Film G 30 S

ilustrasi
Oleh : De Fatah
 
Film G30S PKI sebenarnya membuka borok TNI sendiri. Di Film itu sangat kental mempertontonkan konflik angkatan bersenjata masa itu. Tentara vs Tentara. Keterlibatan PKI hanya sedikit difilmkan disana.
Faktanya, yang memberondong Pahlawan Revolusi adalah tentara sendiri, entah alasan mereka patuh ikut komando atasan atau berafiliasi dengan PKI, faktanya mereka adalah Tentara. Gerakan malam biadab itu juga sebelumnya sudah dilaporkan ke Soeharto, tapi beliau membiarkannya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu, mengapa?
"The missing link" nya adalah Letnan Satu Dul Arief, komandan Pasukan Pasopati yang menjadi operator G30S. "Tangkap hidup atau mati" perintahnya. Orang ini lah yang mendapat perintah mengeksekusi para Pahlawan. Tapi, orang ini tidak jelas keberadaannya, pernah ditangkap, tapi tidak pernah diadili, ada yang bilang ditembak mati. Tidak pernah dipublikasikan secara jelas.
Letnan satu Dul Arief kabarnya adalah anak angkat alm Ali Moertopo. Beliau adalah algojo Soeharto dalam memberangus gerakan komunis dan Islam fundamentalis semasa kepemimpinan Soeharto, sekaligus perancang orde baru.
Sebelum penculikan, Yon 530 dari Brawijaya didatangkan ke Jakarta oleh Soeharto untuk defile hari TNI 5 Oktober. Kenyataannya, subuh 1 Oktober Yon 530 malah ikut kelompok tentara penculik Pahlawan Revolusi. Paginya, karena alasan kelaparan, hanya dibujuk dengan nasi bungkus, mereka tobat berbalik ke pihak Soeharto. Ini mau kudeta atau pasukan nasi bungkus?
Di Film itu memperlihatkan penculik berlindung di fasilitas Angkatan Udara. Padahal, lubang buaya untuk mengubur para Pahlawan itu bukan di dalam Lanud AU Halim. Tetapi di desa sekitar Lanud. Nama desanya Lubang Buaya, ada sumur tua disana. Karena itulah, dulu TNI AU keberatan dengan film tersebut.
Gerwani yang pernah dituduh menyongkel mata para Pahlawan namanya Sumini, pernah ditangkap, ditelanjangi dan disiksa sehabis-habisnya, dipenjara 6,5 tahun tanpa pengadilan. Akhirnya dibebaskan, karena tidak ada bukti penyiksaan fisik pahlawan revolusi oleh Gerwani.
Lagu genjer-genjer bukan lagu PKI. Lagu itu diciptakan di tahun 1942 lagu dolanan rakyat Banyuwangi. Liriknya untuk menyindir penjajahan Jepang. Rakyat desa miskin karena penjajahan akhirnya memakan tanaman genjer. Lagu itu dari dulu dijadikan alat propaganda.
Dan banyak lagi. Bagi saya, peristiwa itu adalah bagian dari sejarah kita, intinya yang sudah ya sudah. Belajar saja dari sejarah itu.
Penculikan dan pembunuhan para Pahlawan adalah perbuatan biadab, sama biadabnya dengan pelaku pembantaian kiai-kiai 1948 dan korban salah tangkap setelah 1965.
 
Sumber : Status Facebook G 30 S
Sunday, September 27, 2020 - 18:30
Kategori Rubrik: