Fatrah

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Kalau dihitung-hitung dari turun wahyu terakhir di tahun 10 hijriyah hingga sekarang ini kita di tengah abad 15 hijriyah, berarti sudah 1400 tahun-an tidak ada lagi wahyu samawi turun ke bumi.

Padahal sebelum Al-Quran turun, kitab suci terakhir adalah Injil yang dibawa oleh Nabi Isa alaihissalam. Jarak antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad hanya terpaut 600-an tahun saja, sebab Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah di tahun 610 Masehi.

Masa 600 tahun inilah yang sering disebut-sebut dengan masa 'fatrah' alias masa kekosongan, dimana umat manusia tidak lagi mendapat curahan wahyu samawi dari ufuk langit.

Namun masa fatrah yang 600-an tahun itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan masa ‘fatrah’ yang kita alami sekarang ini.

Kita tidak tahu tahun berapakah nanti terjadi hari kiamat. Anggaplah misalnya 160 tahun lagi, yaitu tahun 1600 hijriyah, maka jelas ini masa kekosongan atau fatrahnya sangat lama.

Jadi kalau di zaman kita hidup ini masih ada umat manusia yang beriman kepada risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, dengan kitab suci yang masih murni terjaga bahkan juga masih dalam kemasan aslinya, yaitu masih berbahasa Arab, tentu ini sebuah MIRACLE.

Dan hebatnya lagi, para ulama kita sejak masa awal abad pertama hijriyah telah membekali kita dengan metodologi cara melakukan istimbath hukum dari kitab suci kita. Yang dengan itu, Al-Quran masih sangat terasa sebagai kitab yang hidup bersama kita, bukan seperti manuskrip kuno bulukan di moseum.

Jutaan anak-anak kita akrab dengan bacaan Al-Quran, bahkan tidak sedikit yang menghafalnya luar kepala. Dan ribuan ulama masih dengan mudahnya merujuk Al-Quran sebagai sumber utama istimbath hukum, mereka paham bahasanya, mereka juga tahu seluk-belum kapan turunnya tiap ayat, bahkan tahu juga apakah ayat itu sudah mansuskh atau tidak.

Padahal di saat yang sama, kita nyaris tidak lagi menemukan kitab suci samawi yang tersisa di dunia ini. Setidaknya yang masih original dalam bahasa aslinya saat dahulu diturunkan kepada nabi mereka.

Sedangkan kitab-kitab suci lain yang kita baca itu umumnya terjemahan berkali-kali, yang sulit terhindar dari distorsi dan kesalahan terjemah atau kesalahan kutip. Setidaknya, masih banyak yang meragukan keasliannya.

Sumber :  Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, April 5, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: