Fadli Pating Fachri

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Semula judul tulisan ini ‘FADLI FUCKING FAHRI’. Tapi kuatir disalahartikan, saya ubah saja ke judul di atas. Artinya sama: sudah Fahri, berFadli-an pulak ("pating", bahasa Jawa, menjamakkan ajektiva)

Fahri dan Fadli adalah 2 nama anggota DPR. Dalam tulisan ini dua kata itu juga berfungsi sebagai ajektiva. Gimana nggak?

Pekan lalu Fadli melansir omongan: elektabilitas “03-1” sudah melampaui “01”. Dia bilang, itu didapat dari survey internal. Dia tak menjelaskan metodologinya, siapa surveyornya, kapan itu dilakukan, bagaimana memilih responden, dan lain-lain, dan sebagainya. Pokoknya, “pokoknya” adalah kiblat kaum sana, kita semua harus percaya saja.

Ketika wartawan menanyakan itu, dia berkilah: survey tersebut untuk konsumsi internal. Lalu kenapa hasilnya diabacotkan?

Kalau semua unsur di dalamnya bersifat internal, maka demikian pula hasilnya. Anda tidak bisa berharap publik percaya pada omongan tanpa data. Begonya, dua hari kemudian, beberapa anggota BKN membacotkan hal serupa. Lagi-lagi tanpa data pendukung, tanpa handouts. Trus apa pegangan kita?

Belum habis ketololan itu, Fahri Hamzah berduet dengan Fadli mengomentari konser gagal Dewa 19. Mereka nyerocos seolah Pemerintah Jokowi membungkam kebebasan seni. Padahal pasal sesungguhnya adalah karena panitia penyelenggara belum mengantongi izin keramaian, baru ijin kampanye doang.

Kubu 03-1 jelas-jelas bermuatan ketololan tanpa ampun. Hari ini Tengku Zulkarnain menciap pengakuan salah dan permohonan maaf. Mereka bersuara, berteriak, bertindak, berbasis data dan informasi keliru. Trus Anda percaya pasangan kampret itu sudah leading 2%?

Padahal semua pesigi besar, dan mengantongi kepercayaan pasar, memrediksi kemenangan telak Jokowi. SMRC bahkan berkata tegas: jika pun angka undecided voters kita berikan ke kubu 03-1, Jokowi tetap memenangkan pilpres 2019.

Roy Morgan, surveyor, yang sehari-hari menyajikan hasil penelitiannya kepada para investor sebagai basis pengambilan keputusan, bahkan berkata: Jokowi bakal menang mudah dengan angka 58%. Saya gak tahu lagi, seberapa hebat kubu 03-1 bertarung melawan dorongan kegilaan hanya agar mereka mampu memampangkan angka-angka di luar common sense.

Tengolah kampanye terbuka 2 kontestan. Semua, saya ulangi, semua kampanye terbuka Jokowi dipadati hadirin. Orang-orang menyambutnya dengan gegap gempita. Bandingkan dengan jumlah pengunjung kampanye 03-1: terhitung dengan mudah.

Itu tampakan di lapangan. Tidak sekali pun terdengar kabar bahwa massa yang hadir adalah orang-orang bayaran. Saya cukup dekat dengan para organisator massa di kubu Jokowi, tahu persis mereka tidak membayar upah apa-apa, cuma menyediakan sarana transportasi dan konsumsi.

Dalam kampanye Jokowi di Bandung hari Minggu kemarin kita membaca status beberapa teman di Facebook. Mereka tidur di Sabtu sore, bangun pk 02 Minggu pagi, lalu berangkat dari Jakarta ke Bandung. Celoteh dan gambar-gambar kegirangan terpampang di linimasa.

Suasana macam itu tak ditemukan di kubu 03-1. Yang mengemuka malah kesigapan militer para organisatornya dalam mengamankan kedatangan junjungan. Norak.

Kampanye Jokowi-Amin bernapaskan sukacita. Saya tak tahu berapa lagu sudah digubah bagi community singing. Terakhir: goyang jempol, Jokowi gaspol. Unik, epik, sekaligus bikin ngikik. Gak ada sama sekali memampangkan kebencian.

Bedakan dengan 03-1. Semua berupa semburan, makian, hoax, nyinyir, degil, tapi mereka tabalkan sebagai kampanye di jalan Allah. Itu raungan kekalahan, ketidakberdayaan. Lalu apa dasar para begowan itu mendaku sudah unggul 2%?

Jokowi jelas bakal menang telak. Moeldoko dan Mahfud MD sudah melansir dugaan kekacauan dimainkan pihak tertentu untuk membatalkan hasil pemilu, atau menundanya, atau membuat para minoritas ngungsi ke negeri orang. Apalagi pas di pekan trihari suci Kristen. Di titik ini kemenangan di depan mata berpotensi terbang.

Mungkin salah satu dari Anda berpikir begini: cuma gua dan keluarga gua kok yang pergi berlibur, cuma 5 orang, gak ada artinya untuk menurunkan peluang menang Jokowi.

Bleguk sia.

Kamu tahu apa yang disebut collective consciousness? Ketika kamu berpikir demikian, itu akan mengirim gelombang tertentu kepada kesadaran semesta. Efeknya, bakal ada ribuan orang di kecamatan lain berpikir serupa, juga di kota lain, juga di propinsi lain.

Sebaliknya, jika Anda berpikir bahwa suaraku dan suara anggota keluargaku penting bagi kemenangan Jokowi, maka Anda mengirim gelombang kesadaran kepada semua orang. Kita berbondong-bondong datang ke TPS.

Kemenangan Jokowi ditentukan oleh sikap personal Anda. Jangan kirim gelombang keliru, Jangan buat banyak orang berlibur karena Anda memutuskan untuk berlibur meski pun secara diam-diam. Apa pun yang Anda putuskan, itu secara mistikal terkirim sebagai kesadaran kolektif.

Jika Jokowi kalah, itu pasti karena Anda.
Jika Jokowi menang, itu juga karena Anda.

Bukan karena saya. Pastikanlah!

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

 

Wednesday, March 13, 2019 - 07:45
Kategori Rubrik: