Fitnah Keji Tere Liye Terkait Bus Trans Jakarta yang Terbengkalai

Oleh: Wahyu Sutono

 

Beberapa hari ini banyak yang mempersoalkan sekitar 300 unit lebih Bus Transjakarta senilai miliaran rupiah yang terbengkalai di Bogor. Bahkan tak sedikit yang menyalahkan Jokowi-BTP, hingga dikatakan pihak Pemprov DKI Jakarta akan menuntut.

"Padahal bus-bus tersebut baru dibawa ke lahan kosong di Bogor pada bulan Juli 2018 dimana Jokowi-BTP sudah tidak menjabat. Sehingga apa yang dikatakan oleh Tere Liye pun sebagai sebuah bentuk fitnah keji yang sangat tidak berdasar"

 

Kondisi bus rata-rata masih bermesin, dan sebagian besar masih hidup, hanya bodynya saja yang kurang baik. Menurut informasi setempat, bus tersebut aset milik perusahaan bernama PT Adi Teknik Ecopindo, yang berdasarkan keputusan Pengadilan Niaga, perusahaan itu dinyatakan pailit.

Bus berlabel Transjakarta masih berperkara di pengadilan dan dalam pengawasan kurator, dan ada pemberitahuan yang ditempel di depan kaca bus bertuliskan: 

"Budel Pailit PT. Putera Adi Karyajaya (Dalam Pailit) sesuai putusan perkara no.21/PDT.SUS-Pailit/2018/PN. Niaga.jkt.pst, tertanggal 20 September 2018 dalam pengawasan kurator dan pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Namun Kepala Humas Transjakarta Wibowo membantah bahwa ratusan bus tidak terpakai di kawasan Dramaga maupun yang berada Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) Ciputat bukan milik Transjakarta.

Akar masalahnya ada pada perusahaan penyedia bus tersebut, dimana kualitas bus asal Tiongkok itu terlalu banyak masalah sehingga ditolak oleh Basuki Thahaja Purnama saat itu. Ada kemungkinan itu bukan bus baru yang direkondisi, bahkan ketika datang sudah ada yang berkarat. Karenanya tanggung jawab tetap berada di pihak perusahaan. Sehingga Pemprov DKI saat itu lebih memilih bus produksi asal Swedia yang sampai saat ini terbukti bagus kualitasnya.

Lalu sekarang solusinya bagaimana? Janganlah aset yang nilainya miliaran rupiah ini akhirnya hanya menjadi besi rongsokan. Pemprov DKI Jakarta mungkin bisa pro aktif, agar bus-bus ini bisa bermanfaat kembali, misalnya bekerja sama dengan perusahaan penyedia bus untuk menyumbangkan menjadi bus sekolah, atau dihibahkan ke daerah-daerah terpencil yang kesulitan transportasi, tentunya bila proses hukumnya sudah ingkrah.

Hadeeeuuuuh 

 

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Monday, July 29, 2019 - 20:15
Kategori Rubrik: