Fahami Sunnah Berenang, Berkuda dan Memanah di Era Modern

Ilustrasi

Oleh Fadly Abu Zayyan

"Baik akhi, saya sepakat bahwa kita harus menjalankan perintah Rasulullah. Termasuk perintah agar mengajari anak-anak kita berkuda, berenang dan memanah. Saya juga sepakat akhi, bahwa tiga hal tersebut sangat bermanfaat bukan hanya bagi fisik, tetapi juga untuk melatih mental kita.

Tapi ijinkan saya berbagi pemahaman tentang perintah itu. Pemahaman yang tidak sekedar tekstual. Dan InsyaAllah melampaui dari apa yang selama ini akhi pikirkan dan lakukan. InsyaAllah.."

Pertama, tentang berkuda. Kenapa Rasulullah menyuruh kita untuk mengajari berkuda? Bukan ber-onta sebagaimana jamaknya hewan tunggangan di tanah Arab saat itu?
Kedua, kenapa berenang? Padahal jazirah arab didominasi hamparan padang pasir dan gunung batu.
Dan terakhir kenapa memanah? Padahal dalam riwayatnya Rasulullah sendiri lebih sering menggunakan pedang dalam peperangan. 
Sebenarnya ini sebuah isyarat bahwa apa yang Rasulullah sampaikan bersifat Universal dan Lintas Jaman.

Berkuda secara kontekstual bisa dipahami sebagai berkendara. Pemahamannya, selain kuda lebih cepat daripada onta, kuda juga bersifat lebih Universal karena ada di berbagai belahan bumi. Ini bisa dimaknai bahwa perkembangan zaman akan diiringi dengan mobilitas manusia yang semakin cepat. Perhatikan kehidupan manusia pada saat ini. Usia kanak-kanak sudah belajar bersepeda, dan ketika dewasa dilanjutkan dengan belajar kendaraan bermotor. Sebuah perintah yang masuk akal, mengingat kehidupan manusia dari waktu ke waktu sangat bergantung pada kendaraan.

Selanjutnya tentang berenang. Selain secara tekstual berenang memang hal yang penting, secara kontekstual juga bisa dimaknai bahwa perjalanan Islam akan menyeberangi (lintas) samudera. Baik melalui jalur perdagangan, peperangan bahkan kini juga melalui gelombang pengungsi dari Jazirah Arab. Termasuk dampaknya yaitu jatuhnya korban dari para pengungsi akibat musibah di perairan (laut).

Kemudian tentang memanah. Memanah adalah salah satu peralatan perang yang disertai dengan keahlian membidik seperti menembak pada jaman sekarang. Selain era Rasulullah belum ada peluru dan mesiu, mungkin dalam konteks saat ini yang dimaksud mengajari memanah adalah program wajib militer atau latihan dasar militer (termasuk menembak). Bisa jadi Rasulullah sudah mengisyaratkan bahwa kekuatan sebuah negara salah satunya berada pada kekuatan militernya. Bayangkan jika negara kita memberlakukan pendidikan bela negara dan wajib militer. Tentu akan mampu menyiapkan personil paramiliter (tentara cadangan) jika negara dalam keadaan darurat. Selain itu akan membuat negara lain berpikir berulang kali untuk melakukan invasi atau penjajahan. Meskipun di Indonesia sampai saat ini masih menjadi pro kontra, namun program wajib militer jamak diterapkan di negara-negara lain.

"Nah, kurang lebih kira-kira begitu akhi.., meskipun bisa jadi saya yang keliru. Tapi dengan pemahaman ini, minimal Islamku terlihat luwes dan mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman. Coba perhatikan akhi.., mereka yang kau anggap diluar kaummu kini berlomba menciptakan kendaraan pribadi diudara, antum masih belajar berkuda. Disaat mereka berlomba-lomba membuat roket dan rudal penjelajah, antum masih latihan memanah. Maksud saya, jika ukuran pemahaman kita sekedar tekstual, faktanya berkuda, berenang dan memanah kini cenderung kepada kegiatan yang bersifat olah raga dan rekreasi.

Jadi, masihkah pemahaman secara kontekstual dan melakukan hal yang "melampaui" perintah masih kau katakan bid'ah akhi? Itukah (tekstual) yang kau katakan memurnikan Islam?
Wallahu a'lam bi shawab..

Oh ya hampir lupa, kalau warga kampung kita semua punya kuda, trus mau diparkir dimana ya akhi?" 

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Tuesday, May 23, 2017 - 12:30
Kategori Rubrik: