Fatwanya Benar tapi Banyak yang Gagal Paham Menyimpulkan

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Ini fatwa yang dibawa-bawa, di mana fatwanya benar semua, tapi KESIMPULANNYA TIDAK TEPAT dipahami banyak pembacanya. Endingnya yang ngeshare menganggap masalah ini ada perbedaan pendapat antar ulama, lalu banyak yang hanya mengambil fatwa ke-3 saja.

Padahal ketiga fatwa ini tidak berbeda pendapat, kalau ada yang menganggap beda pendapat, berarti gagal paham membaca fatwa. Fatwa ke-3 membicarakan kondisi boikot khusus yang berbeda dari fatwa 1 dan 2 (ketika boikotnya diwajibkan dan produknya tidak membahayakan). Dua kondisi fatwa 3 tidak terjadi di kasus boikot produk pride month.

Kutipan:
* Memboikot produk orang kafir dan pendukung kemaksiatan dengan niat untuk mempersempit gerak musuh-musuh Islam, ini boleh saja.

--> Lihat fatwa 1 dan 2. Sejak kapan definisi disyariatkan itu artinya BOLEH SAJA? Merefer fatwa ulama yang keduanya mensyariatkan boikot, tapi kenapa gagal paham menyimpulkan DISYARIATKAN = BOLEH = MUBAH?

Apa ada di kitab fiqih kata DISYARIATKAN diterjemahkan jadi MUBAH? Rusak seluruh hukum fiqih, jika kata 'disyariatkan' dihukumi sekedar boleh / mubah. Namanya disyariatkan itu ya kalau gak wajib, minimal ya mustahab / mandub, apalagi jika 'illatnya disebutkan untuk mendatangkan maslahat atau mencegah mafsadat.

Al-Mandub secara bahasa berasal dari nadb yang berarti anjuran dan ajakan. Secara istilah fiqih, al-mandub adalah “suatu perbuatan yang diberikan pahala jika dikerjakan, dan tidak diberikan hukuman jika ditinggalkan.”

Ga ada dalam syariat itu sesuatu yang dianjurkan cuma dihukumi mubah. Mandub itu di atasnya mubah, di bawahnya wajib.

Maka, Syaikh Shalih Al Luhaidan dan Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini, KEDUANYA MENDUKUNG DAN MENYERUKAN BOIKOT, bahkan meskipun tau pemerintah tidak menyerukan boikot.

Jadi gak ada syarat menyerukan boikot itu harus nunggu seruan pemerintah. Apalagi dibilang memboikot artinya gak ngikutin fatwa ulama karena untuk boikot harus nunggu pemerintah. ????

Fatwa ke 2, boikot sebagai anjuran (mandub) ketika sampai naik hukumnya jadi wajib, barulah ini harus nunggu perintah dari waliyul amri. Cuma pemerintah yang boleh mewajibkan boikot. Kalau cuma sekedar anjuran ya gak harus nunggu pemerintah. Jadi jangan gagal paham baca fatwa.

Adalagi ada yang membawa fatwa dengan memelintir fatwa menyatakan fatwa Syaikh Luhaidan justru mengkisahkan sahabat yang tidak memboikot produk yahudi. Di mana ketika memboikot harus seizin Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam.

Ini namanya MEMUTAR BALIKKAN FATWA, MEMUTAR BALIKKAN KISAH SAHABAT. Padahal di kisahkan justru sahabat memboikot makanan untuk tidak sampai ke Yahudi, kecuali melepas boikotnya alias produk itu boleh sampai ke Yahudi hanya kalau seizin Rasul shalallaahu 'alaihi wa sallam dan tindakan boikot ini disetujui beliau.

Jangan GAGAL PAHAM cuma merefer fatwa ke 3 saja yang kasusnya:
1. Boikot yang ditanyakan JIKA MUTLAK DIWAJIBKAN, maka boikot semacam ini jelas terlarang.
2. Boikot dengan produk kuffar KETIKA TIDAK MEMBAHAYAKAN KAUM MUSLIMIN.

INGAT !!!

Namanya disyariatkan (mandub), anda tidak kerjakan gak berdosa. Gak ada yang menyalahkan. Tapi jadi lain cerita kalau anda bangga meninggalkan hal yang disyariatkan dan malah ramai-ramai mengikrarkan diri tidak akan memboikot. Ini namanya bangga meninggalkan yang disyariatkan padahal tidak menjelaskan ada udzur syar'i, atau seolah-olah ga berusaha menghilangkan udzur. Bahkan ada juga yang condong dengan narasi mengolok-ngolok untuk mengundang tertawaan dengan niat menyindir yang menyerukan boikot. Ini jatuhnya syubhat yang menyambar-nyambar. Eh?!

Apakah dengan sesuatu yang disyariatkan kalian berolok-olok???

Sumber : Status facebook Mila Anasanti

 
Thursday, July 9, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: