Energi Jokowi

Oleh: Biakto

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa inilah pilpres paling melelahkan lahir batin. Sesungguhnya Indonesia baru 5 kali melaksanakan pilpres, pertama thn 1955, kemudian 2004, 2009, 2014 dan 2019. Pada zaman orba kt anggap tidak ada, karena sejak zaman Soeharto berkuasa sampai dia diturunkan paksa, pemilu cuma dagelan utk melanggengkan dia berkuasa.

Menurunkan paksa Soeharto, kemudian menaikkan Gusdur, dua tahun, lalu digusur, peran AR masih dominan saat itu, lalu memberi hadiah kepada Megawati, tapi pada pemilu 2004 Mega kalah oleh Sby, kita dipimpin dgn gaya orba, barang baru stok lama. Sby adalah produk yg dipoles orba secara summa cum laude. Dia berhasil mengcopy faste gaya Soeharto dgn sedikit polesan asal-asalan. 10 tahun dia berkuasa Indonesia relatif meneruskan orba jilid dua, hanya orangnya yg beda.

 

2014 Jokowi menjadi warna baru utk Indonesia, manusia tempaan bantaran kali ini muncul bak wali. Low profile high profit, dia menabrak pakem yg dipaksa menjadi budaya sejak orba ada. Korupsi yg lama menjadi urat nadi dia beresi, BUMN yg jd petty cash partai dia bantai, pembangunan yg cuma selogan dia jalankan, Jawa sentris dia lebarkan menjadi Indonesia sentris. Namun bak membersihkan kerak gigi yg membatu, gosokannya mengakibatkan gusi berdarah. Untuk menghasilkan gigi putih yg sempurna butuh usaha menggosok berulang, lalu kemudian meratakannya, dan terakhir, mencabut gigi gingsul yg mengganggu, agar Indonesia bisa tersenyum sumringah.

Dengan wajah lelah namun batinnya tetap bergairah, diltengah hantaman caci maki, dia tidak mau menepi, diderai ribuan fitnah dia tetap berjalan gagah, karena dia tidak akan bekerja setengah-setengah. Dia bekerja dgn diam tanpa amarah. Karena dia bukan nasi padang minus rendang, dia menu sempurna makanan nusantara yg punya cita rasa sempurna. Sementara sepotong rendang hanya memanaskan ujung lidah dan meninggalkan selilit daging dicelah gigi yg sudah diputihkan, tapi tidak apa-apa, karena lebih gampang mengurus selilit dicelah gigi daripada membongkar karang gigi yg membatu.

Sekarang kt sdg menyelesaikan pemilu ke 5 ditengah hantaman para perakus kekuasaan, kita berhadapan dgn manusia yg terlalu mapan dalam ketidakbenaran, mereka terlanjur membenarkan yg biasa, bukan membiasakan yg benar. Bahkan cara berkontestasi mereka pakai cara caci maki tanpa henti, saking pengennya kursi istana sampai mereka lupa bhw hitungan suara bukan ujug ujug ada angka 62.

Bung, menghitung itu ada caranya, bukan asal mengejar angka dgn cara rekayasa, yakinlah angka itu data, tdk bisa dibuat pakai katanya penuh rekayasa, membuat orang waras pada ketawa. Oke ya.. Saya apel dulu..

Siapp presiden!!!

Wednesday, April 24, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: