Estetika Banal

Oleh: Vika Klaretha Dyahsasanti

Saya pertama mengenali kata Estetika Banal (The Banal Aesthetic) dari buku kumpulan foto karya Erik Prasetya. Kumpulan foto-foto yang indah tentang keseharian, hal yang sederhana yang kita jumpai sehari-hari. Di salah satu blog saya menemukan catatan Erik Prasetya. Berikut kutipannya:

"Mari kita merujuk pada dictionary pertama-tama. Estetik: concern with beauty and art and understanding; Banal: something ordinary and containing nothing. Jadi agak oxymoron, bertolak belakang, kontradiktif. Lebih parah dalam Bahasa Indonesia: Banal artinya kasar, tidak elok. Biasa sekali.

Estetika Banal tidak memotret drama atau peristiwa besar melainkan memotret hal-hal sehari-hari yang menjadi bagian kehidupan fotografer.

Foto-foto semacam ini mungkin tidak lazim, tapi saya merasa dia mewakili sesaknya rasa di jalan dan saya merasa foto ini lebih pas daripada saya harus menunggu lighting yang bagus, menunggu komposisi orang yang seperti kalau saya datang ke daerah-daerah miskin. Karena ini keseharian saya, saya berhadapan dengan keseharian yang sama sekali bukan tema-tema besar, tidak ada drama disini."

Foto-foto Erik Prasetya itu sangat menggetarkan saya dan belakangan mempengaruhi cara pandang saya tentang keindahan. Bukan karena saya fotografer, dan kemudian mendadak memotret dengan view yang hiper realis. Saya hanya seorang awam, yang mengamati sekitar dengan mata telanjang saja.

Bukan seperti itu. Lebih kepada cara saya menyukai hal-hal yang selama ini lepas dari pengamatan saya, bahkan terkadang saya lihat sebagai hal buruk. Lingkungan kumuh misalnya, sesuatu yang sebenarnya menjadi keseharian hidup saya. Saya tidak lagi menjaga jarak dengan lingkungan ini, merasa saya lebih 'berderajad' daripada mereka seperti sebelumnya. Saya hanya lebih beruntung. Dan semua yang terasa biasa kini terasa indah.

Poto-poto di pinggir Kali Jenes ini memperlihatkan denyut kehidupan yang dinamis. Gambaran umum yang biasa terlihat di perkotaan Indonesia. Mungkin dalam perjalanan waktu, seiring pembangunan yang kian hari kian mengedepankan kesejahteraan bagi masyarakat marjinal, pemandangan ini mulai hilang. Berganti bangunan rusun, ruko, apartemen yang lebih rapi menjulang ke atas, dan tepian sungai yang tertata menjadi taman. Namun tidak dapat dipungkiri, dari sinilah sejarah hidup banyak dari kita berawal. Bahkan sejarah hidup seorang Presiden RI.

Baidewei.... Buku estetika banal juga yang telah mampu membuat saya menikmati lezatnya sajian-sajian di warung-warung daerah banal. Dan seringkali rasanya lebih nikmat dari resto. Lebih otentik.

*sambil membayangkan sedapnya timlo Sastro di dekat tempat sampah*

(Facebook Vika Klaretha DS)

Thursday, February 11, 2016 - 11:45
Kategori Rubrik: