Filosofi Jawa

ilustrasi
Oleh : Buyung Kaneka Waluya
 
Bacaan berat...:
Jawa itu...; bukan sekedar kita lahir dari garis keturunan suku Jawa..., tetapi lebih dari itu.
Jawa itu mengerti..., memahami.., dan karena dari pemahaman itu lah kita melakoni hidup dengan penuh kepasrahan/sumeleh.
Menerima dengan ikhlas semua yang terjadi..., karena apa yang kita terima adalah apa yang kita tanam dulu.
Mengerti hakikat hidup bukan karena belajar dari katanya..., tetapi mengerti karena mengalami dan menjalaninya sendiri (sinau marang nglakoni).
Pijakannya dari sifat rendah hati dan mau belajar...; tetap mendengarkan meskipun kita sudah mengerti.
Dari sini..., kita belajar untuk berada/menjadi saat ini.
Ada hal-hal yang pasti dialami oleh semua orang..., tidak melihat orang itu miskin atau kaya.
Hal-hal tersebut adalah...: senang..., sedih..., sehat..., dan sakit.
Ke empat hal tersebut..., juga merupakan penderitaan yang diikat oleh dualitas hukum semesta.
Untuk mengerti yang 'satunya'..., kita harus mengalami yang 'lainnya'.
Ilmu kita itu sederhana...:
"Lakonilah jalannya hidup..., dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan...".
Lebih bagusnya lagi...; tahu apa yang tersembunyi di balik lakon kita saat ini..., supaya mantap menjalani skenario hidup.
Sadarlah bahwa kita hidup saat ini..., detik ini.
Lapang dada lah dengan apa yang kita miliki saat ini..., begini dan seperti inilah yang tetap harus kita jalani.
Kalau kita bertanya-tanya tentang hidup..., maka jawaban atas pertanyaan itu tidak akan terpuaskan dengan hanya mendengar ataupun membaca.
Hayati tanda hidup yang paling dekat dalam diri kita.
Mengetahui yang sejati adalah satu-satunya jalan untuk mengubah seluruhnya..., seluruhnya itu ya pola pikir..., paradigma..., wawasan..., perilaku..., dan kebijaksanaan.
Itu semua sangat mungkin diketahui dengan sendirinya.
Tanpa proses belajar secara formil..., tetapi mengikuti kapasitas masing-masing.
Relung kosong dalam diri manusia mengajarkan..., bahwa hidup itu bukanlah pikiran..., bukanlah kekhawatiran atas apa yang belum terjadi..., bukan pula kesedihan yang berlarut akibat masa lalu.
Pembelajaran kita..., ditunjang oleh fungsi pancaindera.
Di saat yang bersamaan..., pancaindera itu jugalah yang sebenarnya membatasi kita untuk memahami bagian terdalam dari diri kita.
Tidak usah memaksakan untuk mengerti..., proses yang akan mengajarkan kita.
Berlatihlah hening untuk mencapai kosong..., dan itu akan menjadi jalan untuk mengerti apa yang tidak terjangkau oleh indera dan pikiran kita.
Sadarilah..., siapa yang mengamati semua itu.
Rahayu....
 
Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya
Tuesday, September 22, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: