Enaknya Hidup di Jerman

Oleh: Elde

Tinggal di suatu negara pasti ada suka duka maupun enak dan tidaknya. Tidak terkecuali yang saya rasakan sebagai pendatang yang saat ini bermukim di negara Jerman. Sejak beberapa tahun lalu memutuskan hidup disini, pertimbangan matang sudah saya lakukan. Kehidupan sosial budaya pasti sangat berbeda dan diperlukan mental kuat agar tetap bisa krasan bertahan. Khususnya persiapan masalah bahasa pun sempat saya pelajari sebelumnya lewat kursus beberapa bulan di Jogja. Di negara bagian Bayern, soal bahasa ini memang sangat diprioritaskan. Selain diperlukan untuk berinteraksi dengan masyarakatnya juga sangat penting nantinya buat mencari pekerjaan.

 
Lalu apa enaknya hidup di Jerman? Seperti sudah diketahui, bila di negara maju seperti Jerman masalah pendidikan tidak beda dengan negara lain. Gratis. Secara umum dari setingkat SD sampai Universitas. Selain itu adanya berbagai pelayanan transportasi umum yang nyaman dan biasanya tepat waktu. Orang bisa bepergian kemana saja tinggal memilih yang disukai, bisa dengan kereta api, bis dan tram untuk memulai aktifitas hariannya. Taman hijau dan tempat bersantai bertebaran dimana-mana, untuk menggunakannya pun tidak dipungut biaya. Sebagai area rekreasi kecil keluarga sambil mengumbar anak-anak bermain. Udara juga cukup bersih dari polusi karena minimnya asap yang dihasilkan oleh knalpot kendaraan. Bagi para pengendara sepeda merupakan surga tersendiri disebabkan banyaknya jalur khusus disediakan bagi mereka.

Soal hiburan juga tidak kalah menarik. Setiap musim selalu saja ada festival yang digelar dan menyuguhkan atraksi-atraksi yang tidak bosan untuk dinikmati, apalagi di musim panas. Khusus di München menjelang musim gugur ada pesta rakyat terbesar di dunia yang dikenal dengan sebutan Oktoberfest. Salah satu yang menjadi daya tarik pengunjung seluruh dunia. Selain itu, banyaknya bangunan lawas yang dibuat ratusan tahun lalu dan terawat baik menjadi pemandangan mempesona tersendiri. Untuk cara berpakaian pun bebas selama masih dalam batas wajar. Negara tidak mengatur penduduknya harus memakai pakaian yang sudah ditentukan, khususnya bagi wanita. Diskriminasi gender masalah jabatan pekerjaan maupun hak juga tidak dibedakan dibanding laki-laki.

Walaupun sebagai pendatang apabila memiliki ijin tinggal, hak dan kewajiban tidak beda dengan warganegaranya. Hanya pembedaan pada masalah politik saja yang tidak memiliki hak memilih maupun dipilih. Kewajiban tersebut diantaranya membayar pajak penghasilan, asuransi kesehatan dan yang pasti harus mentaati aturan di negara tersebut. Masalah subsidi dari pemerintah misalnya soal anak, akan mendapat bantuan 190€ perbulan bagi anak pertama dan kedua, selanjutnya anak ketiga sebesar 221€ dan seterusnya. Mengapa subsidi ini diberikan, kemungkinan besar untuk mendorong pertumbuhan kelahiran agar nantinya semakin banyak usia produktif yang bisa menghasilkan pajak bagi negara guna mencukupi kebutuhan para pensiunan.

Sering kali kita mendengar omongan bahwa pengangguran pun digaji oleh pemerintah. Pandangan yang tidak salah tapi juga tidak sepenuhnya benar. Pendapat ini mungkin muncul karena belum mengerti kondisi sesungguhnya. Memang bila kehilangan pekerjaan atau nganggur, ada bantuan dari pemerintah tapi itu juga ada syarat-syaratnya. Misalnya harus minimal kerja 3 tahun sebelumnya dan subsidi diberikan hanya untuk 1 tahun saja. Uang yang didapat sekitar 70% dari gaji bersih tiap bulannya dan  dihitung besarnya 3 bulan gaji terakhir yang diperoleh.

Namun selama menganggur, pemerintah melalui semacam dinas pekerjaan umum akan menawarkan terus menerus tempat kerja dibeberapa perusahaan yang sesuai dengan keahliannya. Tawaran ini harus dicoba dan selanjutnya diwajibkan memberikan laporan, bila menolak pekerjaan yang ditawarkan juga harus memberikan alasan. Selain itu juga si pengangguran diwajibkan berusaha sendiri mencari lowongan kerja dan selanjutnya jg harus melaporkannya. Jadi tidak pasif duduk manis lalu mendapat gaji dari pemerintah. Ada konsekwensi tuntutan yang harus dilakukannya.

Setelah masa 1 tahun berakhir, apabila belum memperoleh pekerjaan, ada aturan lagi untuk bisa mendapatkan subsidi (biasanya lebih kecil) dan bahkan bisa menempati apartemen murah bila memiliki alasan kuat. Namun akan dilihat secara finansial orang yang bersangkutan. Apabila memiliki tabungan cukup atau punya rumah, dianggap tidak memenuhi syarat.  Masalah pekerjaan sebenarnya mudah disini untuk mendapatkannya. Lapangan kerja tersedia dimana-mana, dengan catatan tidak malas dan pilih-pilih sesuai dengan ijasah yang dimiliki. Banyak teman warga disini yang alih profesi juga, karena berbagai alasan salah satunya sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Apabila ganti profesi dan ingin mengikuti pendidikan kejuruan lain untuk mendapatkan ijasah yang diperlukan, pemerintah juga membantu secara finansial hingga selesai masa pendidikannya yang berkisar sekitar 1-2 tahun.

Itulah sebagian dari enaknya hidup di Jerman yang sempat saya catat, tentu saja masih ada hal-hal lain yang terlewatkan. Perhatian pemerintah pada warganya maupun pendatang yang memiliki ijin tinggal tidak dibedakan. Walaupun harus membayar pajak penghasilan dan asuransi kesehatan yang cukup tinggi, tapi layanan yang diberikan tidak mengecewakan. Bagi saya pribadi hidup disini manfaat yang didapat bisa mengubah cara hidup sebelumnya. Dulunya tidak ada disiplin masalah waktu, siang jadi malam atau sebaliknya dan hidup nggugu sakarepe dewe, tapi semenjak disini mengalami banyak perubahan. Disamping bisa menjauhi pergaulan ugal-ugalan, hidup lebih teratur, juga belajar masalah disiplin waktu dan tanggungjawab khususnya setelah memiliki keluarga.

(Sumber: Kompasiana)

Monday, February 22, 2016 - 13:00
Kategori Rubrik: