Faktanya Kebakaran Hutan Turun Drastis, Dari Ratusan Ribu Tinggal Ratusan

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Akhir tahun 2015 lalu, saya tengah mengerjakan kegiatan di salah satu kabupaten di Riau, bertepatan dengan bencana asap yang mungkin terparah yang pernah menimpa Indonesia, dan berdampak buruk bahkan hingga ke Malaysia, Singapura.

Memang tidak main-main, bandara ditutup berminggu-minggu, pelabuhan juga ditutup ketika asap tebal tiba. Yang ingin terbang ke Jakarta, harus jalan darat dulu ke Padang, karena disana bandara terdekat yang masih buka. Saya terperangkap dua bulan tidak bisa kemana-mana, aktivitas pun berhenti.

Paman saya tinggal di kompleks Chevron, Rumbai, sudah lebih dari 20 tahun. Ia juga cerita, memang ia setiap tahun didatangi oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Dan 2015 lalu adalah yang paling parah, masker biasa pun tidak cukup dipakai, harus minimal N95.

Alhamdulillah, kalau sekarang bencana asap sudah semakin turun. Pak Jokowi memang salah kalau menyebut tidak ada bencana asap, tetapi saya yakin masyarakat yang dulu saya temani merasakan pedihnya neraka bencana asap, sekarang sudah lebih lega. Hotspot masih terjadi sporadis, tetapi jumlahnya semakin menurun.

Suatu waktu, sepulang dari acara MUI dan LHK saya berkesempatan bertanya kepada Bu Siti Nurbaya Abubakar, yang Menteri LHK. Sebenarnya apa yang terjadi? Dulu 2015, semua orang memaki-maki Anda karena bencana asap yang sangat parah, sesudah itu bencana asap berkurang drastis. Dia bilang, "Oh itu ada ceritanya, Mas. Kebetulan kita baru mau luncurkan buku kisah perjuangan tim yang bergerak di lapangan menangani dan mencegah Karhutla. Besok saya kasih bukunya ya."

Kuncinya: Dengan Gotong Royong kita pasti bisa! Ini bukan hanya kerja pemerintah, tapi juga peran serta aktif masyarakat di desa yang rawan karhutla.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy
 
Monday, February 18, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: