Fadli Waras, yang Lain Pasti Gila

ilustrasi
Oleh : Karto Bugel
.
Sulit kita mencoba paham dengan ekspresi muka "mbecetut"-nya. Lebih sulit lagi kita memahami bunyi yang sering dihasilkan oleh mulutnya.
Selalu saja ada nada tak harmonis dan telinga ini menjadi obyek penderita sebagai akibatnya. Menderita dalam arti sesungguhnya.
Sampah, itu ketika mata menjadi juri. Noise, masih terdengar lebih enak bila telinga adalah alat penilai.
Entahlah.. dia benar punya mulut, tapi seolah berkodrat tak baik. Bukan suara dengan makna harafiah kita dengar keluar dari mulutnya, bunyi-bunyian, itu lebih tepat.
Dia memang tercipta demi uji sabar kita sebagai manusia semakin terasah sisi kemanusiaannya. Cobaan, ketika iman dijadikan rujukan.
Dia sempurna sebagai "pencoba" dalam takdirnya.
Jutaan masyarakat Surabaya memaknai blusukannya dengan syukur. Selalu ada imbas baik menyusul atas langkah kakinya pada gang-gang sempit dan kotor tak tersorot.
Dia sepertinya, justru memaknai dengan narasi "gila pencitraan" pada sosok ibu yang sangat peduli pada kelompok terpinggirkan itu.
"Diperiksa" sebagai diksi yang merujuk kata "gila" pada kalimat berikutnya jelas merupakan kalimat yang sengaja disiapkan dan disusun jauh sebelumnya.
Bila kalimat itu sengaja diperuntukkan bagi bu Risma, ini jelas tentang makna waras dia seorang diri ditengah jutaan orang gila.
Seorang ibu yang demikian dipuja dan dihormati oleh masyarakatnya di Surabaya, dianggap berstatus gila yang patut diperiksa akibat kecanduan blusukan.
Bagi kita yang sejalan dengan bu Risma, kita adalah gila dan Fadli satu-satunya manusia waras di republik ini. Paling tidak, itu karena para waras yang lain yang sealiran dengannya sedang bernasib sial dianggap gila dan masuk penjara.
Di dalam penjara sana ada yang berteriak, "cieee...yang waras sendiriann.."
.
.
RAHAYU
.
Sumber : Status facebook Karto Bugel
Saturday, January 9, 2021 - 15:45
Kategori Rubrik: