Fiksi Misi

Oleh: Iyyas Subiakto

 
 

Ohara teman saya dariTokyo ketemu saya pada international meeting thn 1991, di Miami Florida, dalam presentasi peserta dari Korea yg waktu itu bahasa inggrisnya unda undi dgn saya dan Ohara, tidak bisa melanjutkan presentasi krn buntu. Ohara bersuara pelan, makanya jangan terlalu lama main dgn Dakocan ( dakko chan ), adalah boneka plastik hitam yg diproduksi oleh Takara Vinyl thn 1960 di Yokohama.

Saya bertanya kenapa dan apa arti kiasan itu. Ohara menjawab, Dakocan adalah boneka yg isinya angin, kadang diisi mainan. Malamnya dia menjelaskan maksud yg dia sampaikan, bahwa bergaullah dgn orang yg berilmu, jgn yg isinya angin atau mainan, karena kita gak bisa dapat apa-apa darinya. Dan kalau kita berteman dengan orang yg gak punya ilmu, lama-lama hidup kita ngilu. Wong kang bener kumpulono.

 

 

Kebayang Pak Prabowo dan Sandi yg katanya sempat minta gak ada debat, sekarang dengar-dengar Visi Misi sebagai salah satu syarat dalam pendaftaran capres mau minta direvisi. Visi kan sebuah gagasan jangka panjang, dan Misi bagaimana cara mencapainya. Kalau Visinya minta di revisi kok ya lucu, 2 kali berani nyapres dan bilang Indonesia akan bubar, serta rakyat Indonesia 99% miskin, atau bangun tol gak pakai hutang, atau bagaimana agar infrastruktur gak dimakan,bla bla bla, itu semua kan difokus sbg kejelekan dan ketidakmampuan Jokowi, tinggal ambil data, buat rencana 5,10,25thn sbg dasar Visi Misi, selesai. Tapi beratnya memang dasar ngomong yg kemarin itu, kalau gak ada ya itu tadi, jadi boneka Dakocan, isinya angin, atau mainan.

Paslon no.2 ini bukan seperti makan buah simalakama, tapi makan manggis sama kulit-kulitnya, main tebak isi saja, walau tanda diluar sama dengan isinya, tapi kalau digigit bersama kulitnya, ya gak karuan rasanya. Indonesia bubar, bisa, misal ada perang dunia. Rakyat miskin, ada, tapi ya bukan semua, infrastruktur, gak dimakan ya memang, tapi kan untuk membawa kebutuhan, salah satunya makanan. Ini semua karena beliau kawan ama Dakocan, dengerin ocehan Neno Warisman, Rachael Mariam, Fadli Zon, dan sejenisnya, terus medianya Tvone, klop, membangun stigma benci dengan yg namanya kebenaran, semua kerjaan Jokowi disalahkan. Presiden yg dipilih 70juta rakyat Indonesia dan giat bekerja, terus dianggap gak bisa kerja oleh manusia yg gak jelas hasil karyanya, ya orang buta tuli saja tau kalian itu siapa. Sebentar lagi bisa gila.

Kenapa Visi mau direvisi, karena mungkin membuatnya asal isi, biar keren kasi saja yg panjang tulisan, kalau mereka bukan Dakocan, harusnya jalan dulu baru direvisi karena kebutuhan setelah dijalankan diperlukan perbaikan, itu yg lazim. Hidup saja perlu revisi, apa lagi rencana kerja, tapi kalau membuat Visi gak pakai hati, ya itu tadi, ditanya Visi Misinya apa, oh sedang direvisi. Ini kan akibat kebanyakan ngomong fiksi, makanya Visi menjadi tak berisi. Disinilah bedanya Prabowo-Sandi dengan Jokowi-Maa'ruf Amin. Kalau Prabowo-Sandi asal isi, dan minta direvisi, kalau Jokowi-Maa'ruf Amin, diisi dengan ma'ruf dan teliti, baru kemudian di amini. Kerja itu pakai niat dan doa, bukan niat jahat dan dosa.

Kesimpulannya, kalau fiksi misi tidak bisa dipaksa ada, karena fiksi cuma imajinasi lalu, bagaimana bisa dieksekusi. Makanya, sekarang yang waras tambah banyak, yg gila biarkan saja.

Sudahlah gak usah mikir kanan kiri #MARIJOKOWILAGI

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Saturday, January 12, 2019 - 23:00
Kategori Rubrik: