Fly by Wire

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(# Subhanallah KEREN . . . )

Sebagai warga DKI Jakarta, saya pribadi untuk ikuti aturan New Normal, biasa2 saja. Ndak ada yang susah. Karena sudah terbiasa. Dari awal Pandemi Corona sudah 'ngatur' diri sendiri. Dan harus bisa.

Habis gimana ? Penguasa Jakarta kerjanya cuma nakut-nakuti, bikin Pengumuman, buat Konpres, Senyum sana-sini. Kerja ndak ada . . .

Bengak-bengok genting, tapi ndak action apa-apa. Ngaku pada koran 'luar negeri' dari awal sudah tahu pandemi, bahkan saat virus belum punya nama, tapi malah ditinggal sembunyi. Takut ketemu warga yang kebanjiran.

Ngaku mau bikin tes sendiri, tapi dihalangi oleh Pusat, nyatanya sibuk karantina Mahoni . . .

Begitu maunya dituruti, boleh PSBB, ndak ada action sama sekali. Bagi bansos saja banyak yg mrucut. Ngaku ndak punya duit, tapi bisa beli tanah buat RTH. Bangun Laboratorium Covid 'kelas dunia' cuma ada di tivi, yang muncul di lapangan hanya container . . .

Pasar tradisional diumbar. Pedagang-pembeli masih berkerumun, dibiarkan. Masjid masih bikin kegiatan ndak dipantau. Disuruh jaga jarak atau direkayasa gimana kek. Nunggu yang action nanti polisi atau tentara. Para toghut yang zalim . . .

Semprot disinfectan juga swadaya. Ngaku sudah ada perkembangan yang baik di wilayahnya, tapi pakai data yang dulu diejeknya. Begitu 'naik' segera sembunyi. Data turun lagi bikin konpres lagi. Senyum-senyum . . .

Mall dibuka tanpa pengawasan. Tanah Abang apalagi. Semua diumbar. Sampai acara count-down warung ayam goreng, bisa terlaksana, meski cuma sejengkal jaraknya dari kantor Penguasa wilayah . . .

Masker yang sudah lama dijanjikan, baru datang minggu lalu. Cuma 10 biji. Itupun datang dari Kelurahan sembari mbagi tagihan PBB . . .

Jadi andai PSBB berhasil atas prestasi siapa ? Ya prestasi kami2 sendiri, warga DKI Jakarta . . .

Kami, saya khususnya, sudah terlatih mikir dan action sendiri. Belanja ke pasar, misal, saya milih beli pedagang yang jualan di luar pasar. Ndak perlu berdesakan. Kalau terpaksa ke pasar, saya pilih sore hari yang agak sepi.

Ke Supermarket saya pilih waktu pagi hari, belum banyak pembeli datang. Waktu bayar ke kasirpun, ikuti dengan tertib panduan jaga jarak.

Jumatan terakhir, sebelum area kompleks saya dipasang pagar dan saya ndak bisa ke mesjid, saya pilih berdiri sendiri di luar mesjid. Tanpa atap. Kepanasan, tapi ndak ikut uyêl2an . . .

Jokowi telah 'turunkan' Tentara dan Polisi. Para 'thogut' mulai beraksi. Jaga stasiun, terminal, sebentar lagi pasar dan mesjid. Pemangku Wilayah, yang usul dan tetapkan PSBB, tinggal nunggu hasilnya. Sembari susun kalimat yang 'manis namun bikin bergetar', persiapan Konpras-konpres . . .

Subhanallah . . .
#Keren . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, May 30, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: