Fiqih Pengurusan Jenazah Corona

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Dari pada bengong berjemur kepanasan siang-siang begini, saya nulis dikit lah.

Jangankan yang wafat akibat corona, yang wafatnya biasa-biasa saja pun saya ogah dimintakan jadi nara sumber untuk menjelaskan tata cara pengurusannya.

Kenapa begitu?

Pertama, saya ini cuma tahu teorinya doang, belum pernah praktek betulan. Memandikan, mengkafani apalagi menguburkan, belum pernah saya lakukan. Kalau menshalatkan sih sering, 5 kali sehari kalau pas lagi di tanah suci.

Kedua, sebagai orang yang belajar fiqih empat mazhab, rupanya bab pengurusan jenazah ini banyak khilafiyahnya juga. Nggak beda dengan semua cabang ilmu fiqih umumnya. Malahan sesama satu mazhab pun juga banyak beda-beda.

Jadi agak panjang kalau kudu menjelaskan semua pendapat ditambah dalilnya masing-masing. Unsur ijtihadnya juga sangat kental. Kalau saya diminta jadi narasumber, pasti pada stress, kok isinya cuma khilafiyah melulu?

Ketiga, yang diatur dalam ilmu fiqih jenazah sebenarnya amat global. Tidak terlalu menukik dan tidak mendetail.

Tapi yang lebih sering diajarkan dalam training penyelenggaraan jenazah saya perhatikan malah kebanyakan masalah teknis kecil dan njilmet.

Padahal kebanyakan cuma unsur improvisasinya, unsur kearifan lokal dan ijtihad masing-masing trainner saja.

Hal ini berdasarkan pengalaman diminta jadi nara sumber pelatihan, yang mana pesertanya banyak dari kalangan profesional. Mereka malah sudah pengalaman berpraktek.

Lalu ternyata sesama mereka pun saling tidak sepakat juga, dan saya duduk di tengah jadi wasit pertandingan. Hehe

Maka ketika saya diminta untuk menjelaskan bagaimana penanganan korban corona, tidak terlalu saya ladeni. Kenapa?

Yang tanya itu bukan orang yang akan praktek melakukannya. Tanya cuma pensaran penfen tahu doang. Kadang cuma buat dikonfrontir dengan ustadz lain, semacam diadu-domba gitu lah.

Padahal kita semua tahu bahwa yang boleh melakukannya sebatas para petugas resmi saja. Kalau pelatihannya khusus untuk petugas, oke lah. Tapi kalau buat umum, yang tidak ada kepentingannya dengan tugas-tugas khusus, buat apa juga.

Hal ini agak berbeda dengan ilmu fiqih waris. Sebagai calon ahli waris, kita pasti akan direpotkan dengan hitung-hitungan waris dengan sesama saudara. Satu saja ada yang ngotot semaunya ngelanggar ketentuan, yang lain otomatis jadi korbannya.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, April 3, 2020 - 16:00
Kategori Rubrik: