Etika Para Penumpang MRT

ilustrasi

Oleh : Agus Salim

Sebagai makhluk sosial kita di tuntut untuk menghargai hak orang lain di sekitar kita, contoh mudahnya adalah perokok, kita tidak boleh merokok di dalam transportasi umum baik darat laut atau udara yang penumpangnya ada perempuan, anak kecil, ibu hamil, dll. Betul tidak semua mobil angkot atau bus tertulis larangan dilarang merokok, tapi jika kita punya etika kita pasti tahu kewajiban kita sebagai perokok yaitu "menahan diri untuk tidak merokok demi kenyamanan dan hak orang lain di sekitarnya".

Etika ini tidak ada kaitannya dengan euforia atau wujud syukur apapun, seperti halnya siswa yang merayakan kelulusannya dengan konvoi di jalanan umum dengan baju dan tubuh di semprot cat, sesuka hati merayakan kelulusan tanpa menghiraukan etika berkendara dan lalu lintas umum, berboncengan lebih 2 orang, tidak memakai helm, geber knalpot, mainin klakson, berkendara sambil merokok, ketemu lawan tawuran, siapa yang resah dan susah, tentu orang lain di sekitarnya.

Pun demikian dengan MRT jakarta yang baru di buka dan di resmikan, banyak pemandangan tidak sesuai dengan norma bangsa kita, tidak sesuai standar etika dunia, mulai dari buang sampah sembarangan, bergelantungan, berdiri di kursi penumpang, sampai kencing di pojokan, betul pihak pengelola MRT tidak detail tulis peringatan "dilarang kencing di sini" di setiap pojokan bangunannya, atau tidak menulis "dilarang buang sampah sembarangan" sebab pihak MRT paham manusia ber-ETIKA tidak butuh tulisan peringatan seperti itu, mereka dengan kesadaran dirinya akan tahu hak dan kewajibannya, mengerti standar etikanya di manapun berada.

Jika pemandangan tidak beretika seperti itu minta di maklumi sebagai wujud rakyat jelata atas reaksi euforianya terhadap sesuatu yang baru, seharusnya sandi yang rakyat kota dengan pendidikan tinggi yang melangkahi kuburan salah satu pendiri NU mbah bisri sansuri juga harap di maklumi, jadi jelas ETIKA itu tidak ada kaitannya dengan jelata atau kota, kaya atau miskin, bodoh atau pintar, tapi kesadaran diri sebagai makhluk sosial.

Sekelas istri presiden amerika barack obama saat berkunjung ke masjid istiqlal saja beliau mau mengikuti standar etika masjid istiqlal, yaitu berhijab sekalipun beliau bukan seorang muslimah, atau ratu elizabeth saat berkunjung ke timur tengah, beliau juga mau berhijab karena menjaga etika di manapun beliau berada harus bisa menyesuaikan diri dengan norma dan etika yang berlaku.

Jadi kalau tindakan konyol tak beretika di MRT minta di maklumi, mungkin mereka merasa dirinya belum baligh, gila, (maaf) luar biasa, atau sebagai hewan, sebab orang waras dan berakal sehat tentu akan memaklumi jika pelaku tindakan tak beretika di MRT jakarta sebagai kelompok tersebut di atas.

Sumber : Status Facebook Agus Salim

Monday, March 25, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: