Fiqih Kontemporer #1 : Melawan Gravitasi dan Waktu

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Di zaman modern dengan kemajuan teknologi, manusia menemukan pesawat terbang. Dengan pesawat terbang, manusia bukan hanya bisa melawan gravitasi, namun juga bisa 'melawan' waktu. Sebab manusia bisa bergerak dengan kecepatan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Kalau kita naik pesawat terbang komersial ke arah Barat seperti kalau mau haji atau umrah ke Arab sana, maka jam berbuka puasa kita akan molor. Ketika kita melihat jam tangan, meski sudah jam 18.00 untuk waktu DKI Jakarta dan sekitarnya, namun dalam pandangan kita, matahari masih sangat tinggi. Terbenamnya masih lama, kira-kira masih 3 jam lagi.

Itu saya alami sendiri ketika di bulan Ramadhan saya terbang ke Arab. Flight Attenden menanyakan saya apakah mau berbuka puasa sesuai jam Jakarta, atau waktu berbuka di Arab, atau waktu setempat?

Saya jawab dengan mantab bahwa nanti saja, kalau saya sudah melihat matahari itu terbenam. Sekarang meski sudah jam 18.00 di Jakarta, tetapi posisi matahari masih sangat tinggi di langit.

Dan ternyata baru tiga jam kemudian matahari itu terbenam di mata saya. Saya lirik jam tangan, wah sudah jam 21.00 di Jakarta. Hehe puasa saya bonus tiga jam nih.

Penjelasannya secara eksak begini. Bumi kita berputar pada porosnya sekali putaran setiap 24 jam (satu hari). Padahal panjang lintasan terjauhnya adalah garis khatulistiwa, yang mana panjang lintasannya mencapai 40.000 km.

Dengan begitu, saya bisa menghitung dengan mudah, bahwa kecepatan semu matahari bila dilihat di khatulistiwa adalah 40.000 km dibagi 24 jam, yaitu setara 1.666 km/jam.

Kecepatan pesawat yang saya tumpangi hanya 900km/jam. Seandainya lebih digenjot lagi hingga 1.666km/jam, akibatnya posisi matahari seolah-olah tidak berpindah dari tempatnya dalam pandangan saya.

Maksudnya bila kita naik pesawat jet dengan kecepatan mencapai 1.666 km per jam, maka kita akan menyaksikan bagaimana matahari terus menerus ada di atas kepala kita, tidak bergeser sedikit pun ke arah Barat kita.

Malah bila kita naik pesawat jet supersonic yang kecepatannya bisa sampai 2 hingga 3 kali kecepatan suara , matahari tidak lagi bergerak ke Barat tetapi malah bergerak mundur ke Timur.

Kecepatan suara itu setara dengan 1.000 km per jam. Dua kali kecepatan suara itu berarti 2.000 km/jam. Kecepatan seperti ini bisa dipecahkan oleh pesawat tempur F-14 dengan kecepatan maksimal 2245 km/jam, F 15 Eagle 3.000 km/jam dan F-16 mencapai 2.413 km/jam. Sukhoi SU 35 buatan Uni Sovyet itu malah konon bisa mencapai 2.930 km per jam.

Semakin jauh terbang, pilot akan merasakan hari bukannya semakin siang, tetapi malah semakin pagi. Karena dia berhasil menyalip matahari yang 'terbangnya' hanya dengan kecepatan 1.666 km/jam.

Disitulah terjadi kejadian aneh, yaitu kita melawan waktu secara semu. Kita tidak maju tetapi mundur dalam ukuran waktu lokal.

Dalam kasus kita belum shalat Zhuhur padahal sudah masuk waktu Ashar, bisa dong kita kejar saja matahari itu dengan naik jet tempur yang kecepatannya 3.000km/jam, maka tiba-tiba kita merasakan matahari seperti jam 2 siang dan belum masuk waktu Ashar.

Asyik kan?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Wednesday, February 26, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: