Enemy of My Enemy Is My Friend

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Ketika muslim, fasik dan kafir bisa bekerja sama dan bersatu, kadang penyebabnya karena punya kepentingan bersama.

Namun biasanya kemesraan macam itu tak bisa dipertahankan hanya lewat nyanyian : kemesraan ini jangan lah cepat berlalu.

Justru kemesraan karena kepentingan maca itu malahan cepat sekali berlalu. Karena siapa lawan dan kawan tidak pernah tetap. Selalu berganti posisi setiap saat. Perubahannya bahkan mengikuti perubahan detik-detik yang bergerak cepat.

Pagi masih jadi teman, siangan dikit sudah jadi lawan. Sore jadi musuh, maleman dikit sudah bersanding berdua.

Masih mending kalau cuma bercanda dan main-main saja. Tapi kebnyakan malh bawa-bawa aqidah dan julukan-julukan agama. Sering pula dibawa masuk masjid, pesantren, majelis taklim dan kampus.

Pokoknya saya jengah sekali melihatnya. Kok jadi begini ya. Tatanan kearifan dan kesantunan koyak. Akhlaq luhur jadi luntur.

Kasihan sekali para pengikut di belakangnya kalau diajak ber-roller coaster kayak gitu.

Diajak saling benci, saling hujat, saling laknat, saling sikat. Lucunya dibilang inilah pesta demokrasi, ini wajar, ini untuk bela umat, bla bla.

Aneh sekali dan gak masuk logika akal sehat. Bela umat? Umat yang mana? Bela umat kok caci maki dan nyinyiri sesama umat?

Lebih rancu lagi, yang bukan umat kok malah jadi teman? Yang umat sendiri kok jadi lawan? Apa namanya kalau bukan bela kepentingan. Sekedar berteman dengan lawannya lawan kita?

Pusing . . .

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat LC MA

Sunday, February 3, 2019 - 14:15
Kategori Rubrik: