Entah Kenapa Saya Lebih Asyik Gus Ulil Jil Dibanding Gus Ulil Ihya

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Saya adalah orang yang sangat kehilangan atas "wafatnya" Jaringan Islam Liberal (JIL). Tadinya saya sempat--semacam--bertaruh, bahwa JIL akan terus hidup. JIL akan menjadi pendobrak kejumudan berpikir yang abadi. Tapi ternyata taruhan saya tidak tepat. JIL memang wafat. Dan saya sedih sekali. Sampai hari ini, saya hampir belum menemukan berbagai pemikiran Islam yang "nakal", senakal pemikiran yang digulirkan JIL. Kalau pun ada, itu hanyalah catatan kaki saja. Hampir semua pemikiran keislaman telah dikupas tuntas dengan serius oleh JIL. Saya merasakan betul akan hal itu.

Siapa lagi kalau bukan Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil). Selain Abdul Moqsith Ghazali dan Luthfi Assyaukanie. Ketiga intelektual Muslim Indonesia inilah yang juga saya sebut sebagai trio JIL. Dibuktikan dengan terbitnya buku "Metodologi Studi Al-Qur'an" pada tahun 2009 yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Meskipun ada banyak intelektual JIL lain yang hebat misalnya M Guntur Romli, Taufik Damas, Novriantoni Kahar, Hamid Basyaib, Nong Darol Mahmada, Saidiman Ahmad dan lain sebagainya, termasuk para intelektual senior seperti Alm M Dawam Rahardjo, Alm Djohan Effendi, Jalaluddin Rakhmat, Kautsar Azhari Noer, dll, bagi saya, trio JIL tetap yang terhebat.

Sekadar ingin membuka kenangan lampau, pertama kali saya kenal JIL adalah karena salah seorang teman. Ia mengajak, bahkan mentraktir saya perjalanan dan makan selama perjalanan pulang dan pergi Cirebon-Jakarta. Bahkan saking semangatnya, saya pernah sampai di Utan Kayu sehari lebih awal, padahal jadwal diskusi baru akan dimulai besok malam. Hehe. Saya terpaksa menginap di Masjid salah satu kampus--entah kampus apa, saya lupa namanya--yang letaknya tidak terlalu jauh dari markas JIL di Utan Kayu. Berkat JIL, saya bisa berpikir bebas dan terbuka. Saya seperti mendapatkan pencerahan yang luar biasa. Bayangkan saja, tulisan di website JIL (islamlib.com) banyak sekali yang saya jilid, makalah dan buku-bukunya menjadi menu bacaan harian saya di kampus dan Pesantren.

Tema-tema kajian progresif seputar nikah beda agama, Nabi perempuan, imam shalat perempuan, kesetaraan gender, radikalisme, terorisme, pluralisme, sekularisme, liberalisme, murtad, termasuk wacana seksualitas (LGBT), saya mendapatkannya semua di JIL. Saya belum pernah mendapatkan pemikiran keislaman sekaya dan sebebas dengan apa yang pernah dikaji JIL. Apalagi jika narasumbernya adalah salah satu dari trio JIL, masya Allah, itulah yang memang ditunggu-tunggu. Selain kaya akan wacana, trio JIL juga mampu berbicara yang sistematis, menunjukkan sebagai intelektual-akademis sejati.

Karena itulah, sampai hari ini saya tetap merasa lebih asyik dengan Gus Ulil yang JIL, bukan Gus Ulil yang Ngaji Ihya. Entah ada angin apa JIL malah bubar, sekalipun orang-orangnya masih ada. Saya tidak bisa membayangkan andai saja Gus Ulil, Cak Moqsith dan Pak Luthfie masih liberal, Indonesia pasti tetap bergairah. Setelah bubar, Gus Ulil memang banyak ngaji online, setelah sebelumnya aktif di salah satu partai politik, sementara Cak Moqsith lebih menekuni profesinya sebagai dosen--meskipun belakangan juga mulai membuka ngaji onlie--, lalu Pak Luthfie sibuk sendiri juga dengan mengasuh Qureta. Sayang sekali.

Saya menengarai jika JIL ada dalam kendali Gus Ulil. Sehingga ketika Gus Ulil memutuskan untuk bubar, semuanya bubar. Selain besar kemungkinan karena nasihat dari Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) yang nota bene adalah mertuanya, juga tidak menutup kemungkinan ada dorongan kepada Gus Ulil untuk masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Lepas dari itu saya tetap menyayangkan, kerja keras membangun kedigdayaan JIL seketika runtuh. Sampai kemudian Gus Ulil merambah pada Ngaji Ihya secara online, awal-awal saya masih sempat mengikuti, tapi telah lama saya ketinggalan, sebab bagi saya tidak semenarik dulu saat kajian JIL.

Gus Ulil sekarang mulai membangun jejak sufinya. Tidak aneh jika kemudian kitab Ihya inilah yang dipilih. Bukan tanpa alasan, bahwa Al-Ghazali merupakan ulama klasik idola komunitas Pesantren. Gus Ulil seperti meniru jejak Alm Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid) dan Alm Prof. Dr. Harun Nasution yang konon di masa senjanya menceburkan diri ke dunia tasawuf atau tarekat. Saya menangkap kesan bahwa Gus Ulil hendak "bertobat" dari jejak liberalnya. Sekalipun pasti tidak mudah melepaskan kesan dan jejak liberalnya itu. Maka jika dahulu Gus Ulil banyak dicaci-maki, difatwakan halal darahnya, bahkan dikirim bom buku, perlahan citra itu semakin menurun, lantaran Gus Ulil lebih "nyufi."

Walhasil, tentu tulisan saya ini hanya sekadar refleksi. Bahwa setiap orang, terlebih Gus Ulil punya pilihan dan jalan hidup masing-masing. Saya melihat aktivitas Ngaji Ihya-nya memang banyak diminati. Saya hanya bisa berdoa, semoga semakin berkah dan bermanfaat.

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Friday, June 5, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: