Fakta Tagar GP Cuma Mau Buat Rusuh

Oleh: Sahir Nopi

Kita tahu bahwa Pilpres 2019 hanya akan diikuti 2 calon presiden, yaitu sang petahana Ir H Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Meski sudah jelas hanya ada 2 Capres, ternyata ada sekelompok orang yang berusaha memancing di air keruh. Mereka merupakan gerombolan yang mengusung Tagar Ganti Presiden (TGP). Gerombolan ini jelas-jelas perusuh karena dibeberapa wilayah sudah ditolak masyarakat namun mereka tetap nekad berkampanye.

Lalu apa saja fakta yang bisa kita lihat dan menunjukkan bahwa gerombolan tagar ganti presiden cuman mau buat rusuh Indonesia?

1.    Kita sama-sama tahu, tidak ada Capres selain Jokowi dan Prabowo namun gerombolan itu masih tetap menggaungkan ganti presiden. Coba kita pikir, kalau mereka bergabung ke Jokowi, ya kampanyekan saja Jokowi dan sebaliknya. Mengapa hanya Ganti Presiden? Gantinya siapa? Mengapa mereka tetap ngotot pakai tagar ini? Supaya jika terjadi chaos atau masalah dengan hukum, jelas kubu non petahana tidak kena imbasnya.

2.    Konten kampanye dalam aksi deklarasi Ganti Presiden mengandung unsur ujaran kebencian dan termasuk didalamnya unsur SARA. Neno Warisman, salah satu dedengkot TGP salah satunya ketika berorasi di Medan menyatakan “agama kita bukan agama radikal”. Pertanyaannya, siapa yang menuduh Islam sebagai agama radikal? Kemudian “siapa anaknya yang mau jadi homo?” Tunjukkan bahwa pernikahan sesama jenis dinegara ini diperbolehkan. Mengibaratkan Pilpres sebagai perang badar dan uhud, sebuah kalimat yang jelas-jelas dikategorikan sebagai provokasi. Dan berbagai pernyataan kontroversi lainnya.
https://www.youtube.com/watch?v=-p9txwOwEnc

3.    Terdapat pentolan Jamaah Islamiyah, Abu Jibril dalam beberapa kampanye TGP. Bahkan sempat beredar Surat Maklumat TGP yang ditandatangani tidak hanya oleh Neno Warisman namun juga Abu Jibril. Orang ini jelas-jelas anti Pancasila dan masih diberi ruang atau kesempatan. Sempat mengganti nama samarannya jadi Abu Jibril saat anaknya lahir. Nama aslinya adalah Fihiruddin Muqthi. Dia asli dari Lombok. Pengetahuan agamanya hanya diperoleh lewat buku-buku terjemahan terutama buku Ikhwanul Muslimin. Dia tak pernah mengenyam pendidikkan pesantren dan sama sekali buta bahasa Arab. Pengetahuan agamanya hanya diperoleh dari Abdullah Sungkar, salah seorang pengelolah Pesantren Ngruki, Solo. Bersama Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir dan adiknya yang bernama Irfan Awwas, mereka bergerak di bawah tanah dengan mengusung gerakan DI/TII. Pada tahun 1985, mereka semua kabur ke Malaysia. Beberapa teman-teman mereka tertangkap dan dijebloskan ke penjara dengan hukuman 5-10 tahun

.
4.    Selain ditunggangi Jamaah Islamiyah, terdapat pula HTI, ormas yang telah dibubarkan pemerintah dan terbukti secara sah ingin mengganti ideology Pancasila. Dalam sebuah rekaman video pendek kampanye mereka. Video 10 detik itu Mardani dari PKS mengucapkan Ganti Presiden sementara Ismail Yusanto HTI  menyatakan Ganti Sistem. Hal ini membuktikan bahwa PKS dan HTI bersekongkol untuk mengganti ideologi Pancasila dan hal itu masuk kategori makar. Selayaknya mereka telah diproses hokum karena telah ada bukti.

5.    Bukan hanya jamaah Islamiyah, HTI tetapi penggerak TGP merupakan aktivis Parpol yang seharusnya berkampanye untuk Prabowo sebagai Capres mereka. Bahkan Fadli Zon dari Gerindra juga turut terpampang dalam poster aksi di Kota Serang 10 Agustus lalu. Ada musisi yang juga Caleg Gerindra, Ahmad Dhani. Kemudian ada Mardani Ali Sera, PKS, dari PAN ada Jazuli Juwaini, juga Mustofa Nahrawardaya.

6.    Massa TGP juga melakukan persekusi  terhadap massa yang kontra mereka alias lawan politik. Ingat kejadian CFD Jakarta 29 April 2018? Saat itu Susi Ferawati bersama anaknya memakai kaos #DiaSibukKerja mengantarkan anaknya ingin ke toilet. Dia melewati gerombolan pendukung TGP, langsung dikerubuti, diintimidasi, dimaki bahkan mulutnya disodori pisang. Di Makassar lebih ngeri lagi, seorang mahasiswa dipukuli oleh banyak orang karena terang-terangan menolak demo TGP.

Keenam argument itulah yang menjadikan fakta bahwa TGP memang ingin menjadikan kita tidak tentram. Fokus mereka bukan Pilpres namun mendelegitimasi pemerintah dengan munculnya ketegangan bahkan pemantik-pemantik dibeberapa kota itu. Politisi PKB, Abdul Kadir Karding mengingatkan TGP itu mirip gerakan yang dibangun di Suriah oleh kubu oposisi saat Bashir Asaad memimpin. Ketika gerombolan TGP makin membesar, maka ketegangan masyarakat meningkat dan potensi konflik bermunculan. Hal ini rawan menimbulkan gesekan dan kericuhan. Gesekan dan kericuhan ini tujuannya untuk mendelegitimasi, mendowngrade, me-tidak mampu-kan pemerintah dalam ketertiban umum. Jika persepsi ini terbentuk, percayalah, mereka baru sodorkan Prabowo.

Friday, August 31, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: