Fenomena Bias Akidah dan Syariah

ilustrasi
Oleh : Fadly Abu Zayyan
 
Diakui atau tidak dan disadari atau tidak, beberapa tahun terakhir Umat Islam di Indonesia sedang mengalami Bias Akidah dan Syariah. Yaitu banyak hal yang menjadi rancu dalam hal Akidah dan Syariah. Beberapa contoh diantaranya, kerancuan antara Taubah dengan Hijrah, Sunnah (Hukum) dengan Sunnah (Perilaku) Nabi SAW, juga antara Najis dengan Haram. Tiga contoh inilah yang akhir-akhir ini sering muncul menjadi fenomena. Dan ini tidak hanya menimpa kelompok "Pubertas Agama". Tetapi juga terjadi pada Lembaga Ulama
Maraknya publik figur yang berusaha hidup lebih Islami dan mulai meninggalkan dunia lamanya (entertainment misalnya) disebut sebagai berhijrah. Padahal makna hijrah itu sebenarnya lebih kepada perpindahan fisik daripada batin (spiritual). Seperti Nabi SAW yang pindah dari Mekkah ke Madinah, dan akhirnya dijadikan penanda dimulainya Tahun Hijriyah, itu dinamakan sebagai Hijrah. Apakah itu berarti Beliau SAW meninggalkan masa lalunya yang "tersesat"? Jelas tidak! Karena Rasulullah SAW adalah manusia ma'sum yang terjaga dari segala kesalahan dan dosa.
Sedangkan orang yang meninggalkan masa lalunya yang hedonis (kesenangan duniawi) menjadi lebih dekat dengan Tuhannya sebenarnya lebih tepat dikatakan sedang bertaubah. Celakanya, selain salah memaknainya, malah diikuti juga dengan sikap "keangkuhan spiritual" yang jauh dari sikap ketawadhu'an sebagaimana tanda-tanda orang yang bertaubah. Bahkan sampai menganggap orang lain belum mendapatkan hidayah jika belum menampilkan simbol-simbol hijrah itu. Dimana yang seharusnya lebih mengedepankan Akhlaqul Karimah sebagai inti ajaran Rasululullah SAW.
Begitu pula dengan menjadi biasnya antara Sunnah sebagai Hukum dengan Sunnah sebagai Perilaku dan Perkataan Nabi SAW. Misalnya tentang masalah poligami. Banyak yang menganggap bahwa poligami hukumnya adalah Sunnah (berpahala jika dilakukan). Seolah tanpa poligami, maka Islamnya kurang Kaffah. Ini tentu sesuatu yang salah kaprah. Padahal hukum poligami adalah Mubah (diperbolehkan). Itupun mengandung syarat dan ketentuan yang berlaku. Bahkan Hukum Mubah bisa menjadi Haram ketika sebuah pernikahan niatnya disalahgunakan. Pemahaman tekstual yang salah kaprah bahwa Sunnah (perilaku) Rasulullah SAW mengandung Hukum Sunnah. Jika pemahaman tekstual seperti itu, apakah berangkat Haji dengan menunggang Onta lebih utama dan berpahala daripada naik Pesawat Garuda?
Dan contoh terakhir yaitu tentang biasnya Najis dan Haram. Hal ini bisa terlihat dari diterbitkannya Sertifikasi Halal atas produk-produk non konsumsi seperti Pakaian, Peralatan Rumah Tangga sampai dengan Cat Tembok. Misalnya, alasan MUI memberikan sertifikasi kepada cat tembok, karena produk tersebut tidak mengandung lemak babi. Loh, bukannya cat tembok tidak dimakan atau diminum? Justru MUI beralasan adanya sertifikasi itu agar produk cat tembok tidak mengandung Najis sehingga layak mendapatkan Cap Halal. Inilah yang kemudian justru membuat kaidah Fikih Syariah menjadi rancu dan jelas sebuah alasan yang mengada-ada.
Lemak babi jika digunakan sebagai bahan cat selain tidak kompatibel, juga akan memakan cost yang lebih tinggi dibanding bahan acrylic misalnya. Pun seandainya Lemak Onta bisa dijadikan sebagai bahan cat tembok, apakah ia akan menjadi kebal najis jika terkena kotoran? Padahal antonim dari Najis adalah Suci dan antonim dari Halal adalah Haram. Ketika tidak Najis lantas dikatakan Halal, inilah yang dinamakan Bias Syariah. Apakah kalau anda menyumbang pembangunan Masjid dengan cat tembok berlabel Halal tapi menggunakan duit dari hasil korupsi, masihkah bisa dikatakan Halal? Itulah pentingnya pemahaman kontekstual dan bukan sekedar tekstual tentang Akidah dan Syariah. Mikir!
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan dipahamkan dalam agamanya." [HR. Bukhari, Muslim)
*FAZ*
 
Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan
Wednesday, September 23, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: