Financial Freedom

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Mengapa di Cina pengusaha pemula sangat mudah memulai bisnis ? tanya teman saya ketika berkunjung ke China. Saya tidak akan menjawab secara retorik. Tetapi saya ajak dia pergi ke pasar grosir. Kebetulan dia mau beli barang untuk oleh oleh. Baru saja selesai belanja, kami diikuti oleh anak muda. Anak muda itu menawarkan barang yang sama dengan harga leih murah. Teman saya terpancing beli agak banyak dibawah cargo bebas bea. Lah, dari mana anak muda itu dapat barang? toko engga punya. Saya bertanya kepada staff saya yang ikut dampingi saya. “ Kemana anak muda itu? Karena anak muda itu minta izin pergi sebentar setelah harga cocok. Belum sempat saya mendapatkan jawaban, anak muda itu sudah datang membawa barang pesanan. Transaksi terjadi.

Staff saya mengatakan bahwa anak muda itu dapatkan barang dari grosir langganan dia yang lebih murah. Darimana dia dapatkan uang untuk ambil barang itu? Dari fitur hp. Apa fitur itu? Staff saya menunjukan hpnya dan memperlihatkan aplikasi pembiayaan dalam bahasa china. Menurut statt saya, bahwa anak muda itu tergabung sebagai anggota Fintech. Dengan aplikasi itu, dia bisa langsung tawarkan peluang bisnis kepada anggota lain. Dalam hitung detik, ada yang ambil peluang itu. Deal terjadi. Anak muda itu langsung membayar kepada grosir melalui fitur epayment online. Nah ketika anak muda itu dapat uang hasil penjualan maka dia langsung setor ke ATM , dan seketika bagi hasil dengan pemilik uang terjadi secara cross settlment antar rekening virtual.

 

 

Di Guangxie juga ada pembangunan pasar milik rakyat. Pasar itu dibangun dengan pembiayaan gotong royong. Gimana caranya?. Pemda menunjuk Koperasi sebagai developer. Dari mana Kopersi dapatkan uang? Mereka menerbitkan unit penyertaan koperasi berbasis bagi hasil dengan underlying pembangunan pasar. Unit penyertaan ini di jual melalui fintech. Siapa pembeli Unit penyertaan itu ? ya konsumen pasar itu, pedagang, masyarkat setempat , termasuk dana pensiun. Penerimaan pasar itu berasal dari penyewaan dan penjualan kios dan jasa pengelolaan. Pasar terbangun tanpa ada keterlibatan developer besar. Benar benar dari rakyat untuk rakyat. Semua saling menjaga dalam ikatan cinta yang terhubung dalam sistem IT.

Nah bagaimana orang bisa percaya sebagai investor kepada Fintec berbasis barang dan proyek itu? Pertama, setiap member harus ada yang merekomendasi. Siapa itu? bisa LSM khusus membina UKM, bisa tokoh masyarakat yang dipercaya kredibilitasnya, bisa juga anggota lama yang sudah teruji track record nya bagus. Kemana uang investor itu ditempatkan ? bukan ke rekening pengelola fintech tetapi ke rekening escrow yang diawasi negara, dalam bentuk virtual account yang otoritasnya ada pada pemilik uang. Jadi tidak mungkin pemilik Fintech kumpulin uang orang banyak masuk kerekeningnya. Perpindahan uang dari investor /kreditur ke peminjam atau pengguna dilakukan secara cross settelement antar rekening secara real time.

Manfaat fintech ini meluas. Para pabrikan yang punya stok dapat menawarkan warkat gudang ke publik lewat fintech, sehingga dapat membantu pabrik melancarkan likuiditas nya sampai barang bisa dijual. Para petani juga dapat menjual panen didepan sebelum panen terjadi dengan skema future price . Sehingga petani terbantu dari jatuhnya harga ketika panen. Para kontraktor juga mendapatkan uang dengan mudah lewat fintech ini. Dengan adanya SPK, mereka bisa bisa menjual unit revenue bond kepada members Fintech. Bahkan perusahaan leasing mendapatkan dana dari fintech.

Makanya sekarang di CHina terjadi PHK besar besaran disektor perbankan. Karena tekhnologi bank semakin maju sebagai financial gateway bagi terjadinya fintech ini. Leading dibidang Fintech ini adalah Agriculture bank of china. Maklum nasabah mereka petani.

Kekuatan fintech ada pada komunitas. DDB punya komunitas 53.000 tersebar diseluruh Indonesia. Babo akan bantu start up equity sebagai venture. Tergantung DDB mau engga ? Saya berharap agar komunitas DDB ini dapat membangun fintech yang berbasis barang dan Proyek. Bukan berbasis kertas. Mari bergandengan tangan untuk indonesia lebih baik.

Pahamkan sayang.

 

(Sumber: Fanpage Diskusi dengan Babo)

Monday, March 5, 2018 - 23:15
Kategori Rubrik: