Fenomena Warung Lamongan

ilustrasi

Oleh : Rijal Mumaziq

Saya kira sebagian orang Lamongan paling nggak betah lihat emperan rumah orang nganggur. Oleh karena itu muncul semangat kewirausahaan berbasis kuliner dengan memanfaatkan sebagian emperan rumah maupun toko yang mereka sewa buat jualan makanan. Dari soto ayam, sea food maupun madzhab populer mereka: warung semalam dengan tampilan kain putih bergambar ayam, bebek, burung dara, lele disertai tempe penyet. Saya cecapi, sambal bikinan pelaku usaha ini rasanya nyaris sama, pedas dan ada manis-manisnya (emang iklan le mineralle?).

Jenis warung berseragam ini membentang di sekujur nusantara. Di Makasaar, saat muktamar NU 2010, saya dan rombongan memilih pasokan logistik dari jenis warung ini. Pemiliknya orang Lamongan asal Kecamatan Sugio yang sudah hampir 15 tahun merantau di sana. Ketika berkunjung ke Sorong, Papua Barat, Juli 2018 silam, saya selama 2 malam langganan di warung Lamongan yang dikelola perantau dari Karangbinangun.

Di Bali, Mataram, sampai Gorontalo, atau daerah manapun di Indonesia, insyaAllah bakal kita temui orang dari Lamongan.

Saya kurang tahu, sudah adakah buku yang mengulas pola ekspansi kuliner warga Lamongan ini. Kalau media cetak, sudah ada. Kompas pernah menurunkan ulasan soal ini berikut gaya hidup pelaku usahanya. Di beberapa desa di Lamongan sana, sekitar 60% wilayahnya dijejali rumah gedong yang lumayan megah. Itu adalah jenis properti milik kaum perantau ini yang saban lebaran biasanya menyelenggarakan temu sanak dulur. Pertemuan kaum diaspora lokal 

Sampai sekarang, kasta kuliner Nusantara masih didominasi oleh etnis Minang via Masakan Padang, Jawa dengan keragaman olahan sayurannya, dan Madura dengan olahan dagingnya. Beberapa etnis lain memang tidak mengembangkan dan menjajakan olahan makanannya karena budaya, cara mengolah makanan dan cara memakannya yang berbeda. Korrie Layun Rampan, sastrawan sekaligus budayawan Dayak, menengarai hal ini. Karena itu, sampai saat ini tidak kita temui warung makan Dayak, misalnya, kecuali memang di daerahnya masing-masing.

Identifikasi ketiga etnis di atas sebagai kaum penjelajah ini saya kira tak berlebihan karena kenyataannya memang begitu: merantau sambil bisnis makanan. Ini saya kira sama dengan tradisi kaum yang menganggap perantauan adalah bagian dari jalan hidup: Hokiau di Tiongkok, Punjabi di India, penduduk Sisilia di Italia.

Pemirsaaah, dalam wilayah kuliner memang lidah tak bisa bohong, sebagaimana promosi merek kecap. Tapi soal kekayaan khazanah kuliner Nusantara, kita punya stok melimpah. Majalah TEMPO edisi khusus kuliner Nusantara beberapa tahun silam menyuguhkan kekayaan kita ini dan bagaimana resep rahasia diturunkan dari generasi ke generasi. Pula, anasir berbagai budaya yang tertuang dalam citarasa masakan membuktikan akulturasi budaya jauh lebih cepat diterima di lidah daripada di otak. Kalau nggak percaya, kita cek, India masuk ke Nusantara membawa Hindu dan Budha, Arab membawa Islam, Portugis-Spanyol membawa Katolik, Belanda membawa Protestan, hanya Tionghoa yang masuk tidak membawa agama, melainkan citarasa kuliner. Dari bakso, bakmi, bakpao bakpia, bakwan, lumpia, kwetiaw, tekwan, pempek, tauwa, tahu, kecap hitam, dll. Melalui citarasa di lidah, semua bisa dikompromikan.

Sudahkah anda makan masakan Lamongan, hari ini wahai sahabat Alfin and The Chipmunks?
---

Sumber : Status facebook Rijal Mumazziq

Tuesday, September 8, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: