Falsafah Jawa & Sikap Rendah Hati

Oleh: Vika Klaretha Dyahsasanti

Saat pertama belajar bahasa Jawa, terus terang saya putus asa. Sulit sekali, karena adanya perbedaan bahasa biasa dan bahasa yang halus. Ngoko dan kromo. Apalagi saat itu saya sudah SMA dan tidak ada pelajaran bahasa Jawa dalam kurikulum SMA. Kesulitan terberat adalah memilih kata yang tepat sesuai strata lawan bicara. Satu-satunya yang saya tahu persis adalah kata-kata yang berarti tidur, karena ada saudara yang mengajarkan: Bapak sare, aku turu, adik bobo', Iyem m*c*k (maaf)...

Kemudian teman SMA mengajarkan prinsip yang saya ingat sampai sekarang, "Prinsipnya, Ko... Untuk orang lain setinggi-tingginya. Untuk diri sendiri serendah-rendahnya." Dia lalu menambahkan, walaupun orang yang kita ajak bicara itu jauh lebih muda, atau strata sosialnya di bawah kita, sebaiknya kita berbahasa sehalus mungkin padanya. Nanti kan kita dianggap sopan sekali, begitu antara lain wejangannya.

Mungkin itulah pelajaran tentang rendah hati yang paling berkesan bagi saya. Bersamaan dengan itu, saya mengamati kecenderungan orang Jawa untuk merendah dengan kata-kata hiperbolis. Seorang pengusaha kaya, menjelaskan pekerjaannya hanyalah 'ternak teri', singkatan dari 'nganter anak istri'. Seorang pensiunan menyebut dirinya 'rongsokan hakim'. Dan pemilik rumah mewah, menyapa sopan, "Monggo, mampir ke gubuk saya."

Di lain pihak, guru saya menegur kenakalan kami hanya dengan bertanya halus: nomor presensinya berapa, Mas? Dan kami semua seperti tersambar geledek, menyadari bahwa Beliau marah dan mencatat kenakalan kami. Konon Eyang Putri saya memarahi anaknya dengan berkata, "Saya doakan kamu jadi anak pintar, cakep, berpangkat dan tidak nakal. Tidak lagi....." Lalu Eyang menyebutkan kesalahan yang diperbuat anaknya.

Dalam pertemuan-pertemuan saya sering mendapati perdebatan yang dimulai dengan kalimat manis, semanis madu, "Kalau saya punya salah, mohon dimaafkan. Bagaimanapun saya manusia biasa tidak luput salah. Ilmu saya terbatas, dan masih perlu belajar.Tetapi menurut saya masalah ini...."

Bla bla bla, dimulailah argumentasi panjang, dan kemudian saling berbalas argumen. Dengan intonasi rendah nyaris datar. Mungkin terasa sangat basa basi. Tapi pengamatan saya, basa-basi itu selalu berhasil meredam pertengkatan yang tak perlu, apalagi adu otot.

Lalu bagaimana dengan saya? Meski berusaha, saya belumlah bisa serendah hati dan sesabar itu. Pengendalian diri yang masih suka lepas kendali. Namun demikian saya jadi memahami gaya pura-pura bodoh almarhum Dono Warkop. Dan mungkin itu juga yang menyebabkan saya menyukai Pak Jokowi dari awal kampanye Walikota Solo tahun 2005. Bahasa tubuh dan bahasa verbalnya selalu merendah. Tidak arogan. Bahkan berpura-pura bodoh. Budhe saya berpesan, "Lebih baik terlihat bodoh, padahal tidak. Lebih baik sederhana walaupun kaya. Toh pada akhirnya becik ketitik, ala ketara."

Rendah hati memang berat, melawan naluri manusia untuk dianggap hebat dengan cara menyombongkan diri. Meski tiap keyakinan dan budaya mengajarkan rendah hati. Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Karena:

"Dedalane guna lawan sekti kudu andap asor.
Wani ngalah luhur wekasane"

Friday, February 5, 2016 - 21:45
Kategori Rubrik: