Entrepreneurship di Tengah Pandemi

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Ketika mewawancarai Ir. Ciputra di kompleks Pasar Senen Jakarta, beberapa puluh tahun lampau, saya tanyakan apa yang menjadi keprihatinan sekaligus obsesinya? Pak Ci menjawab, entrepreneurship!

Katanya waktu itu, jiwa kewirausahaan bangsa Indonesia masih lemah. Kurang dari dua persen jumlah entrepreneur kita. Itu sungguh jumlah yang tak memadai. Bahkan, sampai kini pun, yang dalam rasio perbandingan negara-negara maju, umumnya 14 persen penduduknya adalah entrepreneur.

 

Dari data HIPMI tahun lalu, jumlah entrepreneur kita baru sekitar 3,1 persen dari 270-an juta penduduk Indonesia. Artinya, selama beberapa puluh tahun, pertumbuhannya sangat lelet.

Tapi persoalannya memang sangat mendasar. Soal mindset. Banyak orangtua, juga anak mudanya, orientasinya masih sebagai para ningrat di kantor. Sebagai karyawan. Menjadi ASN masih merupakan cita-cita dominan.

Dari survey mengenai para pelaku UKM (Usaha Kecil dan Menengah) tahun lalu, orientasi untuk mengembangkan usaha berada dalam prioritas ke 13 bahkan 20. Yang paling atas, bisa ikut makan dan minum, atau yang penting anak bisa sekolah.

Di tengah pandemi, beberapa UKM nyungsep. Banyak cafe dan kedai kopi, ambyar. Tapi tentu selalu ada pengecualian. Ialah mereka yang bukan saja berani, memiliki inisiatif, melainkan juga kreatif. Kalau sudah sampai di sini, memang persoalan pola pikir, spirit, kapasitas, wawasan, yang menjadi kendala. 

Tugas siapa? Mestinya pemerintah. Tapi kalau apa-apa tergantung pemerintah, memang ada persoalan paling mendasar. Persoalannya belum sampai pada elan vital, semangat berkompetisi. Jika Natalius Pigai mengatakan kita miskin dan tak punya apa-apa, saya kira benar. Saya setuju dengan bagaimana ia menggambarkan dirinya sendiri.

Jika yang dimiliki hanya spirit berkontestasi, jadinya persis kayak orang-orangtua yang makin tak berguna kayak Rizal Ramli dan Luhut Binsar Panjaitan. Tapi biar sajalah jika debat dianggap sesuatu yang penting, intelek, dan prioritas. 

Di tengah carut marut itu, kita mencatat gerakan entrepreneurship anak-anak muda yang tak banyak diliput media. Di tengah beberapa UKM yang nyungsep, masih ada cerita-cerita bagus bagaimana Klinik Kopi justeru omzetnya naik ketika mulai masuk ke binis online. Bahkan lebih jauh lagi, Kopi Kenangan mampu meraih modal ventura bernilai trilyunan rupiah dalam skala internasional. 

Beberapa petani muda seperti Nur Agis di Serang, atau Bagas Suratman di pinggiran Jakarta, mampu memasok pasar bukan hanya beberapa gerai, melainkan beberapa kota, secara kontinyu. Sebagian besar pernyataan mereka, ialah kesiapan berubah. Keberanian menghadapi kenyataan baru, ada atau tak ada pandemi. 

Beberapa hari lalu, saya melihat upaya kreatif Dalang Seno (Seno Nugroho, yang sohor dengan Elisha Orcarus-nya itu), menggelar pertunjukan live streaming lewat channel youtube-nya. Pentas wayang kulit di rumah, melayani tanggapan online, juga request tembang dengan cara transfer duit dulu ke rekening mereka pada saat siaran langsung itu. 

Sangat mengharukan, di tengah imbauan yang tak masuk akal seperti social distancing dan produktif di rumah. Tarif listrik dan jaringan internet yang harus tetap dibayar mahal. Dengan bansos salah sasaran karena data tidak reliabel dan kredibel. Dan aparat pemerintahan yang tertib WFH, tidak turun ke masyarakat, sembari ngeshare himbauan jaga jarak tapi tidak mengajak jaga nalar, jaga kesehatan jiwa dan raga. Gitu deh! 

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Thursday, June 11, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: