Enigma Rusdi Kirana

Oleh: Emmy Hafild

 

Kita barangkali punya perasaan yang campur aduk mengenai seorang Rusdi Kirana. Dialah pelopor penerbangan murah di Indonesia. Berkat Lion Air, jutaan rakyat Indonesia menikmati penerbangan murah, hal yang tidak mungkin terjadi sebelumnya. Dia juga yang berhasil menembus isolasi daerah-daerah terpencil dengan Wings Air membangun jaringan penerbangan paling banyak menghubungkan kota-kota kecil seluruh Indonesia melebihi yang dilakukan Merpati Air. Dia juga membangun penerbangan yg juga menjangkau kelas menengah Indonesia lewat Batik Air. Kemudian dia juga membangun penerbangan regional dan berhasil menembus kota-kota di negara lain di Asia untuk membawa penumpang ke Indonesia. Dia juga merambah pasar tetangga, mendirikan Malindo Air yg beroperasi dari Malaysia, kebalikan dari Air Asia yang berbasis di Malaysia dan mendirikan perusahaan di Indonesia. 

Ketika dia ditunjuk jadi Wantimpres, kemudian diangkat jadi Duta besar kita untuk Malaysia, saya terperangah, dan banyak orang mengernyitkan kening. Dugaan orang, pasti karena dia telah mengeluarkan banyak uang untuk kemenangan Jokowi. Tetapi saya baru sadar, ternyata beliau ini memang orang yang selalu menerobos dan selalu berfikir out of the box. 

 

Sebagai Dubes, dia membuka pelayanan pembuatan paspor dan keimigrasian lainnya di Kedubes kita di Malaysia dari 8 jam menjadi 24 jam, tiga shift pegawai untuk melayani 700 orang Indonesia yang tiap hari memerlukan pelayanan. Mereka ini tadinya mulai antri sejak jam 2 subuh hanya untuk mendapatkan nomor antrian. 

Mereka antri di luar kompleks kedutaan, tidur-tiduran, dan memenuhi kebutuhannya termasuk (maaf) buang air kecil di jalanan. Sehingga tempat itu kumuh dan bau pesing. Sangat tidak manusiawi. Semua ini merendahkan martabat bangsa kita di mata orang Malaysia. Diapun lalu memindahkan tempat antrian ke basement tempat parkir di dalam kompleks kedutaan. Toilet dan musholla untuk shalat pun dibuatkan. Parkir mobil dipindah keluar. Dengan demikian kompleks kedutaan sekarang rapih dan bersih serta rakyat Indonesia dilayani secara manusiawi di dalam kompleks. 

Dengan membuka pelayanan 24 jam, calo-calo pun berhenti beroperasi, karena tidak ada kebutuhan untuk jasa mereka. Apalagi sekarang pendaftaran gratis. Pembuatan pasporpun digratiskan. Sebelumnya, untuk pendaftaran saja RM 10. 

Orang-orang ini kemudian terdaftar sebagai penduduk Indonesia yang tinggal di Malaysia, sehingga dari pendatang illegal bisa menjadi pendatang legal. Pembukaan pelayanan 24 jam ini berhasil meningkatkan DPT Malaysia, dari 400.000 orang tahun 2014 menjadi 1,1 juta orang tahun 2019. 

Tidak hanya itu. Dubes kita ini dalam tiga tahun berhasil membangun 70 sekolah di kebun-kebun yang mempekerjakan tenaga illegal kita. Gedungnya sangat sederhana, gurunya dikirim oleh Kemendikbud dari Indonesia. Beliau membuat sekolah-sekolah ini karena menemukan kenyataan bahwa TKI illegal yg di Malaysia itu kawin mawin sesamanya, dan beranak pinak. Kalau orang tuanya illegal maka anakpun illegal sehingga tidak bisa bersekolah di sekolah resmi. Beliau kemudian bekerjasama dengan pemilik perkebunan untuk membangun sekolah-sekolah tsb ( SD dan SMP) sampai SMK ( baru 3 buah). 

Saya terperangah mendengar cerita ini. Seorang Rusdi Kirana, yg sering dituduh aseng ( maaf), boleh keturunan Tionghoa, tapi hatinya lebih Indonesia dari kita semua. Dia memanusiakan bangsa Indonesia yang hidup seperti setengah budak di negara tetangga, karena negrinya belum mampu memberikan pekerjaan yang layak.

Teruslah menerobos pak Rusdi Kirana, teruslah mendobrak hambatan-hambatan yang disebabkan kelemahan berfikir dan mental bangsa yang masih belum berfikiran maju, yang “complacent”, yang cepat puas diri dengan keadaannya. Bangsa ini masih membutuhkan Anda. Bagi saya, Andalah orang Indonesia sesungguhnya. 

Jakarta, 24 Juli 2019

 

(Sumber: Facebook Emmy Hafild)

Thursday, August 1, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: