Feminisme dan Intoleransi

ilustrasi

Oleh : Aizza Ken Susanti

Tahu nggak kata Jooren Freeman tentang pelacur, mereka itu mahluk androgini yang memadupadankan gender feminim dan maskulin, serta memilih cara hidup sendiri dan menolak lembaga pernikahan sebagaimana harapan feminis radikal libetarian.

Terus kamu nuduh segala soal feminis itu kotor dan rendah.

Padahal feminisme itu ada empat gelombang besar pergerakannya dan kamu ga pernah baca satu bukupun tentang sejarah pemikirannya.

Apa yang dibilang Jooren Freeman ditolak oleh Millet (sesama feminis radikal liberalis). Perpaduan feminim dan maskulin itu bisa terjadi pada tubuh siapapun, karena kualitas gender sepenuhnya mirip dengan karakter. Dan masyarakat androgini akan tercipta jika di dalam sosial masyarakat tidak ada lagi yang namanya ketimpangan gender. Nihil opresi (tidak ada lagi penindasan). Serta terjalin relasi egaliter antar pria dan wanita dan seluruh manusia di dunia pada umumnya.

Feminisme pada tahap kekinian sudah bukan lagi mengupayakan keadilan antara laki-laki dengan perempuan, tapi juga keadilan perempuan satu dengan yang lain, dan satu manusia satu sama lain. Bahkan, ekofeminisme mencoba membuka tabir bagaimana manusia telah bertindak patriarkis atas lingkungan ekosistem bumi di mana ia tinggali.

Oh oke, tapi yang namanya isme-isme itu gak ada gunanya. Jawabmu. Kilahmu.

Isme-isme itu tak guna jika ia berakhir di selembar halaman buku. Di sobekan artikel koran. Atau bahkan selesai di mulutmu dan mulutku.

Feminis radikal kultural (budaya) masih menghargai lembaga pernikahan dan memahami bahwa beberapa kualitas feminim yang dianggap lemah oleh kaum patriarkis itu sesungguhnya bisa jadi alat "interplay" (siasat) untuk berkuasa. Ambil alih penindasan dengan caramu yang khas, wahai wanita. Begitu kira-kira jika dibahasakan.

Sebab sifat lembut, responsif atas persetujuan, lemah, pemaaf, ramah, karakter pengasuhan, dan reproduksi adalah kekuatan perempuan. Inilah yang ingin dikatakan feminis radikal kultural pada dunia. Yang mereka tolak adalah segala bentuk opresi.

Tahu nggak? Berkat asumsi dasar mereka ini kini seluruh dunia dan Indonesia memiliki UU tentang KDRT. Dulu wilayah rumahtangga adalah privat yang tak terjamah.

Tapi apa kata feminis radikal kultural ini?
"The person is politic"
Setiap orang berhak mengupayakan kebebasannya dari ketertindasan, bahkan dari bentuk opresi (penindasan) dalam ruang privat suami istri sekalipun.

Bahagiakah kamu? Ketika kamu bilang feminisme itu taik kucing. Sedang apa yang kamu dapatkan hingga detik ini adalah hasil teriakan-teriakan mereka sejak kamu pun belum lahir. Dan bisa jadi nenekmu dulu buta huruf karena dengungan kabar persamaan pendidikan saat itu belum diterapkan ke Indonesia.

Camkan!

Sumber : Status Facebook Aizza Ken Susanti

Tuesday, November 19, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: