Evidence Based Medicine, Evidence Based "Dalil"

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

(Mengapa tidak sekedar yakin, tapi BUKTI dari penelitian, dan larangan bermudah-mudahan menyandarkan sesuatu atas nama Rasul )
______

Meyakini Islam adalah agama yang benar, tapi meyakini kalau agamanya hanya agama warisan? Apa anda bisa berdakwah ke ummat lain dengan dalih begini?

Berobatnya dengan tempe mentah dan kulit pisang, penafsiran qur’an dengan penafsiran sendiri, utak atik gatuk tapi menyandarkan pengobatan ala nabi? Apakah anda bisa berbicara begini di forum ilmiah?

Inilah realitas ummat Islam akhir zaman.

Islam jadi nampak sekedar agama ‘warisan’ nenek moyang yang ‘pokoknya saya yakin’, titik. Melihat penafsiran ayat sesimple mungkin ditafsir sendiri, tanpa merujuk ilmu tafsirul qur'an yang rumit dari para mufassir.

Sebelum YAKIN, kita harus punya kemampuan mem-BUKTIKAN kebenaran lewat metode verifikasi secara ilmiah.

Tidak mau kan Bapak JSR kalau ada orang lain menisbatkan pada namanya tanpa memeriksa apakah perkataan itu darinya? Lantas kenapa bermudah-mudahanan menyandarkan pada Nabi? Apakah nabi makan kulit pisang, tempe mentah, dll?

Anda percaya al-qur’an terjaga keasliannya sama dengan jaman diturunkannya? Bagaimana anda bisa yakin?

Untuk yakin anda harus mempelajari, MENELITI dan membaca PENELITIANNYA lewat ilmu ulumul qur'an.

Al-qur’an saat pembukuannya dikumpulkan dari lembaran suhuf yang ditulis oleh banyak sahabat radhiiyallaahu'anhum, juga dicocokkan dengan hafalan mereka satu per satu yang dulu dikenal kuat karena senang bersyair. Sehingga memberikan akurasi yang sangat tinggi.

Diriwayatkan dari banyak sahabat yang mulia yang dijamin masuk surga dengan redaksi (lafadz) sama persis inilah yang disebut khabar mutawatir. Khabar paling tinggi kedudukannya yang menjadikan kita bisa 100% yakin kebenarannya, karena diriwayatkan turun temurun oleh banyak generas hingga kini.

Maka al qur'an adalah khabar dengan seluruh ayatnya ber derajat mutawatir.

Begitupula hadits. Mencontoh metode verifikasi ini. Maka ulama muhadditsin pun melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain demi MENELITI hadits.

Semua yang disandarkan pada Rasul TIDAK langsung dipercaya begitu saja sebelum diteliti!

Ulama memeriksa validitasnya dan melakukan klasifikasi ‘tingkat kekuatan’ hadits. Maka para ulama kita jaman dahulu pada dasarnya adalah PENELITI.

Karena kita tidak melihat langsung bahwa Rasulullah pernah berkata begitu, maka perlu diperiksa validitasnya, maka kita perlu mempelajari metode verifikasi hadits untuk menguatkan keyakinan kita tidak sekedar taqlid buta.

Jika perkataan itu didengar banyak sahabat dan diriwayatkan beramai-ramai tiap generasi, maka itulah level hadits tertinggi dengan derajat mutawatir.

Hadis mutawatir ini ada 2 kategori, diriwayatkan banyak sahabat dengan lafazh sama persis (mutawatir lafzi) dan lafazh tidak sama tapi maknanya sama (mutawatir maknawi).

Mutawatir lafzhi menurut para ulama setelah diperiksa hanya ada satu, yaitu hadits:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku, hendaklah ia menempati neraka”.

Hadits ini diriwayatkan lebih dari 80 sampai 200 sahabat dengan redaksi yang sama persis, menunjukkan betapa penting dan seringnya Rasulullah memperingatkan hal ini sampai-sampai banyak sahabat hafal redaksinya.

Jika ada hadits dengan level keyakinan terkuat berasal dari Rasul dengan validitas periwayatannya hampir mirip al-qur'an maka inilah haditsnya, karena saksinya banyak, syaratnya ketat.

Berbeda dengan mutawatir lafzhi, muawatir maknawi jauh lebih banyak dan lebih mudah dijumpai karena biasanya menyangkut aktifitas ibadah ritual. Para sahabat banyak meriwayatkan tapi redaksinya tidak sama persis.

Jika yang meriwayatkan tidak banyak, maka disebut hadits ahad. Ulama hadits sependapat bahwa hadits ahad bisa diterima jika terbukti shahih/hasan (benar/baik sanadnya), SEKALI LAGI BUTUH DITELITI.

Bagaimana cara menelitinya?

Berdasarkan kualitasnya, ulama mat'akhkhirin membagi hadis dalam tiga kategori yaitu: hadits shahih, hasan, dan dha'if.

Untuk masuk kategori shahih, hadits harus MELEWATI PENELITIAN KETAT: bersambung sanad-nya, rawinya adil dan dhabith (kuat hafalannya), tidak syadz (ganjil, menyimpang) dan tidak cacat.

Jika semua persyaratan di atas terpenuhi tapi rendah tingkat ke-dhabith-annya, maka turun sedikit tingkatnya menjadi hadits hasan (baik).

Jika diriwayatkan oleh perawi yang tidak adil, tidak dhobit, syadz, dan cacat, maka disebut hadis dha'if (hadits lemah).

Sedangkan hadits maudhu’ (palsu) adalah hadits yang dikarang-karang oleh seorang lalu dinisbatkan kepada Rasulullah baik disengaja berdusta ataupun tidak.

Baik hadits dha’if maupun maudhu’ tidak boleh dijadikan hujjah dan tidak boleh diyakini kebenarannya. Inilah sebabnya BETAPA SANGAT BAHAYANYA MENISBATKAN ATAS NAMA RASUL.

Jadi defaultnya seorang muslim WAJIB SKEPTIK jika diperintahkan untuk mengerjakan suatu amalan ibadah berdasarkan hadits. Wajib memeriksa validitas hadits tersebut, apakah hadits shahih, hasan, dha’if atau justru maudhu'?

Dasar skeptik inilah yang diformulasikan dalam kaidah fiqih:

الأصل في العبادات التحريم

“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil yang kuat).”

Begitu pula dalam pengobatan, nyawa manusia sangat berharga. Tidak boleh dijadikan coba-coba sebagai kelinci percobaan. Maka kita harus kembali ke kaidah skeptik ini.

Semua pengobatan TIDAK BOLEH DIPERCAYA, KECUALI TELAH DIBUKTIKAN MELEWATI PENELITIAN. Kaidah inilah yang disebut dengan EBM (Evidence Based Medicine).

Sama seperti ilmu musthalah hadits yang mengkategorikan tingkat kekuatan hadits, EBM juga mengkategorikan tingkat kekuatan penelitian sebagai rujukan.

Maka sebelum diuji-cobakan ke manusia harus dibuktikan keamanannya di level hewan. Terbukti di hewan TIDAK LANGSUNG MEMBUKTIKAN APAPUN dari sisi EBM, karena sistem tubuh hewan tidak sama dengan manusia, jadi tidak bisa dijadikan bukti ilmiah.

Hampir lebih dari 90% jurnal penelitian baru ada di tahap uji coba lab/hewan ini, artinya TIDAK BOLEH DIYAKINI MANFAATNYA. Jurnal ilmiah semacam ini yang banyak dimanfaatkan penjual, misal kangen water yang mengklaim punya 200 jurnal penelitian tapi sebagian besar di level hewan.

Apalagi klaim pengobatan berbasis testimoni yang levelnya dibawahnya lagi, hanya pengamatan individu yang bukan ahlinya tanpa PENELITIAN. Levelnya sama seperti hadits maudhu' yang belum diperiksa. Karena tidak tercatat berapa yang gagal, yang dilaporkan hanya berhasil saja, itupun kita tidak tahu kebenarannya.

Jadi kalau anda nemu penjual bawa-bawa jurnal ilmiah dengan uji coba TIKUS, jangan diyakini kebenarannya. Jurnal seperti ini hanya konsumsi peneliti untuk melanjutkan uji coba ke tingkat manusia dan level selanjutnya,

Dalam hirarki/tingkatan EBM sama sebagaimana mutawatir, level tertinggi ada pada systematic-review dan meta-analisis, yaitu gabungan dari sejumlah penelitian PADA MANUSIA (human study) di seluruh dunia. Penelitian ini dilakukan oleh banyak peneliti dari berbagai universitas (akademisi bukan pabrik) yang masing-masing tidak saling kenal, jadi mustahil mereka bersepakat dalam kedustaan. PERSIS SEPERTI DERAJAT MUTAWATIR.

Jadi buang jauh-jauh teori konspirasi big farma! Karena semua penelitian dengan level terkuat justru datang dari level akademisi (universitas), tidak ada kepentingan dagang sama sekali!

Jadi kalau anda disodori jurnal ilmiah di bidang kesehatan, pastikan anda menemukan kata ‘systematic review’ atau ‘meta-analisis’. Beda keduanya adalah, meta-analisis setingkat lebih tinggi karena ‘kekuatan’ gabungan jurnal penelitian ini dihitung akurasinya dengan ilmu Statistic, sehingga didapatkan angka seakurat mungkin.

Banyak yang tidak benar-benar paham apa itu EBM dan kenapa kita Muslim WAJIB berpatokan pada EBM. Itu karena Islam adalah agama yang bisa dibuktikan dengan BERPIKIR DAN MENELITI.

Tentang beda case studies, randomized control tiral dll, kapan-kapan saya terangkan, intinya mirip sama ketatnya dengan klasifikasi hadits.

Dan EBM adlaah kaidah yang sebenarnya mirip dengan kaidah-kaidah penelitian dari ulama-ulama jaman dahulu dalam bidang apapun. Bahkan dalam ilmu ushul fiqih pasti akan anda temukan hirarki tingkatan dalil dalam mengistimbath hukum, sebagaimana dibukukan dan dirumuskan pertama kali oleh Imam Syafi’I rahimahullah dalam kitabnya yang fenomenal, Ar-Risalah.

Jadi masih mau coba-coba menjadikan nyawa anda tikus percobaan? Ummat siapa sih?

*TUMIT

Tulisan ini adalah bagian kedua, sambungan dari tulisan ini:

https://www.facebook.com/mila.anasanti/posts/10220577960775310

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Wednesday, January 15, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: