Film Bokep Garin?

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Garin Nugroho membuat film bokep? Itu berita yang saya tahu dari berbagai tudingan. Bukan sesuatu yang aneh, meski tetap menyedihkan. Pada sisi itu, saya bersyukur Prabowo tak menang Pilpres 2019. Hubungannya?

Setidaknya dalam kekhawatiran saya, jika Prabowo menang, akan memberi ruang para pendukung di belakangnya. Para yang gemar klaim dan paling baperan soal moralitas umat manusia.

 

Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’, beberapa hari sempat tayang di bioskop, tiba-tiba diturunkan dari layar. Alasannya kontroversial. Bau pornografi, promosi LGBT, dan tudingan horor lainnya.

Film ini telah pernah diputar di Yogyakarta, wilayah yang acap dituding intoleran (Desember 2018). Di bioskop umum. Bebas tanpa sensor. Dan tak menimbulkan kehebohan berlebih. Komentar yang muncul, lebih ke soal teknis dan artistik. KTI seperti film bertema kemanusiaan lainnya. Tentang manusia yang tertolak sejak kelahirannya. Pesan moralnya jelas. Bagaimana kita membuka diri pada perbedaan dan menerima dengan cinta.

Jika pesan itu luput, dan ditanggapi dengan pembacaan beda, itu soal literasi. Jangankan baca media online atau koran, baca buku saja, bisa mingslep. Apalagi baca film, dan ndilalahnya film Garin. Itu sempat mencemaskan dulu, ketika saya menontonnya. Bakal digencet jika diputar di Indonesia. Berbagai tudingan a moral bakal bermunculan. 

Film KTI sudah melanglang ke berbagai negara. Bukan sekedar apresiasi, melainkan juga menyabet beberapa penghargaan internasional. Kita tahulah bagaimana Garin Nugroho, secara teknis dan konseptual, dalam melakukan eksplorasi teknis dan eksploitasi tema, yang bisa kontroversial namun juga sangat interesting.

Namun kita tahu kemudian, bagaimana KTI di dalam negeri sendiri, mendapat perlawanan tak senonoh. Bahkan dilarang untuk ditonton? Itu bagian dari risiko kreativitas. Meski segala bentuk pelarangan karya seni, pada dasarnya hanyalah bentuk ketaksiapan masyarakat menonton sejarah hidupnya. Kita tahu akibatnya kelak, bahwa pribadi tertutup akan makin membekukan diri dalam involusi. Dan mereka akan makin ditinggalkan. 

Art, freedom and creativity will change society faster than politics, ujar Victor Pichuk, pengusaha dari Ukraina. Seni, kebebasan, dan kreativitas akan mengubah masyarakat lebih cepat daripada politik. Sementara politik yang selalu eksploitatif, menungganggi, dan membuat lamur, makin tak memahami diri. Apalagi ketika agama makin jatuh ke politik pembekuan, difrozen dogma-dogma. 

Kau takkan pernah berhasil melihat dirimu sendiri, dan akan selalu gagal melihat orang lain. Jika kita tidak memelihara keadilan, keadilan tak akan pernah memelihara kita, ujar Francis Bacon. Dan kita akan terus mengulang. Kebodohan demi kebodohan itu. | (Sumber: Facebook sunardianwirodono)

Wednesday, May 1, 2019 - 23:30
Kategori Rubrik: