Era Jokowi, Era Kejayaan Pangan Indonesia

Oleh: Ricky Apriansyah

 

Hal yang paling menyebalkan adalah mendengar kaum kufur nikmat mulai memprovokasi. Mereka sok-sokan mengeluh hidup sekarang serba susah, katanya apa-apa serba mahal. Yang bener aja, woyyy! Faktanya harga kebutuhan pokok di era saat ini justru sangat terkendali.
 Kenapa harga-harga kebutuhan pokok bahkan di saat Lebaran tetap terkendali pada pemerintahan Presiden Jokowi? Padahal sudah menjadi rahasia umum turun-temurun di era sebelum ini, harga-harga pasti melonjak menjelang Hari Raya Idul Fitri. Menurut Anda karena apa? Jawabannya adalah karena pemerintah sangat tegas menangani permasalahan mafia pangan.

Data menyebutkan pemerintah era Presiden Jokowi menangkap 495 mafia pangan, 390 orang di antaranya kini sudah menjalani proses hukum. Demi mementingkan kesejahteraan petani, pemerintah sangat tegas dalam memerangi mafia pangan karena pemerintah tidak mau petani dizalimi.

 

Memberantas mafia bukan pekerjaan mudah. Bahkan nyawa petugas bisa menjadi taruhannya. Dan kerja keras yang penuh tantangan ini membuahkan kabar baik di bidang ketahanan pangan. Di antaranya cadangan beras pemerintah yang tetap terjaga. Tutup Tahun 2018, Bulog masih punya simpanan beras pemerintah 2,1 juta ton. Dalam rangka menjalankan penugasan pengelolaan Cadangan Beras

Pemerintah (CBP), sepanjang 2018 Perum Bulog telah melakukan pengadaan sebanyak 3,2 juta ton setara beras. Dan stok beras CBP di akhir 2018 sebanyak 2,1 juta ton setara beras. Ini merupakan CBP terbesar yang pernah dikelola BULOG dalam 5 tahun terakhir. Tak hanya itu. Bulog juga berupaya menstabilkan harga pangan pokok, baik beras maupun yang lainnya. Harga beras umum selama 2018 ada di kisaran Rp 11.606 per kg. Gula pasir Rp 13.676 per kg. Daging sapi Rp 114.195 per kg. Jagung Rp 7.316 per kg.

Bagaimana dengan sayuran? Terkendali juga harganya. Harga komoditas sayuran di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, terpantau stabil pada awal pekan. Hal ini disebabkan stok sayuran dalam keadaan melimpah.

Bahkan menjelang puasa Ramadan hingga Lebaran, harga komoditas pangan cenderung stabil. Beberapa komoditas utama seperti beras, cabe, dan bawang merah tidak mengalami kenaikan seperti era yang sudah-sudah. Pada Mei 2018, berdasarkan pantauan Mendag, harga komoditas pangan relatif stabil. Daging ayam dan telur secara umum tidak masalah. Harga bawang putih, cabai, dan bawang merah terkendali.

Sementara itu peningkatan ekspor terjadi di era Presiden Jokowi.  Nilai ekspor pertanian meningkat dari 384,9 T pada 2016 ke 499,4 T pada 2018. Total nilai ekspor selama 2015 hingga 2018 adalah Rp1.764 triliun. Peningkatan ekspor terjadi pada produk jagung dari 44,8 ribu ton pada 2014 menjadi 341,5 ribu ton pada 2018. Juga pada ubi jalar dari 9,6 ribu ton pada 2014 menjadi 10,9 ribu ton pada 2018. Tak ketinggalan, peningkatan ekspor bawang merah dari 4,44 ribu ton pada 2014 menjadi 6,27 ribu ton pada 2018.

Produksi tanaman pangan juga terjadi besar-besaran. Peningkatan produksi jagung dari 19,01 juta ton pada 2014 menjadi 30,06 juta ton pada 2018. Peningkatan produksi kedelai sebesar 955 ribu ton pada 2014 menjadi 983 ribu ton pada 2018. Peningkatan produksi bawang merah dari 1,23 juta ton pada 2014 menjadi 1,47 juta ton pada 2017. Peningkatan produksi cabai dari 1,88 juta ton pada 2014 menjadi 2,36 juta ton pada 2017. Peningkatan populasi sapi potong dari 14,7 juta ekor pada 2014 menjadi 17,1 juta ekor pada 2018. Peningkatan populasi ayam dari 275 juta ekor pada 2014 menjadi 311 juta ekor pada 2018.

Yang tak dilupakan adalah investasi pertanian yang juga meningkat. . Nilai investasi pertanian meningkat dari 29,3 triliun pada 2013 menjadi 61,6 triliun pada 2018. Total investasi pertanian dari 2013 hingga 2018 adalah Rp270,1 triliun. Adanya program terobosan seperti deregulasi perizinan dan investasi (3 jam) serta membentuk Satgas kemudahan berusaha (percepatan investasi) nyata mendorong peningkatan investasi di bidang pertanian.

Akhirnya, Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian pun meningkat dari Rp994,8 triliun menjadi Rp1.463,9 triliun pada 2018. Inflasi bahan pangan terjaga. Inflasi bahan pangan turun dari 10,56% pada 2014 menjadi 1,26% pada 2017.

Semua itu berimbas pada kehidupan para petani di desa yang makin membaik. Ini terlihat dari penurunan jumlah penduduk miskin di perdesaan. Jumlah penduduk miskin di perdesaan turun dari 17,74 juta jiwa pada 2013 menjadi 15,81 juta jiwa pada 2018.

Nah, nikmat mana lagi yang kalian dustakan? Masih mau kufur nikmat hidup di Indonesia, terus mengeluh dan percaya sama hoax?

Tuesday, February 12, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: