Film Ayat-Ayat Cinta, Pembenaran terhadap Propaganda Poligami

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Kenapa novel-novel yang diberi label islami, juga film-filmnya, lebih laris dibandingkan novel dan film dengan bobot serupa tanpa label demikian? Karena fanatisme. Dogma.

Saya membaca kekristenan dalam novel-novel Paulo Coelho, tapi bukan fanatisme yang dia jual. Berbeda halnya dengan novel-novel dengan label islami yang kebanyakan membebek dogma. Mereka tidak berani memberikan kritik, mewacanakan kesektean, membuka jendela pemahaman berbeda. Para kreator itu sibuk mengkultuskan agama dalam bentuk kreativitas kebudayaan. Hasilnya menjemukan.

 

 

Novel dan film dengan label islami banyak yang tidak berani mempertanyakan Tuhan, ayat suci, tokoh agama. Karya kreatif macam apa itu, yang hanya bisa mengekang kebebasan berkarya dengan dogma? Sementara non-muslim dengan bebas mengkritik Noah, Moses, Yesus, di sisi lain, menggambar Muhamad saja menyulut peperangan ke hampir seluruh negara mayoritas muslim.

Menurut doktrin Islam, menggambar Muhamad tidak dibenarkan, tabu. Memangnya membuat gambaran Yesus punya istri tidak tabu? Menggambarkan Noah sakit jiwa tidak terlarang? Mempertanyakan logika mukjizat Moses tidak berbahaya? Coba jika hal itu dilakukan di jaman kegelapan Eropa.

Hal itu menunjukkan jaman kegelapan Eropa itu masih menjangkiti hampir seluruh umat Islam di dunia. Kita tidak fokus pada substansi agama, tapi sibuk pada perkara sepele seperti penetapan hari raya, boleh tidaknya ziarah, soal pemurnian agama.

Umat Islam jauh terbelakang, bahkan dalam urusan membuat novel dan film.

Ayat-ayat Cinta (1 dan 2) adalah contoh buruk penggambaran dogma Islam itu dalam bentuk karya kreatif. Kreatornya terbelunggu dogma. Mereka tidak berani melangkah lebih maju pada tafsir baru. Mereka menciptakan situasi yang membenarkan poligami. Dan yang lebih buruk, menjual ilusi Islam ala Arab, seperti kultus bercadar, atau tidak boleh bersentuhan kulit antar lawan jenis meski dalam kondisi darurat.

Islam dalam gambaran film ini bukan Islam Indonesia. Ia Islam bentukan pola pikir kebudayaan arab yang eksklusif dan terpisah. Islam dongeng padang pasir yang dipenuhi keagungan palsu, berbeda jauh dari kenyataan. Pendek kata, tak berani memberikan kritik pada kebobrokan dalam Islam. Baik dari kehidupan masyarakat muslim atau pemelintiran tafsir demi berbuat kekerasan.

Film ini sibuk menyalahkan umat lain terkait islamophobia. Lalu menjadikan sosok sempurna Fahri sebagai representasi Nabi yang tanpa cela.

Dalam aras dogma yang sama, film Surga yang Tak Dirindukan atau Perempuan Berkalung Sorban misalnya, lebih sedikit berani memberikan "jalan setapak lain" bagi konsumennya. Namun Ayat-ayat Cinta menunjukkan pola pikir dogmatis nyaris tanpa kritik. Perempuan dalam Ayat-ayat Cinta dieksploitasi, dikalahkan, dikesampingkan. Mereka inferior, gampangan, murah.

Fahri yang mewakili gender maskulin dalam film ini begitu berkuasa dan memiliki hak istimewa untuk memilih beberapa perempuan. Ciri khas pemikiran patriarkhis. Sampai-sampai (seperti meme yang meluas itu) Keira harus mengemis-ngemis meminta dinikahi.

Poligami dalam Islam adalah jalan keluar dari kebuntuan. Hanya jalan tikus sempit, bukan akses utama. Kelompok yang mempropagandakan poligami secara berlebihan (termasuk Kang Abik) tak memahami konsensus ini. Lalu dengan tak malu memberi label Sunah Nabi. Padahal sejarah kenabian bercerita lain, bahkan itu upaya untuk mereduksi poligami Arab bar-bar.

Ayat-ayat Cinta adalah corong dari ketak-pahaman ini. Ia menjual pola pikir keliru kaum awam atau kelompok alim yang diuntungkan dengan dogma terpelintir ini. Dan pantas saja, distribusi awal novel ini adalah kalangan pesantren. Mereka pasar empuk untuk menjejalinya dengan komoditi ini tanpa pertanyaan. Maka tak heran, dalam waktu singkat, omong kosong semacam itu terjual habis. Begitu juga ketika ia dibuat film.

Selain dalam soal pembenaran poligami, Ayat-ayat Cinta juga menampakkan superioritas islam. Ia bukan jenis karya dengan cara pandang universal. Ilusi kehidupan berpola pikir islami, kearaban, dijadikan bumbu utama. Ia menjadi kreasi narsistik yang berlebihan. Di alam bhineka tunggal ika, pandangan picik semacam itu melukai.

Kemunduran Islam disebabkan kaum narsistik-dogmatis ini terus lahir dan merajalela. Kemunculan "salafisme" yang dimotori Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang tujuan awalnya adalah moderatisme, bahkan juga dibelokkan menjadi ekstremisme atau radikalisme beragama. Berbalik 180 derajat. Maka yang mengaku salaf sekarang ini yang cingkrang, berjenggot panjang, sedikit-sedikit bilang bidah, syirik, sesat.

Bahkan yang lucu, dai-dai ember delusionis itu sering pamer kemajuan jaman keemasan islam (Daulah Abassiah atau sesudahnya), padahal saintis muslim saat itu banyak yang muncul dari sekte pemuja akal (Mu'tazilah). Bukan dari koloni besar seperti Sunni atau Syiah.

Maka jika islam "Miskin" saintis kelas dunia sekarang (kalaupun ada beberapa, kebanyakan dari Iran yang dicap sesat), kita harus menyalahkan pola pikir ini. Buku-buku perkawinan sains dan agama yang memalukan akal sehat dipuja-puja. Hanya gara-gara menguntungkan dogma Islam. Dan yang menyedihkan, hal ini juga meracuni dunia kebudayaan, dengan karya kreatif yang terkekang dogma. Dalam hal ini film. Padahal seni mestinya membebaskan dirinya lebih dulu sebelum membebaskan tafsir penikmatnya.

Saya tahu, tulisan ini tidak akan populer, bahkan mungkin akan dicemooh, karena menjadi kelompok buih di lautan itu menyenangkan. Bodoh, narsis-dogmatis, tumpul, terombang-ambing, tapi merasa tercerahkan karena mayoritas.

Di luar risiko itu, saya berharap lahir penulis dan film-maker yang berwawasan luas. Jikapun hendak membawa embel-embel "islami" mereka berani menggugat Tuhan, mempertanyakan kemapanan, melawan ilusi kehidupan islami yang palsu dan sangat kearaban itu. Atau setidaknya jangan membuat film seburuk Ayat-ayat Cinta yang narsistik-dogmatis, murahan, tak masuk akal.

Namun saya sadar, karya semacam itu bakal tidak laku. Kaum buih di lautan akan menolak diajak berpikir dan keluar dari zona nyaman. Kita sedang hidup di jaman kegelapan Islam dan akan terus diseret jauh ke dasar yang lebih gelap. Melalui buku-buku dan film dengan embel-embel islami yang buruk seperti Ayat-ayat Cinta.

Rasanya ingin tidur seribu tahun dan bangun lagi saat jaman kegelapan yang menimpa Islam ini berakhir...

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Tuesday, January 2, 2018 - 22:30
Kategori Rubrik: