Film Hanum Dan Rangga, Menabur Angin Menuai Badai

Ilustrasi

Oleh : Dimas Supriyanto

Meski saya belum menonton ‘Hanum dan Rangga: Faith in The City’, saya yakin film itu tidak buruk. Kalau pun ada banyak adegan yang penuh ‘keajaiban’ dan tidak masuk akal, itulah film – mengapa sebuah kisah drama difilmkan – karena memang tidak biasa.

Lebih dari itu, saya kenal orang orang yang terlibat dalam produksi film itu, setidaknya dalam kapasitas saya sebagai jurnalis film.

MD Pictures dan A Manoj Production sebagai produser adalah salahsatu perusahaan film terbesar di Indonesia saat ini. Manoj dan Dhamoo (MD) Punjabi terasah puluhan tahun membuat film dan sinetron – keduanya merupakan sempalan / pecahan dari PT Multi Vision Plus (Raam Punjabi) yang juga pernah menjadi Raja Sinetron Indonesia di era 1990-an.

Film film produksi MD Pictures yang meraup jutaan penonton, antara lain biopic ‘Habibie dan Ainun’ (4,5 juta penonton), ‘Ayat Ayat Cinta’ (3,5 juta) dan ‘Rudy Habibie’ (2,2 juta penonton).

Acha Septriasa, selaku bintang utama dan pemeran wanita, dikenal sebagai aktris termahal di jajaran aktris film Indonesia saat ini. Pernikahannya dengan Vicky Kharisma (2016 lalu) dan kepindahannya ke Sidney, Australia, tak menyurutkan popularitasnya sebagai artis papan atas Indonesia saat ini.

Demikian pula dengan Titi Kamal yang jadi ‘supporting’-nya, merupakan artis orbitan Rudi Soedjarwo (Mendadak Dangdut, 2006), Riri Reza (‘Ada Apa dengan Cinta’ dan AADC 2) dan baru baru ini sukses dengan dua sequel film komedinya, ‘Insya Allah Sah’ arahan sutradara Benni Setiawan.

Rio Dewanto, pasangannya, sebagai pemeran pria, juga merupakan aktor kredibel. Dia bukan semata mata bintang laris papan atas - sudah main di 25 judul film - melainkan juga produser yang mempertaruhkan uangnya untuk membuat film bermutu. Bukan tipe orang film yang mencari untung dan mengejar pasar. Didukung Alex Abad, eks VJ MTV dan Arifin Putra.

Sutradara film ini, Benni Setiawan juga bukan sineas sembarangan. Dia alumni IKJ, berkarya sejak 2009, mendapat gelar ‘Sutradara Terbaik FFI 2010’ dan sudah membuat sembilan judul film, sebagiannya laris di bioskop.

Intinya, secara artistik, tak ada masalah dengan tim produksi film ‘Hanum dan Rangga : Faith in The City’ atau H & R.

MASALAHNYA ada pada sosok HR sebagai pemilik cerita. Dia seorang megalomania, narsistik tingkat akut, politisi pemula yang mewarisi DNA ayahnya, DR. Amin Rais, yang gemar melontarkan hoax, kebencian, dan rajin menyerang lawan politik dan mereka yang berseberangan dengan opininya, dengan kata kata setajam sembilu. Menyakitkan hati.

HR dan AR adalah orang yang suka memuaskan egonya dan memonopoli kebenaran. Hanya dia yang benar, yang lain salah. Jika dia pura pura merendahkan diri dan menempatkan diri sebagai korban, maka dia tetap melontarkan kata kata yang menikam. Nyelekit.

Dua minggu sebelum dirilis, saya mendapat bocoran curhat dari produser MD Pictures bahwa mereka cemas dengan kasus Ratna Sarumpaet yang menyeret nama HR. Mereka sangat was-was, bahwa nama HR yang cacat akan menyeret film yang telah diproduksi dan siap diedarkannya.

Dan kecemasan itu menjadi kenyataan.

Seharusnya HR tiarap, dan menyerahkan film ke produser, sebagai karya seni untuk ditonton. Tapi HR bukan tipe itu. Dia gencar promosi filmnya - kali ini lebih gencar dibanding film sebelumnya, ‘99 Cahaya di Langit di Langit Eropa’ dan dengan agresif pula melakukan serangan kepada film Ahok.

Entah gagasan siapa, film ‘Hanum dan Rangga’ dimajukan penayangannya, menjadi 8 November 2018, sehingga “adu kepala” (‘head to head’) dengan film ‘A Man Called Ahok’. Sama sama drama ‘biopic’ . Padahal sebelumnya H & R dijadwalkan 15 November.

Ketika Perfin masih mengatur peredaran film nasional, hal itu tak dibiarkan karena akan merugikan sesama insan film dan artisnya. Film film Rhoma Irama dan Warkop Prambors / DKI tak pernah tayang bareng, karena akan berebut penonton di waktu yang sama, dan merugikan keduanya.

Tapi kini Perfin tak ada tulangnya. Maka ‘head to head’ antara H & R dan Ahok terjadilah.

SAYA belum pernah membaca ulasan film yang begitu gamblang, sehingga saya merasa tak perlu menonton filmnya lagi, karena begitu detil digambarkan kelemahannya. Saya membaca ulasannya di laman provoke-online membuat hati terkili-kili. Judulnya, “Pengalaman Gue Nonton Film Hanum Rangga”.

Penulis ulasan, yang berlatar belakang wartawan dan insan pertelevisian itu, Chandra Aditya mengungkap, bagaimana absurdnya film H & R. Dikisahkan tentang seorang wartawan muda, yang mendapatkan tawaran magang liputan di New York (tidak masuk akal 1) mendapat fasilitas apartemen mewah di Manhattan (tidak masuk akal 2), diminta mengejar rating 10 dalam waktu 3 minggu (tidak masuk akal 3) dan sesudahnya mendapat kontrak seumur hidup (tidak masuk akal 4).

“Apakah normal bagi anak magang dapet beban segede itu?” tanya penulis dengan background orang teve itu.

Ketahuilah, bahkan seorang Larry King, Barbara Walters, Ellen DeGeneres, jurnalis Amerika lainnya yang mendunia, tidak sehebat itu!

Dan di kantor, saya pun ngurusi anak magang, mahasiswa jurnalistik, tak berani menurunkan ke lapangan sebelum tulisannya beres. Dan itu lebih dari seminggu.

Itu dari sisi jurnalismenya. Belum keanehan kehidupan Manhattan yang penuh kebetulan karena selalu bertemu dengan orang Indonesia, membuat liputan bahasa Indonesia, dan sukses di New York City dengan acara teve dalam bahasa Indonesia. Padahal kantornya di Manhattan – New York, Amerika, dan mayoritas penduduknya bule.

Tak heran bila film ‘H & R’ menjadi bulan bulanan di media sosial. Di web IMDB.com, situs film internasional - rujukan orang film sedunia - penuh dengan kritikan dalam bahasa Inggris yang menyakitkan hati. Sampai tulisan ini ditulis ada 410 komentar dan ulasan. Tak semata mata dalam sudut artistik film melainkan juga skandal di belakangnya.

“This movie is not good, its only showing narcissistic and too much drama on it, better waste ur money for donation. the good side is this movie is not available in other country beside indonesia.” tulis pemilik akun @rainnheart pada 11 November 2018.

Komentator atas nama @emoticonshirt dengan meledek, menulis: “If you have imsonia and hard to sleep, may be you should watch this film. It was so boring from beginning till the end.”

Ada juga yang menjelaskan latar belakang yang bikin film ini : “The story of the daughter of an Indonesian politician who actually like did not contribute anything to this country. Somehow it was appointed as a film, maybe to promote her or her family political steps. And in this film it seems like everyone is against Islam? Films that sell religion like this are indeed the best at pretending to be victims. Don't waste your time and money for this,” tulis pemilik akun @inciteout.

Ada yang menganggap topik film basi : “I'm not enjoyed watching this movie because it feels not right & the story is actually only tells about a woman facing 2 options between career in New York and her family, that's all. Imho, you can easily know how the story ends”.

Ada juga yang membandingkanya dengan film sebelumnya, sebagaimana ditulis pemilik akun @orcinusorcha : “I have to admitted that the previous movie ‘99 Cahaya di Langit di Langit Eropa’ so much better than this one, eventhough the essence of the story relatively the same. To be honest, this one is not recommended at all. So sorry”

Sedangkan yang lain marah marah karena waktunya habis dipakai untuk film yang membosankan ini: “Oh my god, it wastes my time. just don't watch it. this movie is a garbage. wasting actor & actress. bad script. predictable. boring “ tulis akun @Sibesar

Bahwa sesungguhnya, netizen makhluk makhluk yang amat benar dan amat mengetahui. Dan mereka sangat pedih cuitan dan komentarnya.

Pada akhirnya HR harus menerima apa yang telah diperbuatnya. Reputasinya dihancurkan bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga di dunia internasional. Produser, sutradara dan aktor aktris yang bekerjasama dengannya ikut terseret.

Pada akhirnya, dia nangis sesenggukan minta maaf di instagram dan dikutip berbagi media, di sebelah suami tercinta yang ikut jadi korbannya.

“..kami ingin meminta maaf kepada Pak Manoj Punjabi, produser dari MD Pictures, Kang Benni Setiawan dan tim produksi serta jajaran artis. Hanya karena kata Rais yang melekat di belakang nama saya rekan rekan semua harus menerima juga hujan hujatan dan kata kata kotor. “

Nah, begitulah HR. Ngembet kian kemari - nendang kanan kiri. Dia dihujat karena di Twitter menuduh produser film Ahok “ngebom” tiket di bioskop - supaya tayangan diperpanjang. Padahal justru pihaknya mengerahkan partainya agar ‘nobar’ di mana mana. Tapi ketika dibalas, malah nama bapaknya dikaitkan. Lalu dia menempatkan diri sebagai korban dan merengek sembari merajuk lagi;

“Bagi mereka yang masih ingin menyalurkan hasrat hujatan atau ‘cyber bully’, silahkan dialamatkan kepada kami saja.. jangan melibatkan tim produksi dan artis yang sudah bekerja profesional siang malam untuk membuat karya film ini dengan sepenuh hati. Janganlah perbedaan politik harus menodai karya seni”.

Lucunya semua bermula ketika dia duluan menyerang film ‘A Man Called Ahok’. Pihaknya pula yang nantang memajukan jadwal tayang agar ‘head to head’. Lucnya pula, dia mengaku membuat film H & R untuk dakwah Islam yang mulia dan moderat - tapi dengan akhlak yang sebaliknya. Are you really that blind?

Kini film Ahok sudah melesat dengan sejuta penonton (produser dapat bagian sekurang kurangnya Rp.15 miliar) padahal suting di dalam negeri (Belitung) sedangkan H & R mentok di 200-300 ribu tiket (Rp.3-4 miliar), plus “maksa” nobar kemana-mana, padahal sutingnya di New York (high cost production alias film muahaal).

Dalam bahasa orang Jogya khususnya – sebagai asal usul HR dan AR - dan orang Jawa pada umumnya, HR sedang “ngunduh wohing pakarti” alias memetik buah yang dia tanam.

Atau mengutip judul buku yang kontroversial di era 1980-an, “Siapa Menabur Angin, Dia Menuai Badai”.

Kalau mau sok “Nginggris”, ada lirik lagu dari band jadul ‘Deep Purple’ :

You got yourself a load of trouble now /
You got yourself a bad deal /
You say I've got a bad attitude /
How d'you think I feel

Sumber : Status Facebook Dimas Supriyanto

Monday, November 19, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: