Fatwa Itu Tidak Mengikat

ilustrasi

Oleh : Jody Ananda

Dari dulu, yang namanya fatwa, baik yang dibuat Majelis Ulama atau cuma selevel ustadz, itu TIDAK MENGIKAT dan TIDAK WAJIB DIIKUTI. Kalau anda sependapat, silakan. Kalau tidak, tidak mengapa. Fatwa hanya mengikat kepada orang yang bertanya.

Contoh fatwa MUI tentang bunga bank. Itu gak diikuti tuh sama mayoritas umat Islam di Indonesia, sejak tahun 2004. Sampai sekarang saja, mayoritas umat Islam masih menyimpan uangnya dan bertransaksi di bank konvensional.

Iya kan? Apalagi bagi Aa, yang mengikuti pendapat ulama seperti Sayyid Thontowi, Mahmud Syaltout dll, bahwa bunga bank bukan riba. Silakan saja.

Cuman sejak jaman "orang-orang beriman" rajin turun ke jalanan seolah-olah membela fatwa MUI, fatwa terkesan menjadi produk "suci" yang wajib dijalankan. Dari mana dalilnya?

Lalu dimunculkan istilah Ijtimak Ulama I, II, III dst. Diangkat sebagai bahan legitimasi. Semua orang yang berpikir paham bahwa itu cuman soal-soal politik saja.

Anda setuju dan sependapat tentang fatwa MUI dalam suatu hal, silakan. Itu mengikat anda.

Saya memilih untuk berpikir. Jika ada pendapat ulama yang berbeda dan bisa masuk nalar saya, saya akan ikuti pendapat beliau. Jika tidak, saya memilih berpikir bebas sesuai prinsip-prinsip Maqashid As-Syariah. Tidak harus sama dengan MUI. Wong memang tidak wajib diikuti kok.

Apalagi cuman fatwa level ustadz yang ngebacot "Ambulan haram!", "Hari Ibu haraam!" dll.

Ogah gua mah.

====

Link Shohih :
1. https://tirto.id/fatwa-itu-tak-mengikat-semua-ulama-yang-be…

2. https://islamindonesia.id/…/ketua-mui-tegaskan-fatwa-mui-ta…

3. https://islam.nu.or.id/…/ragam-pendapat-ulama-tentang-hukum…

Sumber : Status Facebook Jody Ananda

Monday, November 11, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: