Fenomena Ambyar The Lord of Brokenheart Didi Kempot

Oleh: Bekti Susilo

 

eringat diawal tahun 2000-an lalu, saat The King of Broken Heart-Didi Kempot naik panggung dalam sebuah ajang acara penghargaan musisi terbaik tanah air. Beliau naik panggung dgn pakaian Jawa Jangkep. Memakai Beskap Jawa lengkap dgn Blangkon dan Keris serta Sandal Slopnya. Menandakan kalau beliau seniman lokal khas Jawa, yang tak risih dgn segala atribut kejawaannya. 

Karuan saja para tamu, penonton dan audien saat itu melihat dgn sebelah mata. Mereka langsung bersorak dan malah bilang Huuuuu.

 

Tapi mas Didi tetap tenang dan malah ketawa-tawa. Tetap menyapa dan melambaikan tangan. Beliau tidak merasa malu apalagi merasa inferior rendah diri. Penampilannya memang kontras berbeda dari artis-artis papan atas saat itu, yg terlihat keren dan up to date dengan segala atribute fasionnya.

Satu hal yang tak disadari oleh para penonton dan audien serta para tamu undangan. Bahwa Mas Didi Kempot sebenarnya telah melahirkan banyak karya lagu fenomenal. Stasiun Balapan, Sewu Kuto, Tanjung Mas Ninggal Janji, Pocung, Cintaku Sekonyong-Konyong Koder dst. Semua itu karya-karya fenomenal mas Didi Kempot yg sdh familiar terlebih dulu di jagat Campur Sari.

Benar saja, sesaat kemudian para tamu, penonton dan audien di studio dibuat terpaku diam ditempat. Tepatnya saat sang pembawa acara menelisik karya-karya Mas Didi Kempot. 

Saat ditanya soal karya lagunya, mas Didi Kempot dengan gayanya yang khas, sambil ketawa-ketawa malah bilang sudah lupa berapa lagu sdh diciptakan. Dia hanya bilang sdh ada sekitar 600 lagu ciptaan. Dan, untuk menciptakan sebuah karya lagu tidaklah gampang. Minimal dibutuhkan 3-4 buah cangkir kopi untuk menemaninya. Itupun, kadang satu hari bisa zonk tak ada satupun karya lagu tercipta. Semua tergantung dari mood kata hati yang sedang berjalan. Tapi, bila moodnya baik, maka 1 hari bisa menciptakan 3-4 buah lagu. Jleeb..! semua hadirin pada melongo terbengong-bengong. Ruang studio yang awalnya banyak terdengar suara huuuuu, seketika menjadi senyap.

Itulah kiranya awal mula beliau mulai familiar dan diterima dgn baik oleh semua kalangan. Sosok musisi yang memang terlihat apa adanya, kelewat sederhana. Bahkan terkesan kampungan, tapi bobot nilainya jauh diatas rata-rata para seniman pada umumnya.

Beliau memang terlahir dari sosok musikus jalanan. Jauh dari kata glamour berkelimpahan. Hidupnya dari satu ruas jalan ke ruas jalan lainnya. Perjuangannya ini dijalani bertahun-tahun. Tak menyerah dan terus berkarya.

Setelah berhasil masuk dapur rekaman dan sering muncul di media televisi, mas Didi masih sering menyapa para fansnya di acara-acara live musik. Salah satunya di Holland Cafe Solo setiap Rabu malam.

Darah seninya memang tak bisa dibendung. Semua menitis dari sang ayah. Ayah beliau alm. Mbah Ranto Edy Gudel dan Kakaknya alm. Mamiek Prakoso telah memulai lebih dulu sbg debutan pemain Ketoprak yang tinggal di balik Tobong. Hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lainnya.

Dan, semua mengalir begitu saja, hingga akhirnya mereka sama-sama sukses dibidangnya masing-masing. Sang Ayah dipenghujung usianya fenomenal dgn karya lagunya Anoman Obong. Sedangkan Sang Kakak almh. Mamiek Prakoso fenomenal dgn banyolan dan lawakannya dibanyak acara stasiun televisi.

Benar-Benar Ambyar..!

Kata ambyar menggambarkan situasi dimana sesuatu telah dibangun dan diciptakan hampir rampung dan nyaris selesai sempurna tapi serta merta bermasalah dan akhirnya rusak, roboh berantakan tak terselesaikan. Dan, akhirnya kembali ke titik Noll.

Dan, itulah yang dialami Lord Didi Kempot saat ini. Disaat Kariernya sedang memuncak dgn banyak karyanya. Disaat semua orang mengagumi dan mengelu-elukan karya barunya. Disaat para fansnya menggumpal menyanjung dan mengelu-elukan. Seketika takdir berbicara lain. Sang Legend ditimbali marak wangsul marang Gusti Allah. Sang Legend harus menghadap pada Sang Kholiq.

Seketika speecless, hoppless dan super socked. Harapan yang semula menjulang tinggi serta merta rubuh ketitik nadir terendah. Semua mulut terkatub, semua mata terbelalak tak percaya. Dan, akhirnya semua hilang sirna.

Kata ambyar yang dipakai sbg Judul lagu dan kumpulan para fansnya Lord Didi Kempot (Sobat Ambyar) bisa jadi bukan sebuah kebetulan. Tapi memang bagian dari garis takdir Ambyarnya Sang Maestro Lord Didi Kempot.

Tak bisa dipungkiri, kalau Lord Didi Kempot telah memulai banyak hal. Bukan saja sebagai Lagend of The King of Broken Heart yang menciptakan banyak karya lagu brokend Heart. Tapi effeck dari lagu-lagu tsb sebenarnya telah berhasil merajut banyak sisi positif.

Sang Lord Didi Kempot telah berhasil mendudukkan Genre musik Campur Sari bukan sebatas genre musik kampungan yg hanya bisa dinikmati oleh manusia-manusia Jadul dan Kampungan. Tapi genre musik Campur Sari telah naik level yang mampu menelisik semua segmen pasar tak terkecuali. Dari mulai generasi tua, generasi muda, hingga generasi anak-anak milenial. Semua tahdzim dan tak merasa hina saat melantunkannya. Bahkan diantara mereka banyak yang mengarrasement ulang dalam warna musik lainnya.

Praktis, Sang Lord Didi Kempot sebenarnya telah mampu mengubah paradigma feodalisme dalam bergenre musik. Pada akhirnya genre musik apapun sifatnya universal dan bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa harus terkooptasi garis sempit citra diri dalam bergenre musik.

Sisi lain Lord Didi Kempot terkait kemampuannya menggumpalkan sisi-sisi persatuan dan kesatuan seluruh element anak bangsa. Ketika banyak para musisi kondang terjun kedunia politik dan bersifat partisan, Lord Didi Kempot konsisten pada jalur musiknya dan terus berkarya. Ini yang membuat pembeda sisi musisi tanah air saat ini. Benar-benar bermusik untuk hiburan tanpa harus dibebani muatan-muatan lainnya yg bersifat sempit. 

Karya-karyanya bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa pembeda aliran politiknya. Pada titik ini sebenarnya Lord Didi Kempot bisa diharapkan lbh banyak untuk mencairkan ketegangan dan kekakuan interaksi sosial antar anak bangsa. Tapi takdir yg mendahuluinya telah membuat bangunan persatuan itu juga ikut ambyar. 

Tak tahu nasib kedepannya. Apakah misi bermusik Lord Didi Kempot ini bisa diwariskan. Paling tidak kumpulan Fans dalam Sobat Ambyar-nya apakah masih bisa mengeksiskan diri tetap membawa misi-misi kesatuan spt yg telah dirintis oleh Lord Didi Kempot.

Sang Maestro..Sang Legend..Lord of The King of Broken Heart telah menciptakan Karya lagu "AMBYAR" dan telah membuat wadah Fans Fanatiknya dalam " SOBAT AMBYAR ". Kini Sang Lagend " PAMIT MULEH " meninggalkan sejuta kenangan dan harapan dalam rentang waktu dan zaman yang bener-bener AMBYAR di seantero Jagad. 

Hingga orang-orang pun saling menjauh tak mau berjabat tangan krn wabah ambyar Covid-19. Membuat ribuan dan puluhan hingga ratusan juta manusia seantero jagad juga tak bisa pulang Kampung, tak bisa saling berkunjung bahkan tersenyumpun terasa kecut oleh sebab mulut berbalut masker. 

Kini satu-satunya acara ritual mudik tahunan merayakan Lebaran juga Ambyar..! Jutaan orang jauh2 hari sdh prepare mudik dan beli tiket mudik terpaksa harus batal. Situasi bener-bener ambyar..! Wes ambyar temenan Luuur..! Manut apa yg diucapkan Lord of Broken Heart, " AMBYAR !".

Semoga Ada Musisi Lain yang Sejalan dgn Lord Didi Kempot.

 

(Sumber: Facebook Bekti Susilo)

Friday, May 8, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: