Erdie dan Kelompok Jahatnya

Oleh: Dina Sulaeman

Gila ya ini masalah Turki, bikin liburan saya terganggu juga. Betapa Erdogan sosok suci bagi sebagian orang di Indonesia (warga Turki kaburan). Dikritik sedikit saja langsung marah. Yang ga pernah komen di wall saya selama ini langsung bermunculan. Inbox juga berdatangan, tapi saya cuekin aja, ga dibuka.

Kemarin, saya cuma share status Pepe Escobar dan mempertanyakan, apakah benar Erdogan dikudeta? Lalu diskusi dengan beberapa teman di wall. Ya biasa toh? Kan saya pengamat Timteng, sejak 2007 saya bikin blog kajian Timteng, nulis di berbagai media, nulis buku, lalu gabung di GFI jadi research associate di bidang Timteng, lalu 2015 saya bersama teman-teman bikin ICMES. Justru aneh kalo tiba-tiba status gue bahas soal drakor (meski pernah sih).

Kemarin saya cuma komen gini di wall seseorang, "Karma?" Buat orang yang ngikutin soal Suriah sejak 2011, komen seperti ini wajar banget. Lha iya, berapa banyak coba rakyat Suriah yang jadi korban gara2 invasi Turki, Arab Saudi, Qatar, NATO, dll lewat tangan jihadis (jangan mempermalukan diri sendiri dengan pura-pura ga tau keberadaan koalisi tsb)? Eh, ada yang 'tersengat'. Saya sudah diamkan, daripada bikin masalah, malah mengejar. Panjang lebar pulak nasehatnya.

Apa alasan yang selalu dikemukakan mereka yang menghalalkan perbuatan Erdogan dkk menggempur Suriah? Hanya satu, yang terus diulang2: "Assad itu Syiah yang membantai Sunni". Entah berapa ribu tulisan yang ditulis orang dan disebarkan di FB bahwa tuduhan itu tidak benar, dengan berbagai argumen, baik yang nulis facebooker, blogger, atau pengamat politik yang beneran doktor/akademisi. Argumen mulai agama, statistik, ekonomi-politik, hingga geopolitik sudah dikemukakan, menunjukkan betapa jahatnya invasi ke sebuah negara merdeka seperti yang dilakukan Erdogan dan sekutunya. Saya sendiri agaknya sudah ratusan kali nulis di blog n FB dan sudah dishare ribu-ribu kali oleh teman-teman. Tapi mereka tetap saja bak katak dalam tempurung, menolak mendengar apapun selain narasi yang disampaikan para ustad mereka dan media-media Islam abal-abal.

Kemarin, saya cuma cerita bahwa di Damaskus orang-orang pada seneng mendengar Erdogan digulingkan (mereka saat itu mengira demikian). Apa yang terjadi? Ada yang screenshot komen saya itu dan dijadikan dalil: nih pengamat Syiah ngomong gini (artinya: Syiah dalang kudeta). Ada pula yang ngutip ayat-ayat untuk menyudutkan. Maksut loooo? Lha itu kan cuma cerita (sumbernya pun di antaranya diplomat kita), tapi panjang banget imajinasi kalian. Imbecile.

Kemarin hingga hari ini, mulai bermunculan tulisan bahwa dalang kudeta Erdogan adalah Syiah..bla..bla.. (lagu lama). Dan lagi-lagi, diseret lagi konflik di Timteng ke Indonesia, membawa-bawa permusuhan ke sini. Sial banget, gue juga dibawa-bawa lagi. Tapi ini belum seberapa karena siapalah saya. Ada yang lebih parah lagi: ada orang-orang yang berdoa agar kudeta terjadi di Indonesia (Jokowi dikudeta). Imbecile.

Terakhir, tentang kudeta militer, apakah patut didukung atau tidak? Jawaban saya: TIDAK. Sebagaimana saya menolak Erdogan mengirim jihadis untuk menggulingkan Assad, saya juga menolak upaya kudeta/kekerasan untuk menggulingkan Erdogan. Sebagaimana juga saya mengecam jihadis+NATO yang menggulingkan Qaddafi melalui peperangan. Dulu, saat Mursi dikudeta, saya pernah menulis tulisan yang tegas menolak kudeta militer (tapi karena tetap mengkritik Mursi, oleh fansboy-nya di Indonesia, saya dibully di bagian kritikan itu).

Saya sering bertanya-tanya, masih perlukah saya nulis tentang Timteng? Sudah 5 tahun konflik berlalu, tetap saja mereka pekak dan buta. Capek hati rasanya. Tapi saya ingat lagi bahwa saya ada di barisan yang sama dengan para penulis dan pengamat anti-Imperium di berbagai penjuru dunia, dan melihat mereka terus menulis tak kenal lelah (misalnya saja, Dr Tim Anderson, Chossudovsky, Andre Vltchek, atau Pepe Escobar, 4 di antara beberapa penulis favorit saya), semangat saya kembali muncul. Kami semua konsisten sejak dulu menulis dengan perspektif yang sama, jauh sebelum Suriah diinvasi jihadis. Jadi, ini bukan tentang Suriah saja, tapi tentang kekuatan besar (Imperium) yang memang ingin menguasai dunia, termasuk juga Indonesia. Kalaupun Suriah selesai (entah dengan skenario seperti apa), invasi Imperium akan terus berlanjut ke negara-negara lain, dengan berbagai model (baca status saya Dunia 1, 2, 3). Dan yang pasti, Imperium akan terus memanfaatkan orang-orang imbecile itu.

Dan di titik inilah mengapa masalah ini penting buat kita, orang Indonesia. Karena akar dari hiruk-pikuk ini adalah kebodohan dan ketidakmampuan melihat mana yang musuh hakiki, mana yang harusnya dijadikan teman. Mana isu yang krusial dibahas, mana yang sebenarnya gak berguna. Dan kebodohan yang sama, sayangnya, akhir-akhir ini beredar sangat masif di negeri ini, yang kemudian teraplikasikan dalam berbagai isu domestik. Tulisan saya dan para pengamat yang berada di barisan anti-Imperium (yang bahkan jauh lebih aktif nulis daripada saya, saya ga ada apa-apanya), dan orang-orang yang dengan gigih dan tekun men-share-nya, adalah upaya perjuangan untuk menghambat peredaran kebodohan itu.

Jadi? Yo wis, yuk jalan terus, sebisanya.

Wassalam.

 
(Sumber: Status Facebook Dina Sulaeman)
Monday, July 18, 2016 - 10:30
Kategori Rubrik: