Energi Negatif

ilustrasi
Oleh : Sunardian Wirudono
Di awal tahun ini, SBY bikin pernyataan pers: Salah hitung vaksin, bisa membuat negara chaos. Tantangan 2021, katanya, soal vaksin dan utang yang mencekik, serta masyarakat yang terbelah.
Bekas Presiden dua periode ini, bisa jadi selama AHY belum jadi presiden, bakal uring-uringan terus. Reputasi dua kali terpilih, disamain manusia kerempeng dari Solo. Mongsok jenderal tentara kalah ama tukang bikin kursi?
Jokowi memang bikin pusing kelas menengah-atas. Kok bisa-bisanya jadi Presiden. Dan semua langkahnya, bikin gulung-koming musuh, dan yang dulu mendukungnya. Senyampang itu, kita akan terus sibuk ngomongin apa dan siapa. Demokrasi apa-siapa itu, akan selalu menjadi omong-kosong dan makin tidak relevan.
Karena ukurannya, ternyata, hanya suka dan tak suka. Itu pun dengan frame lebih sempit lagi; sesuai yang kita pikirkan atau tidak. Kalau tidak, apapun no way! Bukannya why not.
Sekali lagi, dan mungkin berkali-kali, saya akan seneng memakai contoh bagaimana Ridwan Saidi dan kawan-kawannya membully Mensos Tris Rismaharini. Betapa dahsyatnya energi negatif. Membuat otak untuk tak sanggup berpikir. Apalagi proporsional.
Pernyataan SBY, tentu saja sangat halu. Pernyataan orang kelamaan duduk. Bukan duduk kerja, tapi duduk sebagai pengangguran. Kalau SBY jadi Basuki Hadimulyono, bisa diduga lagu melow-nya akan berganti lagu-lagu model Iwan Fals. Karena SBY adalah bapaknya AHY, dan sekaligus Ibas, gaya falzetonya bukan di lidah, melainkan di otaknya.
Kinerja pemerintahan Jokowi, dalam masa pandemi dunia ini, oleh kalangan ekonomi internasional banyak dipuji. Soal utang, jika dijelaskan secara rinci, akan ketahuan utang di jaman SBY, jauh lebih gede. Tapi tak ketahuan untuk apa. Sementara, keterpaksaan utang di jaman Jokowi, hal wajar berkait dengan utang-utang pemerintahan sebelumnya. Persoalannya tentu, bagaimana penggunaan utang itu, yang jika salah urus, akan terus jadi beban pemerintahan berikutnya.
Maka itu, Jokowi perlu diawasi. Diingatkan. Syukur bage punya energi positif membantu. Gimana cara agar neraca anggaran kita lebih banyak pendapatan daripada belanja. Minimal berimbang sajalah. Meski pun ada contoh buruk, DKI Jakarta, bagaimana APBD-nya? Tapi dari Wagub hingga penduduknya yang bernama Ridwan Saidi, bisa bilang tidak ada gelandangan di jalan protokol Jakarta! Bagaimana DPRD-nya minta naik gaji dengan proporsionalitas anggaran, bukan profesionalitasnya. Bagaimana Gubernur-nya membayar TGUPP dengan APBD tapi apa kerja dan hasilnya?
Jadi aneh jika kita ngarep semua hasil kerja keras Jokowi doang. Satu Presiden yang ampuh, tak akan ngaruh dengan rakyat yang lebih suka mengeluh. Apalagi jika nggak setuju pada Presiden terus menghasut. Padal kata Bung Karno, rakyat kuat negara kuat. Lha sekarang, mau diajari star-up anak-anak muda, pada tersinggung. ‘Sastra Minggu’ tutup saja, mau migrasi ke ‘sastra online’ males-malesan. Karena nggak ada honornya? Hufs!
Nah, soal utang tadi, otak yang dikuasai energi negatif, akan menyembunyikan warisan utang pemerintahan sebelumnya. Bukan gimana berjuang agar negeri ini menjadi surplus. Karena itu, wajar jika SBY kemudian secara insinuatif mengatakan masyarakat ‘akan’ terbelah’. Tentu saja, terbelah mendukung SBY, Cendana, Megawati, JK, dan lainnya. Tapi pasti ada angka yang bisa disebut. Soeharto yang tukang gebug saja, tidak mutlak 100% didukung. Dia malah banyak dikhianati di akhir kuasanya. Meski tak seterus-terang para pembantu Trump kemarin.
Kalau saya menyodorkan hasil survey kepercayaan publik, atas kepemimpinan nasional berbagai negara di masa pandemi ini, mungkin orang akan ketawa sinis. Saya sih senyum bangga. Karena kepercayaan rakyat Indonesia pada pemimpinnya, Jokowi maksud saya, tertinggi di dunia. Tapi tentu energi negatif akan mengatakan, itu kan hasil polling. Karena tidak menguntungkan diri dan kelompoknya, apapun akan dinegasi. Bukan sesuatu yang heroik.
Sumber : Status Facebook Sunardian Wirudono
Wednesday, January 13, 2021 - 10:45
Kategori Rubrik: