Fakta Jaman Soeharto

Ilustrasi

Oleh : Erizha Mega

Baju beli kalau lebaran saja. Diluar itu ga kuat. Sepatu buat 3 tahunan jadi belinya yang gede sekalian. Tas dipakai sampai jebol2 kadang pakainya kresek.
Rok seragam pernah melorot pas jalan di lapangan gara2 kedodoran, ortu belinya sekalian yg besaran. Itupun harus dikasih peniti yang kadang jarumnya nusuk2 perut.

Makan nasinya masih thiwul, pure thiwul, kadang nasi jagung tanpa nasi, saking hasil padi ga cukup buat makan sampai panen satu sesi. Ngomongin ketahanan pangan, Mbah e sangkil kui.

Itu ilusi, NGIPI!!!

Lauk telor seminggu sekali tuh dah bagusssssss banget, itupun kadang satu biji dibagi2. Makan ayam apalagi, harus sembelih sendiri, itu juga nungguin lama banget. Jadi tempe, sambel, kerupuk kecap sudah menu sehari-hari.

Boro2 jajan di sekolah, ga pernah dapet uang saku saking susahnya. Tapi kalau ada kegiatan di luar sekolah macam lomba2, ortu baru kasih 200perak. Kalau mau tambahan sangu, harus pijitin paman atau bibi baru dapat imbalan uang.

Nonton tivi numpang ke rumah tetangga tajir, itupun nontonnya naik2 pagar saking berjubelnya orang. Giliran punya tivi sendiri hanya disetel pas dunia dalam berita, lainnya ga boleh. Listrik murah tapi ga kuat bayar. Belajar malam masih menggunakan lampu ublik yang asapnya kena mata pedes banget, punya petromax keren kali, bah. Masak juga masih harus cari kayu di ladang, belum ada kompor, minyak tanah mahal, sudah mahal langka pula. Ga usah ngomongin gas, sudah lupakan.

Rumah2 masih terbuat dari bambu, bagusan sedikit separuh bambu separuh dinding bata. Jangankan mobil, punya motor saja sudah sangat istimewa.

Dengan segala kesulitan ini, terus ada anak penguasa bilang ingin kembali ke jaman orba?.

Iya memang apa2 murah, tapi ga terbeli. 
Iya memang apa2 murah, termasuk nyawa.

Berapa banyak pelanggaran HAM terjadi di jaman bapakmu, kasus Marsinah, Munir, Widji Tukul, kasus 65, Tanjung Priok dan seabrek lainnya. Kebebasan berkumpul berserikat langsung dibubarkan. Petrus dimana-mana. Bicara sedikit mengkritik pemerintah, besoknya hilang, mati mayat terbuang, minimal nyonyor ini bibir kena hantaman popor.

Belum bicara pemerataan pembangunan hanya tersentralisasi Jawa, SDA Papua tergadai, jalan2 luar Jawa masih belum aspal, mending aman, banyak kematian akibat minim dan carut marutnya transportasi antar daerah dan pulau . Dan nyonyah yang lahir dengan sendok perak dimulut mengajak kita kembali ke jaman si bapak?

Aku sih ra sudi, yang kaya dan makmur cuman kronimu. Rakyat kebanyakan tidak.

Sumber : Status Facebook Erizha Mega

Monday, November 19, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: