by

Formula E Baru

Oleh : Harun Iskandar

Ada tokoh dalam wayang Jawa, bersosok raksasa, tapi ndak bertubuh tinggi besar. Ndak sangar juga, malah suka guyon. Ndak bisa menggigit, meski punya gigi tajam dan taring, layaknya raksasa. Karena mulut atau rahang bawah jauh lebih ‘maju’ dari bibir atas.Perlambang, bahwa ‘Buto’, raksasa, yang satu ini punya sifat serakah, dan juga ngeyelan. Mau menang sendiri. Dia pikir ndak ada yang lebih pintar dari dirinya. Karenanya, saat ‘tampil’ selalu ‘pethakilan’. Gayanya ‘lebay’. Dalam bertempur sekalipun. Mulutnya ndak pernah diam juga. Cerewet. Ceriwis. Ndak ada capeknya. Musuhnya, bertemu di hutan, biasanya ksatria ‘lemah lembut’ namun sakti mandraguna. Seperti Arjuna, Abimanyu, dan sejenisnya.Raksasa kecil yang kemlinthi, banyak gaya dan omong ini, dikenal dengan nama ‘Buto Cakil’ . . .

Jadi dalam pertempuran itu, istilah wayangnya ‘Perang Kembang’, nantinya akan muncul ‘kontras’. Ksatria bergaya slow diam-hening, sedang Buto Cakil, ‘pethakilan’ banyak lagak. Pakai gerak patah2 segala, kayak Michael Jackson. Muter2, baik tubuh maupun mulutnya. Ndremimil, ngomel2, komen apa saja seingatnya, semaunya . . .Senjatanya, berupa keris, di-puter2 di gagang, di pangkalnya. Bergaya koboi muter2 pistol. Kadang dilempar ke udara, ditangkap lagi, lalu segera menusuk musuhnya. Ksatria dengan sigap mengelak. Cukup dengan langkah yang sederhana namun effektif. Sreeet . . . Luput . . .Sebenarnya lah, si Buto Cakil ini bukan tandingan sang Ksatria. Gayanya thok. Dan memang, akhirnya si Buto Cakil mati juga. Karena tertusuk keris sendiri . . .Yang lucu, sudah ketusuk keris pun, sembari menunggu ajal, masih saja mulutnya sempat komen sana-sini. Ndak langsung mati . . .

Beberapa hari lalu, ada muncul perkembangan ‘baru’ tentang Formula E Jakarta. Balap mobil listrik. Co Founder-nya, Alberto Longo, datang ke Jakarta. Untuk memastikan bahwa Jakarta E- Prix akan bisa berlangsung tahun 2022. Bulan Juni.Tapi Formula E yang ini ‘bukan’ Formula E yang dulu . . .

Sebelumnya ngeyel terus, pakai Jakpro2. Sekondan setia dan utamanya. Begitu ketemu banyak halangan, seperti biasa, mulai bikin dan pakai trik2 baru. Bambang Soesatyo dan Ahmad Sahroni pun didekati dan ditarik. Didapuk jadi panitia.Keduanya, selain punggawa bidang otomotif, juga penggede parpol pendukung pemerintah. Golkar dan Nasdem. Jadi ‘dukungan’nya amat diperlukan. Maklum PSI, Partai Sosialis Indonesia sudah laporkan Pemda DKI ke KPK. Ada ‘nuansa’ dan ‘bau2’ korupsi. Laporannya setebal 600 halaman. PSI pertanyakan ‘commitment fee’ yang dulu 2 Trilliun lebih, kok sekarang ‘cuma’ jadi 560 Milyar? Mark-up atau pinter nawar? Kayaknya, ‘rekrut’ Bambang dan Sahroni, baca Golkar dan Nasdem, ada hasilnya. Karena kata KPK kemudian, yang nampak mulai kendor, ‘Mungkin Pemda DKI perlu bayar lebih, agar Formula E bisa terselenggara di Jakarta . . .’Namun PSI ndak mau kalah. Minta tunjukkan ‘bukti transfer’. Nurut PSI, negara2 lain banyak yang ndak perlu bayar commitment fee, kok.

Sirkuit pun berubah. Kalau dulu ngeyel maunya di Monas, sekarang ndak lagi. Padahal Monas sudah kadung ‘digundhuli’ . . .Ada 5 lokasi pilihan. Pokoknya ndak boleh Monas dan GBK, Gelora Bung Karno. Tegas Bambang Soesatyo.Yang lucu, katanya, nanti yang akan milih satu dari 5 pilihan lokasi, adalah Jokowi . . .

Co-founder Formula E, perlu datang ke Indonesia, karena lihat gejala2 yang ndak enak ini. Pelaporan ke KPK, ndak jelas pilihan dan pembuatan sirkuit, sampai interpelasi PSI dan PDI . . . Co-Founder juga melihat meriahnya gelaran balap di Mandalika. Yang tak lepas dari tangan dingin Jokowi . . .Siapa tahu dengan libatkan Jokowi, semua halangan bisa teratasi. Semoga juga bisa jadi meriah seperti Mandalika. Maklum Mercedes, Audi, dan BMW, sudah umumkan untuk undur diri. Siapa tahu ndak jadi . . .

Saking ngêbêtnya, saking pengennya Jokowi terlibat, saat Presiden Jokowi ‘menantang’ pembalap Sean Gelael agar mau ikut Formula E, segera disambut dengan ‘tafsiran’ bahwa Jokowi ‘mendukung’ Formula E . . . Lalu disambung, ada yang komen, ‘Harusnya interpelasi, oleh PSI dan PDI, sudah ndak relevan lagi. Karena sudah ada dukungan dari Presiden Jokowi . . .’Jokowi lagi . . .

Kemana ‘promotor’ utama Formula E, yang dulu sangat getol, amat bernafsu ? Karena dia pikir bisa buat ‘sangu’, bekal, Pilpres 2024 ?Yang pethakilan, suka muter2kan senjatanya yang bukan keris, tapi mulut yang manis. Tingkah dan gayanya, memang mirip Buto Cakil. Tapi keberanian, dan konsistensi ndak. Masih agak lumayan si Buto Cakil, berani pertarungkan ‘faham’nya, sampai mati.Buto Cakil yang satu ini, ‘modern’ hasil modifikasi, ndak begitu. Malah berkelit, tarik orang lain untuk bagi2 resiko. Tricky. Persis seperti jawabannya, yang merupakan sebuah ‘resume’, saat ditanya perkembangan terakhir Formula E : ‘Nice Try . . .”Usaha yang bagus’, katanya sambil senyum manis seperti biasa.Cangkem mu, Pak . . . !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed