Ente Jual Ane Borong

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Fakta, PDI Perjuangan pemenang pemilu 2014 dan 2019, terakhir mendapat 128 kursi DPR RI atau 27.503.961 suara (19,33%). Fakta lain, PDI Perjuangan partai pengusung utama presiden Jokowi yang menang dalam pilpres 2014 dan 2019. Dengan begitu, sudah pasti banyak yang iri dan ingin menjatuhkan PDI Perjuangan yang dua periode berturut menang pemilu.

Fakta selanjutnya, FPI dan HTI sejak 2014 selalu berupaya menuduh PDI Perjuangan dengan issue PKI, termasuk kepada Jokowi yang merupakan kader PDI Perjuangan (sepaket). Karena PDI Perjuangan yang secara nyata dan berani melawan kekuasaan ORBA. Sementara sisa-sisa kekuatan ORBA ingin kembali berkuasa menggunakan ormas FPI dan HTI.

Fakta berikut. HTI sudah dinyatakan dilarang eksis di Indonesia. Sementara FPI tidak mendapat perpanjangan izin berdiri sebagai sebuah ormas oleh kemenkumham. Dua ormas, yang satu dilarang dan yang satu tidak punya izin, maka gunakan nama lain seperti GNPF Ulama dan PA 212 untuk menyerang PDI Perjuangan. Berapa jumlah anggota ormas Islam abal-abal ini? Klaimnya 7 jt org.

Sungguh sangat tidak sebanding dengan PDI Perjuangan. Sebagai partai pemenang pemilu legislatif maupun presiden, PDI Perjuangan semestinya mendapatkan segalanya, "winner take it all". Ia bisa saja dengan mudah memberangus ormas-ormas radikal tersebut, melalui kekuatan di legislatif maupun eksekutif. Namun tidak dilakukan.

Bahkan mendiamkan saja FPI dan HTI berteriak menyerang dan memojokkan PDI Perjuangan. Megawati selaku Ketum selalu menyerukan kepada kadernya untuk selalu berpegang kepada hukum dan konstitusi. Maka tidak heran FPI dan HTI terkesan bebas berteriak dan menghasut. Tidak masalah bagi PDI Perjuangan. Silahkan bersuara, karena ini negara demokrasi.

Namun ketika membakar bendera sebagai Panji partai? Itu lain hal. Sekali menyentuh hingga membakar panji-panji partai, maka tidak ada lain, harus dilawan! Begitulah pendirian bagi segenap pengurus, anggota, kader dan relawan PDI Perjuangan. Jangan bermain-main dengan Banteng Ketaton. Ia akan terlihat tenang sepanjang tidak diganggu. Dan ketika diganggu akan mengamuk.

Begitu pun, Megawati masih berusaha menenangkan semua kadernya untuk menahan diri, merapatkan barisan dan menunggu komando. Jangan bergerak sendiri-sendiri. Sementara, serahkan masalah pembakaran bendera PDI Perjuangan kepada aparat kepolisian dan biarkan hukum berjalan. Mega tidak mengatakan, bagaimana jika hukum mandeg?

Namun instruksi "rapatkan barisan dan tunggu komando" adalah merupakan warning kesiap-siagaan. Selama ini PDI Perjuangan selalu diam meski selaku partai pemenang dan penguasa. Jika hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya, yang dikhawatirkan terjadinya pergerakan dan gejolak di arus bawah yang siap turun memerahkan jalanan jauh lebih banyak dari pasukan FPI/HTI.

"Ente jual, Ane borong!" Karena memang FPI dan HTI yang memulai. PDI Perjuangan kembali teriak, "Kami bukan komunis, kami bukan kapitalis, kami bukan khilafais. Kami kaum nasionalis, kami PDI Perjuangan!" Namun dengan keluarnya Surat Perintah Megawati untuk menenangkan dan menyerahkan ke proses hukum, justru menunjukkan kedewasaan dan kebesaran jiwa PDI Perjuangan. (Awib)

Sumber : Status facebook Agung Wibawanto

Tuesday, June 30, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: