka tidak heran kalau kemudian beliau dianggap sebagai ulama yang dekat dengan Jokowi. Jadi kloplah Gus Muwafiq jadi target: NU, nasionalis, jokowier dan terkenal.

Menghantam Gus Muwafiq sama saja dengan menghantam kalangan NU, kalangan nasionalis, dan pendukung Jokowi. Tetapi justru itulah yang mereka cari. Sebab mereka sejatinya bukan sedang membela agama, melainakn sedang menciptakan keributan dan kegaduhan. Semakin gaduh, maka mereka semakin punya kesempatan untuk menggalang dan mempertontonkan kekuatan.

Saya katakan bukan karena alasan agama, karena yang bersangkutan, Gus Muwafiq, sudah meminta maaf meskipun dia sendiri merasa ceramahnya dipahami secara salah. Tetapi dia tetap meminta maaf dan dia anggap itu sebagai pengingat kepada dirinya untuk semakin baik lagi menyampaikan ceramah. Maksudnya, jangan sampai ceramahnya melukai hati orang karena dianggap menghina nabi. Tetapi Gus Muwafiq tetap saja dilaporkan.

Kalau benar demi agama, permohonan maaf dan komitmen untuk lebih baik sejatinya sudah lebih dari cukup. Sebab apa yang dianggap hinaan sebenarnya masih dapat diperdebatkan. Jangankan yang seperti itu, yang sudah nyata-nyata dianggap menghina pun kalau dari kalangan mereka cukup hanya dengan minta maaf. Bahkan mereka sendiri tidak mempermasalahkannya. Contohnya, Somad.

Sampai di sini, kita lalu mengerti bahwa gerakan mengahokkan Gus Muwafiq hanyalah cara mereka menciptakan keributan dan perpecahan di antara anak bangsa.

Yang membela Gus Muwafiq, terutama dari kalangan NU harus lebih hati-hati dalam menanggapi persoalan ini. Jangan sampai terpancing untuk adu kekuatan. Jangan sampai ada pertumpahan darah antar saudara. Meskipun saya sedikit paham betapa kiai sehebat Gus Muwafiq dijadikan target, pasti akan memancing amarah.

Utamakan proses hukum dan jalur hukum. Saya yakin, NU sudah sangat dewasa menghadapi kaum itu. Jangan sampai nama baik NU yang terkenal bijak itu rusak hanya karena terpancing permainan kotor kalangan tertentu.

Sumber : Status Facebook Udin

Monday, December 9, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: