FATIMAH AZ-ZAHRA (Luka Yang Berulang Si Telaga Kautsar)

Ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Juwariyah berlari kencang mendapatkan puteri Nabi, Fatimah. Perempuan paruh baya ini dgn terengah-engah tak hirau lagi nafas sudah diujung tenggorokannya, meneriaki gadis kecil Nabi itu.

"Fatimah ! Fatimah ! Ayahmu . . ". Putri kecil Rasul yg berwajah rembulan bermata bintang-gemintang ini menengok ke arah sumber suara. Tak menunggu Juwariyah tuntaskan kalimatnya, trengginas berlari menuju arah yg ditunjuk. Ka'bah. Baitullah . . . .

Dia sudah faham kemana Ayahanda, si 'Tangan Buaian' biasa berada pada waktu2 seperti sekarang.

Abu Jahal berdiri agak jauh dari Rumah Allah. Berkata pada khalayak seakan ber-sayembara. Siapakah lelaki Quraisy yg berani tumpahkan isi perut onta ke atas punggung manusia 'penista agama' leluhur mereka.

Orang malang yang hatinya mengeras bagai batu, mengajukan dirinya, Uqbah bin Abu Mua'ith, segera mengambil isi perut onta yg baru disembelih. Gumpalan2 berbalut darah berbau amis pun jatuh sekujur punggung manusia termulia ini.

Muhammad bin Abdullah keturunan Quraish yang berdarah bangsawan itu sedang bersujud menyembah Tuhannya, Allah. Bergeming. Khusuk. Seakan tak hirau. Meski 'saudara2'nya ramai2 menghinakan.

Ibn Mas'ud berdiri dikejauhan memandang dengan perih. Namun jangankan bergerak menolong, bernafas pun ditahannya, takut. Seakan Abu Jahal bisa tahu dia tak setuju meski sekedar lewat desahnya.

Fatimah datang menyeruak kumpulan orang. Dengan berani disingkirkannya kotoran dari punggung pria 'terkasih'nya. Tak peduli ulahnya bisa menyulut kemarahan Abu Jahal dan kawanannya.

Mata yg basah airmata memandang nyalang pada kawanan Abu Jahal. Manusia2 yg jauh lebih busuk dari sekedar usus onta.

Tak ada rasa takut dalam dirinya. Ia pun berdarah bangsawan pejuang Quraish. Dia menangis lantaran tak habis pikir mereka berlaku demikian lalim pada sesama saudara.

Nabi yg telah usai sembahyang menenangkan buah hatinya, "Jangan takut, anakku ! Allah lah akan menolong ayahmu !"

Konon kedua ayah-beranak ini sangat mirip wajahnya. Keramahan dan tebaran cahaya senyumnya pun tak beda. Hanya Fatimah seorang pemalu.

Keduanya saling menguatkan. Apalagi sejak Khadijah Al Kubra, istri Nabi - ibu Fatimah, wafat.

Pernah dalam keadaan sengsara karena pengucilan atas bani Hasyim, klan Rasul, mereka diundang untuk menghadiri pesta pernikahan.

Pengundang tahu bahwa keluarga Nabi.dalam keadaan kesusahan. Seakan membuat 'jebakan' untuk mempermalukan. Fatimah misal, hanya punya satu pakaian lusuh yang saat itu dikenakannya. Penuh tambalan.

Rasul berkata pada Fatimah menguatkan. "Wahai cahaya kedua mataku, belahan jiwaku. Janganlah engkau bersedih. Pakaian terbaik kita adalah penghambaan. Mahkota yg kita kenakan adalah ilmu dan rida .. . . "

Namun tak urung mata manusia kekasih Allah ini ber-kaca2. Sedikit kelu lidah. Memandang putri kesayangannya yang nampak begitu bersahaja . . .

Ketika sudah berumah tangga dengan Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi, hidupnya tak jarang kekurangan. Waktu melamar pun Ali tak punya apa2 kecuali baju perangnya. Itupun hadiah dari Nabi saat perang Badar

Puasa pun seakan jadi keseharian. Karena tak punya sesuatu pun yg akan dimakan. Padahal mereka adalah keluarga dekat Nabi. Pemimpin umat yang punya kuasa selayaknya raja atau khalifah.

Nabi wafatpun tak meninggalkan warisan. Baik harta maupun kekuasaan. Bahkan Sayyidina Ali, suaminya, remaja kecil barisan pemeluk Islam pertama, hanya menjadi khalifah ke-empat.

Setelah Abu Bakar, Umar Bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Itupun berakhir bagi 'Pintu Gudang Ilmu', demikian Rasul menyebut Ali, dengan wafat karena terbunuh.

Begitu dekat hubungan ayah-anak mereka, tak berapa lama setelah Rasul mangkat, Fatimah seakan menyusul. Hanya berselang sekitar 6 bulan.

Hidupnya nyaris jauh dari kemewahan. Sangat sederhana. Hidup yang mungkin dirasakannya selalu diliput kebahagiaan, namun dalam pandangan umum tampal penuh cerita sedih.

Setelah wafat pun kesedihan tak henti merundung. Suami tercinta tewas terbunuh. Bahkan kedua anaknya, Hasan dan Husein.

Kedua cucu Nabi itu, ahlul bait terdekat, tewas menggenaskan dan hina. Hasan diracun dan Husein dengan kepala terpenggal

Fatimah Az-Zahra si Telaga Kautsar bagi utusan Allah, Muhammad SAW, menjelang wafat berpesan pada Sayyidina Ali suaminya.

"Abu Hasan, jiwaku telah membisikiku bahwa tak lama lagi aku akan berpisah denganmu. Engkau tidak pernah mendapatiku berdusta atau berkhianat. Dan aku tidak pernah menentangmu sejak kita menikah"

"Tidak wahai Fatimah. Engkau paling baik di sisi Allah. Tak pernah membantahku sepanjang kita hidup bersama" jawab Sayyidina Ali as.

"Sungguh kepergianmu musibah yang sangat besar, menyedihkan dan menyakitkan ku" tutur Ali lembut. Dibelai kepala kekasih hatinya

Fatimah tersenyum. "Kuburlah aku dalam kesenyapan malam. Saat keheningan selimuti bumi dan semua mata terlelap dalam tidur. Sembunyikan letak kuburku".

"Jagalah anak2 kita. Zainab, Hasan, dan Husein. Jangan kau bentak mereka. Mereka anak2 yatim yang malang. Belum putus sedih ditinggal kakeknya, Rasulullah lalu aku, ibunya"

Semua pesan Fatimah dilaksanakan dengan baik oleh Ali. Termasuk memandikan, meng-kafani, men-shalati sendiri, dan sembunyikan letak kuburnya.

Wanita mulia yang setiap datang Rasulullah selalu berdiri menyambutnya. Dibentangkan jubah sebagai alas langkah dan duduknya. Dan selalu Nabi ingatkan, "Barang siapa yg menyakiti Fatimah, berarti menyakitiku. Barang siapa menyakitiku berarti menyakiti Allah".

Namun nyatanya saat dikubur tak ada upacara apapun untuk menghormatinya. Terkubur diam-diam. Disembunyikan.

Ah . . . . .

Sayyidina Ali, ksatria pemilik pedang Zulfikar warisan Nabi, akhirnya tak sanggup tuntaskan satu wasiat Fatimah, menjaga putera-puteri mereka.

Karena Ali pun akhirnya terbunuh. Demikian pula menyusul Hasan dan Husein. Dengan cara yang tak pantas diterima oleh Ahlul Bait. Ahlul Kisa.

Sebagai rabuk kemunculan, kesuburan, dan kemegahan dinasti ke-khalifah-an yg baru, dinasti Umayyah . . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, December 14, 2018 - 09:00
Kategori Rubrik: