Film The Santri dan Sejumlah Kontroversinya

Oleh: Vinanda Febriani

Lagi-lagi dunia perfilman tanah air agak dihebohkan dengan rislisnya trailer film The Santri yang disutradarai oleh Livi Zheng. Kecaman demi kecaman melanda. Ada yang pro, ada yang kontra. Beberapa kawan sefakultas dengan saya ikut-ikutan mengecam, saya berada di kubu mana?

Saya tentu saja pro dengan film ini. Karya anak bangsa, kenapa kita tidak bangga? 

 

Sebagaimana viralnya kecaman terhadap film "A Man Called Ahok" dan "Dua Garis Biru" beberapa waktu kemarin, saya tetap di barisan pro dengan film tersebut. Saya beranggapan kuat bawa film adalah karya seni. Tidak semua orang bisa membuat film yang bagus. Tapi semua orang bisa nyinyirin film. 

Berikut dua point yang dianggap sangat kuat menyalahi budaya santri dan pondok pesantren:

Pacaran?
Halah! Kayak gitu kok dikritik. Saya yakin di ponpes manapun, sebagian santri ada yang pacaran (meski diam-diam). Lha wung pengalaman di ponpes saya dulu, seangkatan yang enggak pacaran cuma berapa aja kok, bisa dihitung (termasuk saya). Lirak-lirik lawan jenis di ponpes itu biasa (kalau dari radius agak jauh). Surat suratan yo biasa ae, Suwat-suwit yo lumrah ae, lapo dikritik?! Kon kayak durung nate kesemsem mbi mbak/mas pondok ae leee...! Seng penting ngaji kitab.e lancar, ngunu ae!

Ngasih Tumpeng ke Pendeta?
Yah, sayangnya di Indonesia toleransi masih menjadi perdebatan antar umat bereman. Soal adegan ini, ada yang pro dan kontra. Saya sih masih kuat di barisan yang pro. Memang ini bukan budaya pesantren, adegan seperti ini saya merasa berlebihan untuk hal toleransi. Tapi karena sudah terlanjur, ya masa filmnya mau direvisi lagi, kayak buku aja. Terus entar di covernya dikasih tulisan: Edisi Revisi. Hmmm... lawakan yang sama sekali Galucu!

"Santri kok masuk gereja?"
Lha terus, masalah gitu?
Nih ya, di Magelang ada tuh 'Pondok Pesantren Selamat' yang santri-santrinya diajak untuk bertoleransi. Masuk gereja biasa, vihara, klenteng, terus apa lagi? Itu biasa. Jadi panitia kegiatan lintas iman yo mereka biasa ae, ora baperan kayak kowe. Memang santri dituntut untuk membumikan toleransi, biar nggak membawa kesan bahwa santri anti pada umat agama lain. Soalnya, santri itu kader istimewa di negeri ini. Kalau sampai anti keberagaman, Indonesia bisa bubrah!

Saya memang kurang setuju dengan adegan Wirda Mansur yang memberikan hidangan tumpeng saat Misa di Gereja kepada para Pastor. Kenapa tidak di luar saja? Eh tapi, karena saya belum nonton versi lengkapnya, jadi saya belum bisa mengkritik lebih lanjut. Heheu...

Kenapa harus tumpeng? Kenapa tidak nasi+sayur terong+ lauk pauk dsb? 
Tumpeng adalah penyajian makanan tradisi khas Indonesia. Kalau nasi biasa saja, yo tidak istimewa. Ada properti yang harus berbeda dalam sebuah film, agar kesannya tidak datar dan biasa-biasa saja. 

Itu dua point yang jadi kritikan pedazz netijen bereman yang suci penuh brewok di Indonesiah. Kebanyakan mereka sih kalau saya nilai, cuma modal copast dan ikut-ikutan aja. Lha nonton filmnya aja belum, halah jangankan film, trailernya aja belum, ngarti siapa sutradaranya saja kagak kok udah main menghakimi film. 

Situ sutradara bukan, bisa aktion enggak, muka filmable kagak, kreatif kagak, hobinya nyinyirin film orang. 

Poin yang saya tangkap berdasarkan nyinyiran kaum bereman tersebut, sebenarnya nyinyiran mereka kepada film The Santri hanya sebagai pelampiasan saja. Lihat di hari santri sebelum-sebelumnya, apa yang mereka nyinyirin? Soal penetapan 22 Oktober sebagai hari santri nasional, bukan? Jadi nyinyiran ini pasti dimaksudkan untuk menyerang HSN 22 Oktober mendatang, Film The Santri hanya sebagai pelampiasan aja. 

Mbak Livi Zheng, Selow aja. Lanjutkan karya kreatifmu!
Netijen indonesiya yang bereman dan berakal kurangsehat mah biasa begituh, udah gabisa kreatip, hobinya nyinyirin karya orang lain. Manusia kekmacam gitu, udah buang jauh-jauh aja, unpaedah kalo kata Mba Irfimah.

 

(Sumber: Facebook Vinanda F)

Sunday, September 15, 2019 - 20:15
Kategori Rubrik: